Ungkapan Mutiara

Kita seperti teko, apa yang dikeluarkan maka seperti itulah di dalamnya. Maka berjanjilah untuk selalu membahagiakan orang lain, karena dengan begitu kita membahagiakan hidup kita sendiri (Rosa Rahmania))

Memberi sebanyak yang kita mampu, lalu kita akan menerima sebanyak yang kita butuhkan! InsyaAllah(Luluk Evi Syukur)

Ide-ide gila, butuh orang gila juga untuk mewujudkan semuanya. Demi bumi dan isinyam, baiklah. (Ana Falasthien Tahta Alfina)

Selagi sabar itu ada dalam diri maka selagi itu juga Allah akan mengujinya dan hanya mereka yang benar-benar sabar dapat dengan mudah mengatasi ujianNya (Luluk Evi Syukur)

Selepas ashar nanti Kutunggu di semenanjung hati, mendawai indahnya pelita, kala pelangi berbagi warna, selepas maghrib nanti, Kutunggu di ujung nadi, lantunkan kalam Illahi, hingga Isya hadir kembali (Khasanah Roudhatul Jannah)

Kawan, ingatlah dengan hidup ini, kadang kesusahan dalam mengarungi takdir membuat hidup kita di akhirat nanti menjadi lebih berkualitas. Dan Jangan lah berlebihan di kehidupan ini, karena takut-takut terasa hambar di akhirat nanti. So, Jadikanlah apapun itu tentang kehidupan, lalu rayakanlah dengan kesyukuran.(Adi Nurseha)

Memoar kehidupan yang tak berujung hingga kematian menjemput. Lantas sudah sampai di mana kisah kehidupan ditorehkan? (Luluk Evi Syukur)

Kau yang masih setia mengulum rindu, Kudendangkan senandung lagu merdu, Sebagai pengobat rindu di dada, Sebagai pelipur segala lara, Tersenyumlah sayang, Rindu ini pun masih terus membayang Untukmu duhai kekasih hati Sambutlah syahdunya nyanyian hati (Khasanah Roudhatul Jannah)

Jaga selalu hatimu (Rosa Rahmania)

Tak semua yang diinginkan dapat terwujud sesuai rencana. Pergi saat indah. Allah pasti punya rencana terindah dibalik semua ini. Hanya itu yang bisa menguatkanku saat ini (Yopi Megasari)
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

Cinta Dalam Hati ( CIDAHA )


Kala cinta datang menggoda
Memanggil dan mengetuk pintu hati
Lalu singgah ke rumah jiwa
Tanpa kata permisi

Hhm... Terdengar begitu syahdu menyentuh kalbu

Namun, jika ini benar cinta
Jangan biarkan cintaku padaMu hilang di hati
Perkenankanlah tuk selalu mencintaiMu sepenuh hati dan ketulusan diri...

Hanya padaMu ya Rabb, cinta hakiki itu berada
Cinta yang mengantarkan keindahan sesungguhnya...

Ya Rabb, berikanlah cinta kepada seorang insan pilihanMu, yang di dalam dirinya selalu ada keinginan dengan tujuan meraih ridhaMu
Insan yg berhiaskan iman dan takwa
Wajah indah berseri karena air wudhu keseharian dirinya
Insan idaman semua wanita shalihah
Cerminan seorang berhati mulia yang selalu terpatri dalam dirinya
Insan berakhlakul karimah perhiasan dunianya
Ilmu yang bermanfaat sebagai jalan menuju syurgaMu
Dan dunia menjadi ladang akhirat baginya untuk mencapai cinta Allah taala...

Kini tabir misteri rasa telah terungkap,
Tapi biarlah ini jadi kepunyaanku saja,
Dalam diam kumenggagumi sosokmu, karna kutau bersamamu hanya ayal tinggiku saja...

Terimakasih ajariku banyak hal tentang hidup dan yakinkanku akan keindahan Islam Mengenalmu adalah sebuah anugrah bagiku,
Karna tanpa kusadari rasa inilah yang menuntunku menemukan jalan terangNya
Dan aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu...

Di dunia yang merana ini, dunia yang nantinya akan binasa, dunia penuh kerakusan dan keserakahan manusia, ternyata masih ada sosok sepertimu...

Aku menyebutmu "My Inspiration"...

14/05/2011
** Hanya sekedar curahan hati saja dan maaf jika kurang layak, hehehe O_*
Oleh: Trie Jojoba (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 15 Mei 2011

Rindu kepada Purnama


Helaan nafas beriring dahaga
Membuat hatiku tersayup bagaikan besi tua
Lelah kaki melangkah di jalan yang terjal
Bersimbah duduk di pelataran rumah suci Tuhan

Terluka dalam gelap gulana
Terombang-ambing oleh ombak setan
Dan terdongkrak oleh ketamakan
Aku mencari tempat persinggahan

Waktu tak main-main
Mata pun sayu dalam dekapan kesunyian
Di tempat yang asing bagi otakku
Aku berjalan tanpa arah melewati setiap lekukan malam

Rumah Tuhan yang kutuju
Mungkin di sana lah bisa kutumpahkan kelelahanku
Namun, tak satu pun rumah Tuhan terbuka
Mungkin Ia murka dengan keputusanku

Langkah kaki tak berhenti
Mencari selisik kebutuhan rohani
Di Rumah Tuhan yang ke empat itu aku berdoa
“Ya Rabb, apa yang harus kulakukan?”

Aku rindu pada purnama
Yang menggelontorkan cintanya untukku
Walaupun malam gelap seakan memakan bayanganku
Namun ia masih setia menemaniku dengan kekuatan cahayanya

Aku rindu pada purnama
Tawa dan candanya membuatku bahagia
Kadang kuberpikir untuk menyerah dalam perjalanan ini
Namun tekad bulatku memberengus semua inginku

Aku rindu pada purnama
Aku pernah berjanji menjadi sang kstaria
Namun pecundang yang sekarang sedang mengangkangi wajahku
Aku kalut dalam dekapan rindu

Wahai purnama
Izinkan sejenak kumeninggalkanmu
Untuk membina hati yang sedang carut marut
Untuk membinasakan jiwa kotor pemberengus jiwa

Wahai purnama
Tetap setialah menantiku hingga batas waktu yang kutuju
Akan kulakukan yang terbaik untukmu
Akan kuberikan kekuatan untuk memandangmu

Wahai purnama
Maafkan aku meninggalkanmu tanpa sepeser katapun
Namun aku yakin kau bijak menemani malam
Dan kau akan berdua denganku di mana pun aku melangkah

* Di tempat pengasingan diri. Puisi ini kupersembahkan untuk orang yang kucintai, dan kru website Nathiq, "Aku bersamamu Kawan!!!, sampai berhentinya nafas yang memisahkan kita"

Oleh: Adi Nurseha Saduki (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Kamis, 05 Mei 2011

Mengenang Perjuanganmu


Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah kejayaan
Berpikir hanya untuk sebuah keberhasilan

Hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajahmu
Semangatmu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu

Kepadamu guruku
Mencintaimu dari hati kami
Jika engkau akan melangkah pergi
Kutau langkahmu penuh pengorbanan

Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 03 Mei 2011

Bintang


Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah menjelma dihadapanku banyak manusiaMu juga
Aku menyebut mereka teman,
Engkau menyusupkan lebih dari itu,
"Mereka bintangku, di langitMu yang luas"

Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah berdiri disampingku beberapa manusiaMu juga
Aku menyebut mereka sahabat,
Engkau meyakinkan tidak sesederhana itu,
"Mereka bukan bintang biasa, tapi telah membentuk rasi. Di langitMu yang luas"

Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah menetap dihatiku sedikit manusiaMu juga
Aku menyebut mereka saudara
Engkau mengajariku sebuah definisi
"Bintang itu telah bergeser di hatiku, membentuk rasi persaudaraan yang tulus, mengalahkan cahaya di langitMu"

Allah,
Hingga aku tidak sesendiri dan sesepi yang aku kira
Karena banyak yang siap berjalan beriringan bersamaku
Dalam pencarian ilmu dan ridhaMu yang Maha Luas
Terima kasih,
Juga kepada seluruh bintang-bintangku.


Oleh: Ana Falasthie Tahta Alfina (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 01 Mei 2011

Berharap dalam Senja Shubuh


Hatiku terkoyak lara
Menghembuskan nafas bara
Dalam lamunan duka sukma
Merasuk jiwa menjadi gulita

Ah… seandainya cacing menjadi belut
Akan kumakan habis tanpa melalui mulut
Namun, apa daya takdir Tuhan kuturut
Laksana jiwa yang terombang-ambing oleh kalut

Aku sadar biru tak selamanya indah
Kadang jingga pun hinggap dipelupuk
Sehingga, wahai hati janganlah gundah
Aku akan berusaha jiwa ini kutepuk-tepuk

Tak ada usaha yang kusombongkan
Jika takdir selalu menguntit di impian
Walau aku tak seberapa kenal Tuhan
Yang pasti aku turuti nasib kehidupan

Tuhan, maafkan aku jika jalur ini yang kutempuh
Aku tahu itu amat terjal dan berliku lumpuh
Aku tak menyerah lemas dan tersungkur
Bahkan aku akan menuruti hati yang bergetar

Aku ingin Dia sumringah girang
Akan kukorbankan cita dan cinta yang gersang
Demi, Dia yang kusayang
Karena aku dan hatinya bersatu riang

Sekarang, aku berharap dalam senja shubuh
Dalam renungan doa yang riuh
Air mataku pun menetes berkeluh kesah
Disambar dengan rongrongan suara ayam yangrusuh

Moga Dia lebih kuat menghadapi kehidupan
Yang gelamor dan penuh simpanan kabut kalut
Aku tak mau gantung diri dalam kelana kesendirian
Jika misiku masih bergelanyut dalam setiap rongga kecut

Enam bulan sudah kubertapa
Sesenggukkan mata yang nestapa
Dan linangan amarah juga meluap
Keduanya membuat kehidupanku laksana atap

Maka, izinkanlah Tuhan
Kuingin menepaki takdirMu dalam sorotan harapan
Yang membuat kami merasa tentram dan nyaman
Sehingga aku bisa leluasa bergurau dengan sandi kehidupan

Sekali lagi Tuhan, Izinkan aku
Aku yakin keputusanMu pasti mempesona khusu
Membuatku berjingkrak riang menjadi hambaMu
Lalu, aku mengarungi dawai hidup yang lugu
Disisa kehidupanku

*Untuk Dia yang sedang Uzlah (Menyendiri) semoga sepi membuatnya manis dan berwibawa menyongsong guratan takdir
Oleh: Adi Nurseha (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 20 April 2011

Aku Yakin Cinta itu Masih Ada


Masa itu mengusikku
Sama seperti yang kau rasakan
Saat itu menjeratku pada sebuah titik
Mengisahkan fenomena yang banyak orang terluka
Aku, kau, dia dan mereka
Bahwa dia memang tidak akan kembali
Ku tawarkan rasa padamu bahkan hingga kini
Ah...
Namun tetap saja sulit bagimu
Rontaan luka itu masih menyayatmu
Dan aku paham dan merasakan itu
Saudariku...
Masih seperti hari-hari kemarin
Kami tetap menunggumu kembali membangun cinta ítu
Dañ aku yakin masih ada cinta dalam lukamu

Note:
Catatan kupersembahkan untuk mereka yang terluka karena goresan saudara dan kerabatnya. Seberapa dalam luka itu, Allah tak akan merubah cintanya selagi kita ingin terus memupuk cinta itu. Seberapa besar rasa benci kita terhadap saudara dan kerabat yang melukai kita tak akan pernah memutus ikatan cinta itu. Saling mendoa, mengingat dan mengasihilah ketika rasa bencí itu datang.

Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 15 April 2011

Kuingin Obati Laramu


Terengah desah nafasmu
Terseok langkah kakimu
Apakah gerangan yang terjadi
Duhai kekasih hati...

Bulir-bulir lembut mulai jatuh
Berderai di antara tetesan peluh
Terbata kau coba ucapkan kata
Seraya menahan perihnya lara...

Kasih... mampukah diri ini...
Sedikit mengobati
Lara yang kini menyiksa
Lara yang membuatmu merana...

Kala tatap matamu kian sayu
Getar rapat bibirmu isyaratkan pilu
Lukiskan perihnya lara
Yang hadir menampar jiwa...

Kini... lunglai tubuhmu kian layu
Terhempas di padang perdu
Gaungmu kembali sepi
Lenyap di telan sunyi...

Kasih... tak kuasa kumenahan duka
Tak kuasa melihatmu terluka
Ijinkan aku berlari memeluk nadi
Membawamu ke negeri tersembunyi...

Kan kuracik ramuan asa
Dengan percikan rahasia cinta
Kan kutaburi benih-benih rindu
Dengan kelembutan kasih nan biru...

Kan kuhapus segala duka
Kan kutepis perihnya lara
Dengan segumpal kasih dalam jiwaku
Kuingin obati laramu...

HK, 10 April 2011
Oleh: Khasanah Roudhotul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 13 April 2011

Kau Bukan Pemenang


Lelah...
Rasa itu yang kurasa di ragaku
Jenuh itu yang hinggap di jiwa
Jiwa dan ragaku melebur dalam hujatan diri

Kau tau kawan...
Ada sosok baru menghantuiku
Aku ingin bercerita banyak padamu
Tentang siapa dia yang jadi tanya hatiku

Bukam kupilih bungkam dalam diam
Lidahku kelu dalam kunci bibirku
Bagaimana kubisa bercerita
Dia masih misteri dengan sejuta tanya dia siapa
Yang begitu ketat mengurungku dalam setiap desah nafasku

Kurayapi sekujur kesepianku
Mengundang angan dan sengat kumbang
Mata bintang yang diam dan berkelesatan
Menyuguhi harapan di semesta lenggang

Sampai kasih dan ingin terbentang
Membujuk pengembara merakah
Yang tenggelam di bawah kubang resah
Di mana dia yang datang sesaat lalu

Membujuk arah pengembara merambah
Terus mewangi aroma bunga cinta sampai ujung hari
Membangkitkan gairah sang pencinta dalam darah
Yang menentangkan kesenyapan sendiri

Dalam batas asa kumengagumi sesok diri membaui
Dan membenamkan dua serpihan bintang
Yang memancarkan pesona terang

Ia selalu memintaku melukiskan kisah yang ada
Atas cinta terperi di dinding-dinding hati
Kami hanyalah para pecinta mengharap sejati
Bersama berkelana dari waktu-kewaktu

Akhirnya kusadari
belum saatnya kuraih cinta asmara
aku belum pantas dicintai
karena kubelum bisa mencintai...

Heyyy kau sosok asing
Loe belum menang sampai detik ini
Aku takkan pernah bisa kau taklukan
Sama seperti ucapmu yang lalu
Takkan ada yang mampu runtuhkan hatimu

Angkuhmu beradu sombongku
Selamat tinggal cerita kita!!!
Sku takkan mengaku kalah dalam permainan rasa
Kau bukan pemenang...

12/04/2011
Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 12 April 2011

Legenda Bunga Bangsa di Negeri Sufi


Selaksa makna yang melegenda
Menjadi acuan para sufi muda
Mencermati gelombang kisah nyata
Di antara jerit tangis yang kian membahana...

Jiwa-jiwa ksatria kian berlomba
Di antara ribuan domba-domba
Telusuri padang rumput di hutan rimba
Berharap mendapatkan mutiara yang lama di damba...

Kabut makin tebal samarkan pandangan
Jerit tangis sehening pegunungan
Tak gentar semangat terus berkobaran
Saat keadilan menjadi santapan kemurkaan...

Binar indah mata kian terpancar
Saat bibir berucap "Allahu Akbar..."
Tumbanglah sudah gedung pencakar
Bunga di taman pun kembali mekar...

Gemuruh di belahan bumi barat telah mereda
Bunga "putri malu" kembali tersenyum manja
Burung camarpun kembali ke suraunya
Tuk menimba ilmu agama...

Langit di negeri para sufi terlihat lebih cerah
Pertanda dunia di sekitarnya penuh berkah
Kemurkaan nampaknya telah punah
Tawa bunga bangsa kembali merekah...

Di sini... di negeri bambu ini
Untaian doa akan selalu mengiringi
Tuk bunga bangsa di negeri sufi
Selalu dalam lindungan Illahi
Robbi...

(Terinspirasi evakuasi Masisir Februari 2011)
Oleh: Khasanah Roudhotul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 10 April 2011

Kelembutan Kasih Biru


Duhai kekasihku...
Selembut mungkin kan kubelai jiwamu
Kan kubawa kau tuk arungi samudera biru
Memindai syahdunya buaian rindu

Bersamamu kukan melaju
Telusuri lembah terjal berbatu
Tiada lagi gundah mendera batinku
Saat jiwamu dan jiwaku khusyuk menyatu

Kelembutan kasih biru
Kan ku hadirkan selalu
Berbahagialah duhai sayangku
Percayalah akan segala niatan suciku

Kan kuhadirkan kembali syahdu cintaku
Kan kuayunkan kembali merdunya asmara qolbu
Kan kuhapus segala keresahan di jiwamu
Hingga musnahlah gumpalan pilu

Sayang...
Seluas hamparan langit yang membentang
Salam santunku padamu kan tertuang
Terciptalah kesejukan baluti jiwa nan gersang

Kelembutan kasih biru
Selembut kasih seorang ibu
Hanya untukmu duhai kekasih hatiku
Percayalah, akan kelembutan kasih biru...

HK, 6 April 2011
Oleh: Khasanah Roudhatul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Sabtu, 09 April 2011

Senja Mengapit Usia


Dalam senja mengapit usia
Rentetan sepi menelusup ke batin tanpa pamit
Takdir Tuhan menelisik dari jarak waktu
Aku kini Tuhan, bukan yang dulu.

Lara terasa di batinku
Inginku bersenda gurau sejenak dalam kehidupanku
Ingin menari dengan burung camar
Atau bermain dengan pelangi yang ramah

Namun kuteronta-ronta dalam kebodohan dan kealpaan
Mati suri dengan kegamangan
Lelap dalam kesenangan liputan nafsu
Dasar, aku memang pecundang kelas kakap

Oh awan, bantulah aku terbang mengitari planet yang sombong ini
Atau bantulah aku mengenal pasir putih di pantai
Bercium mesra dengan lahan dan semakbelukar
Dan terbangun menjadi orang yang kaya

Tuhan, usiaku tak muda lagi
Digerogoti oleh rayap-rayap busuk lalu dimuntahkannya
Usiaku berserekan di mana-mana
Lendir, cairan, dan bau menggambarkan usiaku ini

Badanku yang kuat dulu, mencair dengan kemaksiatan
Ototku yang besar dulu, menciut disantap dedemit kotor
Mataku yang tajam, puntul terisolir gerigi
Apa dayaku saat ini? Masih kah sombong?

Senda gurau yang kubanggakan musnah
Keinginan yang meletup-letup pupus sudah
Rasa kesenangan terkekang dalam ketabuan
Yang ada, usiaku sudah mengapit ke senja

Oleh: Adi Nurseha (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 08 April 2011

Dua Tetesan Berharga


Di sepanjang jalanan menuju kota metropolitan
Debu bertebaran hingga sampah-sampah pun berserakan
Debu itu mengajarkan arti kerasnya kehidupan
Kutemukan seorang bocah kecil terdiam di pingir jalan.

Berpakaian lusuh dan kumal berselimutkan debu-debu jalanan
Matanya tampak lelah, resah, gelisah tanpa arah
Hanya satu kata yang ia dapatkan
“Pasrah” akan satu kenyataan.

Tak lama ia datang menghampiri
Menyodorkan tangannya meminta belas kasihan
Terbayang sesaat bagaimana jika itu adalah diriku
Lalu dua tetesan air mata pun jatuh di pelipis mataku
Dan menegur rasa keangkuhanku.

Tuhan, terima kasih atas tetesan yang pertama
Dan kubersyukur untuk tetesan yang ke dua

[Cairo, 310311]
Oleh: Didi Suardi (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 06 April 2011

Sadarkah Kau Kucintai


Kutasbihkan citamu dalam mimpiku
Dalam dekap doa pada kuasaNYA
Kuingin kita tertawa dan Menangis bersama

Tiba-tiba begitu ingin ku lewati waktu denganmu
Kuingin ada di sampingmu
Untuk selalu bisa berkata?
Berkata "Teruslah mencoba kau pasti bisa"

Saat kau memaksa kakimu untuk tetap berdiri tegak
Kuucapkan "Bangunlah dan jangan dulu menyerah"

Saat kau mencoba berjalan di atas kakimu sendiri
lalu terjatuh
Teriakan
"Sakit itu bukan apa apa,kamu harus tetap berusaha demi mereka yang menyayangimu"

Saat kakimu penuh memar dan biru lebam
karena berulang kali terbentur
Ketika kau berusaha berjalan
Lepaskan tongkat
Dengarkan pekikanku "Jangan pedulikan mereka, karena cintaku tak pernah pedulikan apapun,yang ada padamu,selain hati dan ketulusanmu"

Saat banyak mata memandangmu dengan tatapan tajam
Seolah dirimu mahluk aneh dengan tongkatmu
Ku ingin bilang "Jangan sedih, aku ada di sini untukmu"

Saat seluruh dunia mengacuhkan hadirmu
Kumengatakan "Hapus air matamu, kita bisa hadapi apapun bersama"

Ketika perih menyayat-nyayat hatimu
berbisik "Lepaskan rindumu, karena walau raga berjauhan hatiku dekat denganmu"

Saat hatimu kosong...

Kau pribadi yang menunjukan kedamaian
Sarat akan jutaan makna yang tak mampu kujelaskan
Jiwa yang dipenuhi oleh bias kehangatan

Takkan kujemu dengan kebersamaan denganmu
hatiku takkan letih untuk selalu ada dan terbuka
Kuingin rasakan bahagia dan luka bersama
Dalam kalbu doaku menjagamu

04/04/2011
Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 05 April 2011

Konstelasi Orion


Lalu gulita kembali memeluk langit
Di situ aksi para penghuni angkasa raya dimulai
Bulan menggantikan matahari terjaga
Planet menyebar kesegala penjuru katulistiwa

Kumpulan bintang siap mengambil aba-aba di peraduannya
Terjarak bertahun-tahun kecepatan cahaya
Mereka hanya tinggal membentuk formasi
Kemudian terbaca sebagai konstelasi

Hening
Angin turut andil
Dia lebih memilih memainkan melodi udara sepoi

Sepi
Manusia sebagian terlelap
Sebagiannya lagi disibukkan dunia
Sisanya bermunajat memujiMu

Sunyi
Pandangannya hanya tertuju di satu fokus
Ke arah ketujuh bintang yang familiar
Betapa formasi itu yang begitu berarti?
Jelmaan yang dirindukannya selalu
Mirip dengan karakternya sebagai pemburu
Entah cita
Entah cinta
"Orion"
Terdengar bisiknya lirih

Oleh: Ana Falasthien Tahta Alfina (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Senin, 04 April 2011

Lemah Tak Berdaya


Tuhan, di saat kami bersujud padamu dalam sebuah kamar yang sunyi
Hanya berlapisan sejadah kumal dan kain yang mulai pudar
Dengan tubuh yang mulai rentang
Entah berapa lama lagi kami akan tetap bertahan.

Kami membayangkan, bekal apa yang akan kami siapkan
Walau kami terus bersujud sampai akhir kematian
Dosa-dosa kami tak mungkin terhapuskan
Karena begitu bayaknya dosa yang telah kami lakukan.

Dulu wajah ini kencang dan berseri-seri
Banyak wanita yang tergoda dan tergila-gila padaku
Tapi sekarang mereka sudah mulai meninggalkanku.

Ya tuhan, aku yakin engkau tidak pernah membutuhkan sujudku
Engkau pula tidak pernah memerlukan shalatku
Dan zikirku tidak ada artinya bagiMu
Justru kami yang membutuhkanMu

Oh Tuhan, sampai kapan air mata ini terus mengalir
Dan sampai kapan penyesalan ini akan berakhir
Jika semuanya mampu kutebus dengan air mata ini
Lantas berapa banyak liter air mata yang akan keluarkan.

Kami lemah tak berdaya
Tapi kami sering melupakan dan melalaikan perintahMu.

Ya tuhan, Di saat orang-orang melakukan kemaksiatan
Engkau pun hanya diam
Kadang sesekali memberikan teguran.

Tapi di saat Engkau menyapanya dengan teguran
Semua orang menjerit ketakutan
Tak henti-hentinya air mata terus bercucuran
Seolah tangisan di malam hari menjadi lagu rintihan di malam yang kelam.

Tuhan, berikan kami waktu...

Oleh: Didi Suardi (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 03 April 2011

Tentang Arti Mutiara Persahabatan


Di saat dadaku sesak bergumul debu
Kuberlari terlunta-lunta mendekati sudut bumi
Aku pandangi sampai mataku bernanah
Dan dadaku kian lara

Aku tak suka sepi
Aku pun tak suka lemah
Sehingga, kubertanya kepada bibir pantai
Tentang arti mutiara persahabatan

Desiran ombak dan bergrombolnya buih-buih lucu
Menjawab semua pertentangan hatiku
Tentang arti kebersamaan sang buih-buih
Dan tentang arti keindahan sang desiran ombak

Namun, aku tak puas
Di saat buih-buih bergerombal, menghilang begitu saja dimakan waktu
Dan ombak pun begitu jahat jika membesar melebihi kapasitas
Ah, semakin kalut dan samar lah hatiku

Aku berlari terbirit-birit ke ujung langit
Di sana kumenemui mentari dan rembulan
Mereka hanya diam seribu bahasa
Hanya sinarnya yang melambaikan jawaban kecil

Malam dihiasi rembulan kelembutan
Siang dipandangi mentari yang kasar
Tahu kah Kawan! Mentari dan rembulan kerja sama
Membuat langit begitu ayu nan ramah

Lagi, lagi, dan lagi
Aku tak puas
Saat mataku terpejam, maka rembulan dan mentari menghilang
Padam dan luluh di makan kelopak mata

Akhirnya kutertunduk lemah dipelataran kosong
Tanpa hawa dan tanpa waktu
Merah padam mataku tertuju
Luka hatiku semakin membusuk tentang kegamangan

Kedua lututku pun bersetubuh dengan bumi
Sambil mata menikmati heran kenangan yang lalu
Kumencoba bertanya kepada sisi tubuhku yang terkecil
Wahai hati, jawablah pertanyaanku itu, kumohon!

Ahay, aku mendapat jawaban di sana
Bahwa sahabat adalah kebersamaan
Bukan sepi dan menyendiri
Tak hilang dimakan usia dan lara

Terimakasih wahai Hati!.

Kupersembahkan untuk sahabatku, Muslimin, Ana Falasthin TA, Rosa Rahmania, Yopi Megasari, Luluk Evi Syukur, dan Didi Suardi
Oleh: Adi Nurseha Saduki (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Sabtu, 02 April 2011

Terisolasi pada Ego


Bila ada yang menghalaumu
Benarkah itu jarak?
Bila ada yang menyakitkan
Benarkah itu nasib?
Lalu senyum atau air mata yang mengujiku?
Butuh berbelok menyibak pilihan,
Barangkali?

Aku kian terisolasi
Ah manusia, selalu bercermin pada ego
Dan mengajakku turut serta,
Tega!!!!

Lihat, April mendekat.
Saturnus juga beranjak menemui Bumi
Tidakkah semuanya ingin berevolusi?
Kaupun juga?

Sekali lagi
Aku mengambil resiko
Yang kesekian
Dan lagi
Untuk memilih pilihan
Juga menemani Saturnus menemui Bumi
Biarkan jarak menjadi kalah
Biarkan nasib itu menyerah
Sehingga aku memilih senyum untuk mengujiku

Oleh: Ana Falasthin Tahta Alfina (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 29 Maret 2011

Nak Kau Menginspirasiku


Pagi itu
Dengan baju hitam persis pelayat yang lagi berduka
Melangkah tanpa niat
Bersimpuh di meja menunggu 6 bocah
Para cundi-cundi negri ini
Syafa sang periang
Shanis putri cerdas
Arin si penyamangat
Jihan anak pintar
Husnul siswa pemalu
Emil sang baik hati
Satu persatu menghampiri tanganku lalu menciumnya dengan takzdim
Selanjutnya
Sang penginspirasi muncul dengan tubuh tegapnya sambil terseyum
"Bunda guru, Nafis mau sekolah"
Yah . . .
Anak baruku
Ahlan wasahlan näk

*Untuk semua pendidik. Berbanggalah karena kita orang terpilih untuk menuntun mereka yg ingin hidup dengan pikirannya. Terimalah mereka yang ingin belajar tanpa syarat apapun dan jangan tunda ajakan mereka hingga nanti apalagi besok.

Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Kamis, 24 Maret 2011

Di Kala Emosi Meledak Hebat


Emosiku meledak hebat
Diiringi oleh hembusan yang menganga
Letupan hati berjingkrak-jingkrak
Dadaku sesak tak karuan

Ingin rasanya kuteriak setengah mati
Agar lepas semua belenggu yang menyiksa
Apakah itu obat yang mujarab
Atau kubiarkan saja hatiku bermain seperti ini

Andai saja kubisa meramal
Pastilah semua ini tak akan terjadi
Nyatanya ledakan emosiku tak terjaga
Merah, api, dan bergejolak

Aku tau, tak pantas kuberlaku demikian
Aku pun tau, tak sewajarnya kudemikian
Namun, hatiku menyuruh demikian
Dan mulut pun menyetujuinya

Air mata kering nampak dipelipis alis
Berusaha menjebol kejantananku
Aku tak layak menangis
Masih ada seribu otakku yang bekerja

Ya Rabb… apakah betul tindakanku
Ya Rabb… ampuni aku bila salah
Ya Rabb… aku hanya mencoba berusaha
Ya Rabb… kuatkan hatiku yang telah lunglai ini

Kubiarkan sang waktu menuntunku
Dan kucoba pejamkan hati untuk merasa
Agar tak ada lagi yang bergejolak
Sehingga rasa tenang sedikit menyapa

Oleh: Adi Nurseha (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 20 Maret 2011

Tangisan Akhir Februari


Haruskah kubiarkan takdir itu menulisku
Kemanapun ia suka dan kemanapun ia berhenti
Gamang jiwaku
Tulislah aku menjadi, hingga keluar dari kesunyiaan ini

Hujan malam akhir februari
Di atas duka yang sedang ranum
Kutuangkan kemabukan, berharap basuh luka lara bersamanya
Tangisan dalam derai hujan basah
Takkan ada yang tau kecuali aku dan Tuhan

Izinkan Tuhan aku mabuk
Hingga kudapati Kau dalam hilang sadar yang mengambang
Sebab jua aku menunggu berjuta pinta
Tak juga kudengar jawab atas tanyaku

Izinkan Tuhan aku membencimu
Hingga kusadari Kau menjadi sebentuk cinta
Kejarlah aku
Kepada perhentian tanpa upah

Aku lelah Tuhan
Kubiarkan hujan basah kunyupkan ragaku
Alirkan tangis jerit jiwaku
Hilangkan gamang pupuskan resah
Aku tak berdaya tanpaMU yang Maha

Jasad dan ragamu teman
Masih bernyawa dan bernafas
Kuhanya mampu berbagi doa
Tuhan tiada mengantuk dan tiada tidur
Takkan ada pinta sia sia

Betapapun inginku kita bermain di bawah hujan
Seperti masa kecil dulu
Tapi gilas roda waktu tak pernah peduli
Kini kau terbaring lemah tiada daya
Aku bermain sendiri bersama tangisan kepiluan ini
Aku masih sama seperti dulu
Ada mata dan hatiku
Kau tetap teman yang sempat ikut warnai hari kecilku

18/03/2011
Inspirasi menjenguk teman yang terponis lumpuh akibat kecelakaan, dia yatim, ah betapa takdir kadang sulit kutanya adilnya, tapi kuyakin perhitungNya tiada pernah salam, semoga Tuhan beri keajaiban untukmu teman, amien.

Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......
Photobucket
 

Karya Tulis

Refleksi 02 Mei 2011

Ini hanya bagiku, entah bagi yang lainnya. Setiap hari orang-orang science mempelajari banyak simbol, dari alfabet hingga numerik atau beragam bentuk yang memang sengaja diciptakan sedemikian rupa. Aku tahu simbol-simbol tersebut sengaja diciptakan untuk

Kisah Kehidupan

Demi Sebuah Amanah

Telah lama aku berdiri di sini, di antara keramaian dan hiruk-pikuk terminal Pulo Gadung. Namun tak satupun bus antar kota yang mau berhenti dan membawaku meninggalkan kebisingan ini. Hampir satu jam lebih aku di sini, tapi semua bus antar kota nampaknya penuh semua.

Sastra

Cinta Dalam Hati ( CIDAHA )

Kala cinta datang menggoda Memanggil dan mengetuk pintu hati Lalu singgah ke rumah jiwa Tanpa kata permisi Hhm... Terdengar begitu syahdu menyentuh kalbu Namun, jika ini benar cinta Jangan biarkan cintaku padaMu hilang di hati Perkenankanlah tuk selalu mencintaiMu

© 3 Columns Newspaper Copyright by Website Nathiq | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks