Ungkapan Mutiara

Kita seperti teko, apa yang dikeluarkan maka seperti itulah di dalamnya. Maka berjanjilah untuk selalu membahagiakan orang lain, karena dengan begitu kita membahagiakan hidup kita sendiri (Rosa Rahmania))

Memberi sebanyak yang kita mampu, lalu kita akan menerima sebanyak yang kita butuhkan! InsyaAllah(Luluk Evi Syukur)

Ide-ide gila, butuh orang gila juga untuk mewujudkan semuanya. Demi bumi dan isinyam, baiklah. (Ana Falasthien Tahta Alfina)

Selagi sabar itu ada dalam diri maka selagi itu juga Allah akan mengujinya dan hanya mereka yang benar-benar sabar dapat dengan mudah mengatasi ujianNya (Luluk Evi Syukur)

Selepas ashar nanti Kutunggu di semenanjung hati, mendawai indahnya pelita, kala pelangi berbagi warna, selepas maghrib nanti, Kutunggu di ujung nadi, lantunkan kalam Illahi, hingga Isya hadir kembali (Khasanah Roudhatul Jannah)

Kawan, ingatlah dengan hidup ini, kadang kesusahan dalam mengarungi takdir membuat hidup kita di akhirat nanti menjadi lebih berkualitas. Dan Jangan lah berlebihan di kehidupan ini, karena takut-takut terasa hambar di akhirat nanti. So, Jadikanlah apapun itu tentang kehidupan, lalu rayakanlah dengan kesyukuran.(Adi Nurseha)

Memoar kehidupan yang tak berujung hingga kematian menjemput. Lantas sudah sampai di mana kisah kehidupan ditorehkan? (Luluk Evi Syukur)

Kau yang masih setia mengulum rindu, Kudendangkan senandung lagu merdu, Sebagai pengobat rindu di dada, Sebagai pelipur segala lara, Tersenyumlah sayang, Rindu ini pun masih terus membayang Untukmu duhai kekasih hati Sambutlah syahdunya nyanyian hati (Khasanah Roudhatul Jannah)

Jaga selalu hatimu (Rosa Rahmania)

Tak semua yang diinginkan dapat terwujud sesuai rencana. Pergi saat indah. Allah pasti punya rencana terindah dibalik semua ini. Hanya itu yang bisa menguatkanku saat ini (Yopi Megasari)
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

Cinta Dalam Hati ( CIDAHA )


Kala cinta datang menggoda
Memanggil dan mengetuk pintu hati
Lalu singgah ke rumah jiwa
Tanpa kata permisi

Hhm... Terdengar begitu syahdu menyentuh kalbu

Namun, jika ini benar cinta
Jangan biarkan cintaku padaMu hilang di hati
Perkenankanlah tuk selalu mencintaiMu sepenuh hati dan ketulusan diri...

Hanya padaMu ya Rabb, cinta hakiki itu berada
Cinta yang mengantarkan keindahan sesungguhnya...

Ya Rabb, berikanlah cinta kepada seorang insan pilihanMu, yang di dalam dirinya selalu ada keinginan dengan tujuan meraih ridhaMu
Insan yg berhiaskan iman dan takwa
Wajah indah berseri karena air wudhu keseharian dirinya
Insan idaman semua wanita shalihah
Cerminan seorang berhati mulia yang selalu terpatri dalam dirinya
Insan berakhlakul karimah perhiasan dunianya
Ilmu yang bermanfaat sebagai jalan menuju syurgaMu
Dan dunia menjadi ladang akhirat baginya untuk mencapai cinta Allah taala...

Kini tabir misteri rasa telah terungkap,
Tapi biarlah ini jadi kepunyaanku saja,
Dalam diam kumenggagumi sosokmu, karna kutau bersamamu hanya ayal tinggiku saja...

Terimakasih ajariku banyak hal tentang hidup dan yakinkanku akan keindahan Islam Mengenalmu adalah sebuah anugrah bagiku,
Karna tanpa kusadari rasa inilah yang menuntunku menemukan jalan terangNya
Dan aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu...

Di dunia yang merana ini, dunia yang nantinya akan binasa, dunia penuh kerakusan dan keserakahan manusia, ternyata masih ada sosok sepertimu...

Aku menyebutmu "My Inspiration"...

14/05/2011
** Hanya sekedar curahan hati saja dan maaf jika kurang layak, hehehe O_*
Oleh: Trie Jojoba (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 15 Mei 2011

Rindu kepada Purnama


Helaan nafas beriring dahaga
Membuat hatiku tersayup bagaikan besi tua
Lelah kaki melangkah di jalan yang terjal
Bersimbah duduk di pelataran rumah suci Tuhan

Terluka dalam gelap gulana
Terombang-ambing oleh ombak setan
Dan terdongkrak oleh ketamakan
Aku mencari tempat persinggahan

Waktu tak main-main
Mata pun sayu dalam dekapan kesunyian
Di tempat yang asing bagi otakku
Aku berjalan tanpa arah melewati setiap lekukan malam

Rumah Tuhan yang kutuju
Mungkin di sana lah bisa kutumpahkan kelelahanku
Namun, tak satu pun rumah Tuhan terbuka
Mungkin Ia murka dengan keputusanku

Langkah kaki tak berhenti
Mencari selisik kebutuhan rohani
Di Rumah Tuhan yang ke empat itu aku berdoa
“Ya Rabb, apa yang harus kulakukan?”

Aku rindu pada purnama
Yang menggelontorkan cintanya untukku
Walaupun malam gelap seakan memakan bayanganku
Namun ia masih setia menemaniku dengan kekuatan cahayanya

Aku rindu pada purnama
Tawa dan candanya membuatku bahagia
Kadang kuberpikir untuk menyerah dalam perjalanan ini
Namun tekad bulatku memberengus semua inginku

Aku rindu pada purnama
Aku pernah berjanji menjadi sang kstaria
Namun pecundang yang sekarang sedang mengangkangi wajahku
Aku kalut dalam dekapan rindu

Wahai purnama
Izinkan sejenak kumeninggalkanmu
Untuk membina hati yang sedang carut marut
Untuk membinasakan jiwa kotor pemberengus jiwa

Wahai purnama
Tetap setialah menantiku hingga batas waktu yang kutuju
Akan kulakukan yang terbaik untukmu
Akan kuberikan kekuatan untuk memandangmu

Wahai purnama
Maafkan aku meninggalkanmu tanpa sepeser katapun
Namun aku yakin kau bijak menemani malam
Dan kau akan berdua denganku di mana pun aku melangkah

* Di tempat pengasingan diri. Puisi ini kupersembahkan untuk orang yang kucintai, dan kru website Nathiq, "Aku bersamamu Kawan!!!, sampai berhentinya nafas yang memisahkan kita"

Oleh: Adi Nurseha Saduki (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Kamis, 05 Mei 2011

Mengenang Perjuanganmu


Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah kejayaan
Berpikir hanya untuk sebuah keberhasilan

Hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajahmu
Semangatmu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu

Kepadamu guruku
Mencintaimu dari hati kami
Jika engkau akan melangkah pergi
Kutau langkahmu penuh pengorbanan

Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 03 Mei 2011

Bintang


Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah menjelma dihadapanku banyak manusiaMu juga
Aku menyebut mereka teman,
Engkau menyusupkan lebih dari itu,
"Mereka bintangku, di langitMu yang luas"

Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah berdiri disampingku beberapa manusiaMu juga
Aku menyebut mereka sahabat,
Engkau meyakinkan tidak sesederhana itu,
"Mereka bukan bintang biasa, tapi telah membentuk rasi. Di langitMu yang luas"

Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah menetap dihatiku sedikit manusiaMu juga
Aku menyebut mereka saudara
Engkau mengajariku sebuah definisi
"Bintang itu telah bergeser di hatiku, membentuk rasi persaudaraan yang tulus, mengalahkan cahaya di langitMu"

Allah,
Hingga aku tidak sesendiri dan sesepi yang aku kira
Karena banyak yang siap berjalan beriringan bersamaku
Dalam pencarian ilmu dan ridhaMu yang Maha Luas
Terima kasih,
Juga kepada seluruh bintang-bintangku.


Oleh: Ana Falasthie Tahta Alfina (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Senin, 02 Mei 2011

Hacktivis dan Aktivis Sholehah


Berawal dari chatting di Facebook kedua insan ini saling mengenal satu sama lain. Mereka di pertemukan karena hobinya yang sama. Sama-sama suka menulis, satu suka menulis artikel, satu lagi suka menulis puisi.

Seperti biasanya orang yang pertama kali berkenalan pasti menyebutkan nama masing-masing, tempat tinggal, kemudian pendidikan/pekerjaannya bagaimana. Begitu juga dengan mereka, satu hal yang bisa terus membuat mereka semakin akrab yaitu hobinya yang sama-sama suka menulis.

Komunikasipun terus berlanjut, yang awalnya cuma tanya-tanya saja, kini mereka sudah mulai membuka masalah dirinya masing-masing. Bisa dikatakan juga mereka selalu curhat satu sama lain. Akan tetapi lebih sering membuka dirinya adalah si pria. Entah kenapa, biasanya kan wanita yang selalu membuka diri (apa adanya katanya)?

Mungkin umur yang menjadi salah satu faktornya, maklum si wanita lebih tua setahun dari si pria. Akibat dari organisasi Kampus si
wanita yang diikutinya mungkin bisa dikatakan ia lebih dewasa dari pria itu. Organisasi yang mendidik si wanita supaya tidak bersikap kekanak-kanakan dan harus bisa menghadapi semua permasalahan secara professional.

Sedangkan si pria hobinya hanya bisa bermain-main menjelajahi dunia maya dengan komputer miliknya. Bahkan sangat jarang sekali pria itu berinteraksi dengan perempuan, apalagi sampai curhat-curhatan segala. Sepertinya tidak mungkin hal itu terjadi dengan sikapnya yang kasar dan tidak terlalu mengenal akan perasaan orang lain. Apalagi perasaan seorang
wanita yang sejak duduk di bangku SMK tidak bisa mengenal lebih dekat. (SMK = Cowo kabehhhhh)

Kalau dipikir-pikir sebenarnya kondisi mereka bertolak belakang. Mengingat
si wanita yang selalu lemah lembut kepada orang lain, selalu baik hati, dan tentunya “Be smart and beautifully”. Apalagi ia bisa dikatakan sebagai aktivis kampus, pandai bicaranya dan mempunyai nilai idealisme yang sangat kuat di dalam dirinya. Terutama komitmen terhadap agama yang di pegangnya. Ia mengikuti organisasi-organisasi kampus yang tidak keluar dari kata “ISLAM” sebagai pedomannya.

Dia sangat shalihah dan rajin beribadah, kerudungnya juga bukan kerudung biasa, ia mengulurkan kerudungnya sampai menutupi bagian dada dan hampir kerudung yang dikenakannya menutupi bagian perut.

Boleh dikatakan si
wanita itu adalah seorang aktivis Islam yang shalihah dan cerdik, beda jauh dengan si pria yang hobinya itu berada di dunia Underground. Bukan di dunia anak Punk maupun Metal yang digelutinya. Tapi dunia bawah tanah yang ada di jagat maya.

Bisa dikatakan tidak terlalu jelek hobinya itu, Cuma paradigma dari masyarakat saja yang membuat citra hobinya itu di pandang negative. Padahal kalau kita melihatnya dengan ilmu pengetahuan dan akal yang sehat. Apalagi dibarengi ilmu sejarah teknologinya yang kuat, maka kita dapat menemukan bahwa yang ia geluti itu sebenarnya adalah sesuatu yang istimewa yang keberadaannya itu berada di kalangan penyelamat dan bukan perusak.

Dikarenakan kebanyakan dari kejahatan dunia maya (cyber crime) yang selalu diidentikan dengan kata “HACKER”, jadilah kata itu juga ikut tercoreng. Padahal nyatanya tidak demikian kalau kita mau tahu lebih dalam lagi.

Jelas sekarang kedua insan ini memiliki karakter yang berbeda dan sangat bertolak belakang. Lantas apa yang membuat keduanya menjadi semakin akrab saja dari hari ke harinya?

1. Sama Hobi Menulis

Sejak duduk di bangku SMK kelas 2, si pria memang sudah memulai hobi menulis. Diawali dari karya ilmiyah yang ia buat untuk menutupi Absen Bahasa Indonesia yang kosong. Waktu itu ia menulis “Penanganan Masalah Virus Komputer”. Kemudian juga sempat ingin menulis Novel tentang perjalanan hidupnya, namun entah ke mana tulisannya yang sudah memenuhi satu buku tulis tiba-tiba hilang.

Pernah juga menulis tentang cinta. Dikarenakan melihat teman dekatnya yang menyalahartikan cinta di kehidupan yang sedang dijalaninya. Hingga terus berlanjut sampai sekarang ia suka menulis artikel tentang kehidupan dan juga menulis artikel-artikel komputer yang menjadi salah satu hobi pokoknya.

Sedangkan si
wanita hobinya itu suka menulis puisi. Ia sangat pandai dalam merangkai kata-kata untuk puisinya. Bahkan oleh teman-temannya dijuluki sebagai “Sang Pujangga”. Bagaimana tidak, setiap obrolannya tidak terlepas dari rangkaian kata-kata yang mangandung unsur kalimat puisi di dalamnya. Setiap SMS-an mengandung puisi dan ketika chatting pun selalu menulis kata-kata yang sangat puitis.

Bahkan si
wanita itu pernah mengajak si pria untuk menulis puisi bareng ketika chatting di facebook. Pertama si wanita yang memulai chatting menggunakan kata-kata yang puitis, kemudian dibalas juga oleh si pria menggunakan kata-kata yang puitis pula. Hingga terus berlanjut saling membalas satu sama lain sehingga terciptalah satu buah puisi yang mereka rangkai secara bersamaan dengan saling membalas chat.

Dari situlah mungkin keakraban mereka terbangun karena sama-sama hobi menulis. Kadang juga mereka suka saling menukar tulisannya untuk melengkapi satu sama lain.

2. Sama Support Terhadap Islam

Walaupun si pria hobinya di dunia underground, tapi tetap hati kecilnya ia berteriak untuk Islam. Mengingat masa lalunya ia sering disebut-sebut pak ustadz oleh teman dekatnya.

Ketika di kampung halamannya ia pernah mendirikan remaja Masjid dan ia juga menjadi ketuanya. Padahal sebelumnya belum pernah ada yang namanya remaja Masjid di daerah tempat tinggalnya itu. Bisa dikatakan ia menjadi seorang pelopor, ia rubah keadaan anak-anak yang ada di lingkungannya dengan organisasi yang di bawahnya itu. Ia selalu mangadakan acara tadabbur alam, lomba-lomba islami seperti lomba adzan, ceramah, cerdas cermat dan ia juga tentunya mengajar anak-anak yang di bawah umurnya untuk belajar mengaji. Itu semua dilakukannya untuk membawa teman-temannya supaya lebih sadar akan keislaman yang tertaman dalam dirinya.

Di sekolahpun begitu, secara tidak sengaja ia terpilih menjadi ketua Rohis (FSDU saat itu, “Forum Study Darul Ulum”). Alasannya cukup simple, guru agama yang menjadi Pembina Rohis di sekolahnya pernah menawarkan kepada ia dengan nada main-main ketika ia duduk di bangku kelas satu. Waktu itu ia dapati nilai kosong di pelajaran Agama. Guru Agamanya bilang, “Sok siapa yang hafal surat Yaasin, ibu tutup absennya dengan nilai 8?” si pria itu juga tahu kalau gurunya itu hanya bercanda, mungkin dipikirnya anak-anak SMK tidak bakalan mungkin ada yang hafal Surat Yaasiin.

Tapi kebetulan ketika di kampung halamannya si pria pernah hafalan Yaasiin dan sampai saat di tanya gurunya masih hafal dengan lancar. Dengan nada berani ia juga menerima tantangan gurunya itu ; “Oke siap, saya coba terima tawaran Ibu”.

Eh ternyata apa coba yang terjadi? “Bentar ya! Ibu ambil Al-Qur’an dulu ke ruang Guru”. Dikira ibu guru itu hafal juga Surat Yaasiin, tapi ternyata tidak hafal sepenuhnya. Sampai-sampai di wajahnya juga terpancar rasa malu, yang tadinya hanya sekedar main-main ternyata si pria itu memang benar hafal dengan lancarnya ketika ditalar oleh si ibu Guru itu. Jelaslah ini semua dapat mencengangkan si ibu Guru. Karena itulah kemudian si pria itu ditunjuk menjadi Ketua Rohis di sekolahnya.

Si wanita juga sama, ikut Rohis di sekolahnya. Sampai ke bangku kuliah pun ia mengikuti organisasi-organisasi keIslaman. Dari mulai LDK dan organisasi kampus lainnya yang ia senangi. Tidak hanya di Instansi Pendidikan ia seperti itu (mengikuti organisasi-organisasi keIslaman), di kehidupan sehari-haripun ia selalu begitu. Sampai saat ini ia suka mengaji, mengajar anak-anak dan berbagai aktivitas lain yang tentunya sangat bermanfaat bagi lingkungan yang ada di sekitarnya.

Akan tetapi si pria tidak demikian sekarang. Kebiasaan hidupnya tidak sama seperti dahulu dan tidak menyerupai kehidupan yang di jalani si
wanita sekarang. Maklum pergaulan anak muda, mau tidak mau secara perlahan pasti terbawa arus zaman dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Tentunya kita mengenal lingkungan anak-anak SMK tidak terlepas dari citranya yang negative. Siswa SMK lebih arogan dan anarkis, begitu juga dengan si pria itu.

Tapi kenapa sampai saat ini keduanya masih saja akrab di dunia maya bak seorang teman yang saling memahami satu sama lain. Walaupun hanya sekedar chat/SMSan belaka?

Alasannya cukup sederhana, pria itu ingin kembali ke kehidupannya yang dulu dengan bantuan
wanita itu. Karena pria itu merasa hanya wanita itu yang mampu memotivasi kesadaran dirinya untuk kembali ke kehidupan dahulu yang lebih baik dari sekarang. Melihat karakteristik wanita itu yang tepat dengan pola kehidupannya seperti dulu, apalagi wanita itu lebih dewasa dan lebih tua umurnya di banding si pria yang hanya beda satu tahun saja. Sampai si pria bilang ke wanita itu dengan sebutan “TETEHKU”.

Dengan kedua alasan di atas menjadikan keduanya semakin akrab dan saling mengerti satu sama lain. Walaupun kalau dilihat kenyataannya sebenarnya lebih dominan si pria yang lebih membutuhkan
wanita itu. Karena sama-sama suka menulis si pria pun memberikan perhatiannya kepada wanita itu dengan membuatkannya sebuah blog untuk menampung tulisan/puisi yang di tulis si wanita.

Komunikasipun terus berlanjut hingga berbulan-bulan. Namun tak selamanya komunikasi mereka berjalan dengan lancar. Pasti ada satu atau dua kejadian yang membuat keduanya menjadi saling menjauhi satu sama lain (miss kommunication).

Sebagai contoh, pernah dulu ketika si pria berkata, “Wanita muna" ke
wanita itu yang sampai-sampai si wanita marah dan tidak mau lagi berkomunikasi dengannya. Padahal si pria hanya bercanda, akan tetapi anggapan si wanita beda lagi. Bebarapa hari, entah seminggu mereka tidak berkomunikasi. Si pria pun berusaha untuk meminta maaf dengan berbagai macam cara. Ia banyak tanya ke teman deket si wanita yang melalui facebook juga mengenai karakteristik wanita itu bagaimana. Alasannya agar si pria bisa mengambil sikap dalam berkata-kata supaya tidak membuat si wanita tersinggung.

Ternyata
wanita itu sangat peka terhadap perasaannya, sedikit saja tergores hatinya maka akan sulit untuk terobati. Kini baru sadar kalau pria itu harus berhati-hati dalam berkata terhadap seorang perempuan dan ia pun berjanji pada dirinya sendiri supaya tidak akan lagi bersikap kasar terhadap seorang wanita. Begitu juga sikap yang diambil kepada wanita itu. Si pria meminta maaf kepada si wanita dan berjanji tidak akan pernah lagi kasar terhadapnya.

Komunikasipun terus berjalan dan kembali normal seperti biasanya. Si pria bersikap lebih hati-hati sekarang karena takut keceplosan lagi berkata-kata yang membuat hati si
wanita teriris. Hingga suata hari sudah saatnya mereka untuk saling mengenal lebih dekat lagi. Ada satu harapan di antara mereka jikalau mereka berteman tidak hanya sekedar di dunia maya, akan tetapi terealisasi di dunia nyata juga.

Di saat keduanya libur kuliah, mereka mempunyai kesepakatan untuk bisa bertemu secara langsung, cuma si
wanita meminta tidak hanya dia seorang untuk bertemu si pria. Si wanita meminta teman-temannya untuk bisa diajak ikut bertatap muka langsung. Dengan kesepakatan si wanita bawa 3 orang temannya dan si pria sendirian akhirnya mereka pun mengisi liburan kuliah di Bazar Buku Nasional yang diadakan di kota Bogor.

Mungkin disebabkan di dunia maya mereka sudah saling akrab, di dunia nyatapun demikian. Berjalan-jalan mereka mengelilingi bazar itu bersamaan, saling canda dan tawa, keceriaan menghampiri mereka sambil melihat-lihat koleksi buku-buku terbagus dan best seller. Diharapkan mereka juga bisa menulis buku layaknya seorang penulis yang sudah diterbitkan bukunya di bazar itu.

Ketika rasa lelah sudah menghampiri mereka, mereka pun sepakat untuk beristirahat sejenak sekalian menunaikan shalat Dzuhur di Masjid tidak jauh dari tempat bazar digelar. Pertama si
wanita lebih dulu mengambil air wudhu, ketika keluar dari kamar mandi dilihatnya wanita itu dengan wajah yang begitu bersinar memancarkan keceriaan dan wajah yang penuh semangat di iringi senyuman yang begitu menarik perhatian bagi siapa saja yang melihatnya bak bidadari yang turun dari khayangan.

Sejenak si pria menyaksikan pemandangan itu dengan hati sedikit bergetar. Mungkinkah ini yang dimaksud sebagai getaran cinta pada pandangan pertama? “Astagfirullah.....!” sambil mengusap mukanya pria itu lalu bergegas pergi mengambil air wudhu.


*Kelanjutannya bagaimana ya?
Apa mungkin si pria benar-benar jatuh cinta kepada si
wanita? Bagaimana dengan sikap si wanita yang memandang si pria hanya sebatas adik kelas yang butuh bimbingan belaka untuk menjadi lebih baik. Jikalau si pria menyatakan cintanya kepada si wanita apakah si wanita akan menerimanya?

Dapatkan kisah selengkapnya dalam acara Launching Novel yang belum ada judul ini di Tahun 2012. Siapa tahu keburu kiamat jadi tidak kesampaian launcingnya.....hehehe

Nb : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tokoh atau kejadian mungkin hanya sekedar kebetulan belaka.

Oleh: Mamat Munandar (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 01 Mei 2011

Berharap dalam Senja Shubuh


Hatiku terkoyak lara
Menghembuskan nafas bara
Dalam lamunan duka sukma
Merasuk jiwa menjadi gulita

Ah… seandainya cacing menjadi belut
Akan kumakan habis tanpa melalui mulut
Namun, apa daya takdir Tuhan kuturut
Laksana jiwa yang terombang-ambing oleh kalut

Aku sadar biru tak selamanya indah
Kadang jingga pun hinggap dipelupuk
Sehingga, wahai hati janganlah gundah
Aku akan berusaha jiwa ini kutepuk-tepuk

Tak ada usaha yang kusombongkan
Jika takdir selalu menguntit di impian
Walau aku tak seberapa kenal Tuhan
Yang pasti aku turuti nasib kehidupan

Tuhan, maafkan aku jika jalur ini yang kutempuh
Aku tahu itu amat terjal dan berliku lumpuh
Aku tak menyerah lemas dan tersungkur
Bahkan aku akan menuruti hati yang bergetar

Aku ingin Dia sumringah girang
Akan kukorbankan cita dan cinta yang gersang
Demi, Dia yang kusayang
Karena aku dan hatinya bersatu riang

Sekarang, aku berharap dalam senja shubuh
Dalam renungan doa yang riuh
Air mataku pun menetes berkeluh kesah
Disambar dengan rongrongan suara ayam yangrusuh

Moga Dia lebih kuat menghadapi kehidupan
Yang gelamor dan penuh simpanan kabut kalut
Aku tak mau gantung diri dalam kelana kesendirian
Jika misiku masih bergelanyut dalam setiap rongga kecut

Enam bulan sudah kubertapa
Sesenggukkan mata yang nestapa
Dan linangan amarah juga meluap
Keduanya membuat kehidupanku laksana atap

Maka, izinkanlah Tuhan
Kuingin menepaki takdirMu dalam sorotan harapan
Yang membuat kami merasa tentram dan nyaman
Sehingga aku bisa leluasa bergurau dengan sandi kehidupan

Sekali lagi Tuhan, Izinkan aku
Aku yakin keputusanMu pasti mempesona khusu
Membuatku berjingkrak riang menjadi hambaMu
Lalu, aku mengarungi dawai hidup yang lugu
Disisa kehidupanku

*Untuk Dia yang sedang Uzlah (Menyendiri) semoga sepi membuatnya manis dan berwibawa menyongsong guratan takdir
Oleh: Adi Nurseha (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Kamis, 28 April 2011

Kesiapan itu Harus Dilatih


Rabu, 27 April 2010. 11:12 AM

“Saya tidak mengatakan ini salah, saya pun juga tidak menyalahkanmu, hanya saja ini tidak tepat. Saya hanya butuh waktu. Bersabarlah sejenak!!! Jika memang dirasa sudah tidak sanggup, ikhlaskan saja semuanya, ini bagian dari kisah kehidupan yang harus disyukuri. Namun jika dirasa sanggup 'MONGGO', sekali lagi ikatan ini bukanlah ikatan yang disyahkan jadi sewatu-waktu jika mau mundur silahkan dan ikhlaskan” Send Muslih.

Penggalan SMS yang saya layangkan untuk seseorang yang selama 5 tahun ini menunggu saya membuat saya berpikir berulang kali pagi ini untuk mengirimnya. Tepatnya semenjak 2005 silam, dia mencoba mengajak saya untuk menjalani hubungan yang menurut saya tidak jelas statusnya. Waktu itu saya hanya menawarkan dia untuk mendatangi langsung orang tua saya dan dia mengiyakan itu. Persis seperti yang dia katakan pada saya bahwa katanya dia tertarik pada saya dan kelak akan menikahi saya, begitu juga dengan apa yang dia katakan pada Bapak dan Ibu saya satu bulan setelah dia menerima tantangan saya.

“Biarkanlah berjalan apa adanya, maaf saya masih belum siap jika saat ini harus menikah” Ujar saya 3 tahun lalu saat dia mencoba untuk mengajak nikah.

“Beri aku alasan konkrit Din kenapa belum siap?” Tanyanya

“Hmmmm… entahlah hanya saja saya belum siap untuk meninggalkan orang tua saya begitu cepat sedang saya belum melakukan sesuatu yang membuat Bapak-Ibu bahagia” Saya yakin ini alasan paling jitu untuk membuatnya diam bertanya.

“Setelah menikah aku gak akan menghalangimu untuk mencapai rencana hidupmu dan aku juga gak akan menghalangimu untuk meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi”

“Mus…. Saya mohon beri saya waktu. Jika kamu sabar insya Allah saya gak akan ke mana” Saya memang selalu cerdas untuk membuatnya diam. ^_^

Terakhir kalinya dia mengajak saya menikah 3 tahun lalu, awal tahun 2009. Hampir setiap bulan setelah proses menyatakan sukanya tahun 2005 pertengah bulan, dia selalu menanyakan kesiapan saya menikah dengannya, dan kadang saya tak meresponnya karena saya yakin dia paham jawaban saya yang tidak pernah berubah. Pernah suatu saat dia mendatangi saya ke rumah kos saya yang hanya ingin melihat respon saya saat menolak diajak menikah, padahal jarak tempat tinggal kami tidak kurang dari 12 jam.

“Din... apa setelah aku ke sini kamu akan bersedia?”

“Mus... saya akan menjawabnya jika saya benar-benar siap”

“Sebenarnya apa yang kamu tunggu Din?”

“Saya hanya ingin membangun rumah tangga dengan kesiapan saya Mus, siap secara lahir dan batin. Bagi saya pernikahan adalah janji suci saya pada Allah yang disaksikan oleh banyak orang, mana mungkin separuh agama yang ingin saya sempurnakan ditaruh dengan ketidaksiapan saya?”

“Tapi Din…”

“Jika kamu masih bersabar insya Allah saya akan datang, tapi jika sudah tidak sanggup lagi apa saya berhak menghalangimu untuk pergi?”

“Hmmmm… Baiklah dengan itu kamu sebenarnya masih ingin aku tunggu Din”

Hingga 2011 datang dan studi sarjana saya selesai, dia kembali nekat mendatangi orang tua saya di rumah. Kali ini dia didampingi oleh kakak tertuanya dan adik bungsuhnya. Bapak dan Ibu saya memang sudah sejak awal menaruh hati pada pria ini bahkan sejak awal tidak pernah melarang saya jika saya menikah dengannya. Menurut Bapak dan Ibu, pria ini santun dan bertanggung jawab, entah tau dari mana padahal baru beberapa kali berinteraksi secara langsung. Bisa jadi apa yang dia tonjolkan di depan Bapak dan Ibu hanya ingin mencari perhatian saja. Atau mungkin sifatnya hanya sementara karena ingin mengambil hati Bapak dan Ibu. Saya sedikitpun tidak terpengaruh dengan itu.

“Nak, bagaimana keputusanmu?” Tanya ibu setelah itu.

“Bu, bukannya Ibu tau kalau Dina belum siap hingga saat ini”

“Din, usiamu sudah cukup untuk melangkah kejenjang berikutnya, Bapak-Ibu ridha untuk itu, dia pria baik” Bapak angkat bicara kali ini.

“Iya Din, apa yang kamu tunggu sebenarnya? Bukankah dia sudah 5 tahun menunggumu?” Tanya ibu lagi

“Dina tidak pernah menyuruhnya menunggu Bu”

“Nak, laki-laki itu jika ditolak terus menerus akan merasa penasaran. Apalagi jika alasan yang diberikan menurutnya tidak masuk akal. Sekarang alasan apa lagi yang akan kamu berikan din? Tidak siap lagi?” Bapakku mulai merayuku.

“Bagi Ibu dan Bapak gelar sarjanamu sudah cukup, bukankah dia juga menawarkanmu posisi di yayasannya setelah kamu menikah dengan dia kelak?” Kata ibu.

“Ingat lho ya Din, perempuan itu kalau sendirian lebih baik dijaga oleh Mahramnya dari pada sendirian ke mana-mana” Bapak menambahkan lagi.

Ya Allah kenapa hingga saat ini sepertinya berat jika harus menikah. Saya benar-benar tidak siap. Entah kenapa. Bukan saya tidak tertarik pada pria itu, bahkan jika dicari celanya saya nyaris tidak menemukannya. Sejak awal dia memang lelaki santun yang dikenal di Pesantren saya. Apalagi beberapa kali dia menjadi ketua Pondok yang dipercayai banyak orang, terlebih guru-guru kami. Selepas dari pesantren dia melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi Al-Quran dan langsung menjadi salah satu pengajar di sana selepas kuliah. Ukuran IQ-nya sungguh tidak ada yang meragukannya lagi.

Ya Allah apa ketidaksiapan ini hanya karena dia jauh lebih sempurna dari pria-pria yang lain? Tapi bukankah setiap manusia memiliki kekurangan? Tapi saya benar-benar jauh lebih kecil dibanding dia. Dia pintar dalam urusan al-Quran, sedang saya bisa mengaji saja al-hamdulillah. Dia pria terpandang di mata masyarakat tempat tinggalnya karena keahliannya dalam bersosialisasi, sedang saya hanya wanita rumahan yang kadang tidak kenal siapa-siapa di kampung saya. Bahkan mungkin piagam penghargaan berjejer di tembok rumahnya, sedang saya bisa melanjtkan pendidikan saja sudah sangat luar biasa.

Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina, dering ponsel yang dibawakan oleh Sulis berbunyi tanda pesan masuk, ah dini hari siapakah yang mengganggu konsentrasi saya.

Pesan Masuk dari Muslih. “Din, mudah-mudahan ikhtiarmu dimudahkan untuk menjawab tawaranku tempo hari”

Balas. “Amin”. Send Muslih

Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Amin. Banyak-banyak istighfar Din”

Balas. “Makasih, inysa Allah. Boleh saya nanya sesuatu?”. Send Muslih

Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Silahkan”

Balas. “Kenapa kamu memilih saya?”. Send Muslih.

Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk Muslih. “Din, setiap orang berhak memilih siapa yang kelak akan mendampingi hidupnya. Aku memilihmu karena aku ingin kamu”

Balas. “Maksudnya?”. Send Muslih.

Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Aku butuh kamu untuk mengarungi kehidupan selanjutnya, bukan karena aku tidak mencoba mencari selain kamu Din, sempat beberapa kali aku mencoba tapi aku butuh kamu”

Balas. “Butuh untuk apa”. Send Muslih

Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Karena aku yakin kelak keturunanku akan seperti kamu. Aku butuh karena keturunanku Din. Jika kau mengiyakan menikah denganku maka kamu akan tau jawaban sebenarnya Din”

Balas. “Aku belum siap Mus”. Send Muslih.

Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Siap itu masalah ikhtiar Din. Aku yakin selama ini kamu belum mencoba untuk siap. Aku yakin kamu memang tidak pernah mempersiapkan untuk menyambut peluang menikah denganku Din. Aku bahkan yakin urusan tawaran menikah menjadi urusan terbelakang bagimu selama ini Din. Kesiapan itu proses yang harus dipupuk sejak awal Din. Seperti kita hendak sekolah, bahwa sebelum sekolah kita harus mempersiapkan seragam, buku, alat tulis, sepatu dan sebagainya. Jika kita tidak siap semua itu maka kita tidak bisa sekolah karena jika memaksa maka di sekolah akan terhambat menerima pelajaran guru. Sama dengan pernikahan din. Mulanya kita harus meimliki persepsi positif terhadap konsep pernikahan, setelah itu perlahan kita ikhtiar mencari calon pendamping hidup dengan membuka diri terhadap siapa saja yang ingin”

Balas. “Terimakasih Mus”. Send Muslih

Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Lalu kapan aku bisa menerima jawabanmu”


Sengaja kugantungkan begitu saja pesan terakhir dari Muslih. Air yang keluar dari mata begitu deras. Benarkah saya tidak mencari kesiapan itu? Lalu apakah selama ini saya mendzalimi Muslih dengan jawaban saya yang menggantung? Ya Allah.

Satu bulan kemudian. Rabu, 27 April 2010. 11:12 AM.

Innalillahi wa inna ilaii roji’un, Ibu saya pulang selamanya menghadap yang maha agung. Tidak sempat saya memberi tau kesiapan saya untuk menikah, Ibu kecelakaan tabrak lari di depan stasiun setelah pulang dari berjualan. Tujuh hari di ICU tidak membuat Ibu stabil dan saya sangat kehilangan.

Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina, Pesan masuk dari Muslih. “Din, adakah kamu sudah mepersiapkan jawabannya?”

Balas. “Mus, tidak bisakah menunggu beberapa hari lagi?”. Send Muslih.

Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina, Pesan masuk dari Muslih. “Apa saya salah memintamu menjawab sekarang Din? Apa karena Ibu pergi kamu semakin mengulur waktu Din? Kamu sudah lama membuatku menunggu”

Balas. “Saya tidak mengatakan ini salah, sayapun juga tidak menyalahkanmu, hanya saja ini tidak tepat. Saya hanya butuh waktu. Bersabarlah sejenak !!! Jika memang dirasa sudah tidak sanggup ikhlaskan saja semuanya, ini bagian dari kisah kehidupan yang harus disyukuri. Namun jika dirasa sanggup "MONGGO", sekali lagi ikatan ini bukanlah ikatan yang disyahkan jadi sewatu-waktu jika mau mundur silahkan dan ikhlaskan. Seperti yang kamu bilang waktu itu, persiapan itu harus kita latih begitu juga dengan kesiapan menerima keputusan ini Mus, kita harus melatihnya”. Send Muslih.

*Terispirasi dari kisah seorang sahabat yang bertahun-tahun lamanya menunggu jawaban seorang wanita yang sedang menjalani studi di luar negri dan akhirnya hingga kini sahabat saya masih menunggu jawaban itu. Bagi siapa saja yang mengalami kisah serupa dengan diatas, atau agak mirip atau mungkin lagi berminat menjalani kisah itu ^_^ Satu kuncinya, bahwa KESIAPAN ITU MEMANG HARUS DILATIH, siap mencintai itu berarti siap untuk tidak dicintai, siap membenci itu sama juga harus siap disukai, siap menikah itu juga harus siap dengan rumitnya rumah tangga, siap melanjutkan studi harus siap dengan semakin mahalnya biaya studi, siap jadi koruptor berarti siap menjalani masa tua di jeruji besi dan lain sebagainya.
Satu lagi, siap menulis juga harus siap tulisannya akan diberikan masukan bahkan mungkin tulisannya tidak dibaca orang lain dan malah menjadi bungkus kacang dan kerupuk yang dijual dipasar ^_^

Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Senin, 25 April 2011

Bom itu Membuat Ayah Tersenyum


Bum….

Bunyi yang mengerikan bagi pendengaran manusia. Bunyi yang merontokan jiwa ksatria menjadi jiwa pengecut yang kecut. Goncangannya pun menggetarkan hati yang miris. Bahkan daya ledaknya menghamburkan tubuh anak Adam berkeping-keping. Darah menjadi cat warna merah yang mengerikan, hamparan daging membuat menggidik bulu kuduk. Dan asap setan menghembus berterbangan di angkasa kosong. Aku melongo tak karuan melihat fenomena itu. Lututku seakan lunglai dan ingin bersimpuh lemah di pelataran masjidku ini. Aku melihat para jama’ah terbirit-birit lari, ada juga yang meronta-ronta kesakitan dengan kaki putus, tangan berdarah, kepala memar dan lain sebagainya. Pokoknya suasana yang kurasakan seperti kiamat kubra yang sesungguhnya.

Aku berusaha menegakkan batinku, dan mencoba melangkahkan kakiku menuju bom yang baru saja meledak. Air wudhu masih bergelantungan bebas di wajahku, namun air wudhu itu akan terpental keluar karena desakan keringat gugup dari pori-pori tubuhku. Aku tau, inilah yang harus kulakukan, aku ingin berlari, dan memeluk orang yang kusayangi sambil bersimbah peluh air mata di dekapannya. Dan, saat kuberjalan sempoyongan menuju ke lokasi ledakan bom, perang batin dimulai di dalam jiwaku. Jiwa kotorku mengatakan Ayahku yang menjadi korbannya, dan jiwa yang baik mengatakan Ayahku selamat. Namun, aku tak menghiraukan perang batinku itu aku terus melangkahkan kaki mencari Ayah.

2 jam sebelumnya

“Alif…, sholat jum’at bareng Ayah yuk Nak!” Teriak Ayah di seberang dinding kamarku. Teriakannya khas, karena selalu berteriak jika mengajakku untuk melakukan kebaikan. Pernah Ayah berteriak guna membayar zakat di bulan Ramadhan yang lalu. Jika teriakannya tak disambut, maka sorotan mata marah dari Ayahku akan membuatku bertekuk lutut mengikuti perintahnya. Ah, itulah Ayahku kawan!, selalu unik dan menyeramkan, namun yang pasti baik.

“Iya Ayah!, Alif mau mandi dulu” Kubalas dengan teriakan kembali, maklum jika tidak teriak maka tembok gagah dan pintu pelit menutupi seluruh rongga yang tak akan meloloskan suaraku, sehingga jika berkata dengan volume yang seadanya, sudah pasti Ayah tak mendengarnya, apalagi usianya sudah menginjakkan 50 tahun, kupingnya mulai swasta, sehingga perlu tarikan suara yang lebih tinggi agar ayah mendengarnya.

Air segar menyisir tubuhku, aku berusaha berjingkrak-jingkrak untuk menghapus semua penatku. Aku mandi dengan riangnya, sabun, sampho, sikat gigi, kugosokkan di bagian-bagian tubuhku tertentu, agar sempurna mandi sunnah muakaddah shalat jumatku ini, sehingga shalat jumat kali ini bisa lebih khusu dan menikmati sayyidul ayyam-nya umat Islam.

Kulihat terik mentari menyembul di bagian awan, menyubit pipiku dengan sengatan sinarnya. Mataku pun tak sanggup membalas sorotan mentari yang tepat berada di ubun-ubunku. Andai, mentari bisa kukecilkan daya panasnya, maka akan kulakukan, tetapi nyatanya tak bisa, hanya usapan tanganlah yang bisa kulakukan untuk menghindari guyuran keringat yang mulai berduyun-duyun nongol dari permukaan kulitku. Sejadah butut yang kubawa pun kupakai sebagai alat alternative untuk menangkis serangan mentari, sehingga rasa nyaman akan hadir sejenak di kepalaku.

Aku berjalan bersama Ayah dengan langkah kaki berirama sedang menuju masjid kesayanganku. Tak biasanya, hari ini Ayah tampak bersinar wajahnya, harum minyak yang dipakai Ayah membuatku bangga menjadi anaknya, sorot matanya pun tampak anggun berbinar. Tangannya yang kasar, maklum buruh pabrik, meraih tanganku, entah ada apa, yang pasti Ayah seakan menspesialkanku hari ini, sekali lagi tak biasa.

Tak ada sesuatu yang kurasa, namun yang pasti dekapan tangannya di tanganku membuatku nyaman sekali berjalan dengan Ayah yang kusayangi. Ayah adalah sosok idolaku. Banyak hal yang bisa kupetik dari kehidupannya yang penuh dengan kesabaran dan kerja keras. Menjadi seorang Ayah bukanlah tugas yang amat mudah, perlu keanggunan hati dan keteguhan jiwa agar bisa membuat keluarga harmonis dan indah. Ayahku tak mau berego, apalagi demi kesenangan, beliau sangat mengutamakan kebahagiaan istri dan anak-anaknya yang berjumlah lima orang walaupun beliau harus jungkir balik untuk memetik kebahagiaan keluarganya.

Masjid Nurul Jannah, anggun dan kokoh. Bangunan berarsitektur Turki membuat imajinasiku meluas ke negri Kamal Ataturk itu di daratan Eropa sana. Seakan kuberada di kehebatan kesultanan Utsmaniyah pada pertengahan abad ke dua, yang memiliki kekuatan superior di dunia kala itu. Kulangkahkan kakiku dipelataran masjid itu, dan kusambung dengan shalat sunnah tahiyyat masjid dengan dua rakaat. Takbir pun terlantun dimulutku, dekapan sepi menyongsong pikiranku, hanya lafal Allah yang tersimpan dalam benakku. Ayah pun sama, bergerak sesuai dengan irama penghambaan kepada Tuhan, seakan-akan ini adalah ibadah terakhirnya, khusu dan penuh kedamaian.

Kami pun berzikir bersama sambil menunggu adzan jumat berkumandang. Terlihat tetesan air mata ayah jatuh di sarung warna hijaunya yang lusuh. Isakan tangisnya pun lirih. Aku tak tau apa yang dirasa saat itu, mungkin kehalusan hatinya yang membuatnya begitu mudah untuk menangis. Aku hanya bisa terdiam dan berkata dalam sanubariku tentang kesyukuranku atas karunia Tuhan yang menjadikannya sebagai ayahku, entah apa jadinya jika aku terlahir dan memiliki Ayah yang tak sepertinya, mungkin saat ini aku tak di sini, yang pasti aku bangga dan bersyukur menjadi anaknya, sungguh Ayah idaman bagiku.

“Ayah” suaraku memecahkan semedi Ayahku. Namun itu harus kulakukan, karena aku takut Ayah mencariku.

“Iya?” suara lirihnya bergema, wajahnya melongok ke arahku dengan guratan mata yang merah pekat sambil membereskan sisa-sisa air mata yang masih bergelantungan di pipinya.

“Ayah, Alif ingin buang air kecil”

“Ya udah sana, hati-hati ya. Maaf kan Ayah ya” jawabnya dengan senyum yang mengembang dari kedua bibirnya.

10 menit kemudian.

Aku tak melihat Ayahku. Aku mencari-carinya. Tak kutemukan. Dalam reruntuhan dinding dan atap, kumelihat sejadah Ayah berserakan berkeping-keping. Lalu kumelihat wajah Ayah tergencet balok yang besar, dengan luka yang terdapat di sekujur tubuhnya yang berlumur darah segar.

“Ayaaaaaaaaaaaaaaah…” jeritku. Aku tak menyangka, ini takdir perpisahan aku dengan Ayah. Air mataku tumpah ruah di pelataran pipiku. Dengan seonggok tenaga, kudekati Ayah sambil menangis hebat. Aku tak kuasa menahan sakit dan pilu ini. Hanya buaian air mata yang mampu mengobati laraku yang tak menentu. Sekarang, di depanku, Ayah yang kubangga kan telah mengembuskan nafasnya di Masjidku ini. Terlihat senyum wajahnya masih menganga, aku tau Ayah, engkau
khusnul khatimah. Kata maaf yang kau ucapkan tadi adalah kata terakhirmu. Kepeluk mayat ayah, dan kucium ta’zim tangannya. Sambil kuucapkan lirih,

“Maafkan anakmu ini Ayah jika belum menjadi anak yang berbakti kepadamu” tambah deraslah air mataku, tiba-tiba kepalaku pusing tak karuan, lalu gelaplah mataku, tubuhku pun jatuh tak berdaya digundukan reruntuhan, yang kurasa hanyalah tangan-tangan penolong membantuku keluar dari masjid itu dan membawaku ke rumah sakit terdekat, ternyata aku pingsan tak sadarkan diri.

Ayah, sekarang kau tiada. Wangi parfummu tak terasa lagi di hidungku, tubuh yang kokohmu tak terlihat lagi di mataku, suara teriakanmu tak terdengar lagi di telingaku, dan tangan kasarmu tak kurasa lagi ditelapak tanganku. Namun yang pasti, kebaikanmu dan pendidikan yang kau ajarkan kepadaku adalah yang terindah dalam kehidupanku sehingga akan kutanam di jiwa ini selamanya, terima kasih Ayah. Hanya sebuah doa dan kata selamat jalan kupersembahkan untukmu Ayah. Aku berharap kita berjumpa lagi di alam berbeda, dan kuakan memeluk tubuhnya tanda bakti dan sayangku kepadamu Ayah.

Kawan!, nikmatilah kehadiran Ayahmu saat ini. Perhatikan dan lakukanlah yang terbaik untuknya. Karena sosok Ayah adalah pembimbing keluarga yang berjiwa ksatria, tanpa lelah dan mengeluh, jangan sampai mengecewakannya. Buatlah ia tersenyum dan bahagia, walaupun sekarang ia terbaring di alam barzakh, seperti kisah Alif ini. Dan Alif pun ingin melihat senyum Ayah walaupun beda alam.

Oleh: Adi Nurseha (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 20 April 2011

Aku Yakin Cinta itu Masih Ada


Masa itu mengusikku
Sama seperti yang kau rasakan
Saat itu menjeratku pada sebuah titik
Mengisahkan fenomena yang banyak orang terluka
Aku, kau, dia dan mereka
Bahwa dia memang tidak akan kembali
Ku tawarkan rasa padamu bahkan hingga kini
Ah...
Namun tetap saja sulit bagimu
Rontaan luka itu masih menyayatmu
Dan aku paham dan merasakan itu
Saudariku...
Masih seperti hari-hari kemarin
Kami tetap menunggumu kembali membangun cinta ítu
Dañ aku yakin masih ada cinta dalam lukamu

Note:
Catatan kupersembahkan untuk mereka yang terluka karena goresan saudara dan kerabatnya. Seberapa dalam luka itu, Allah tak akan merubah cintanya selagi kita ingin terus memupuk cinta itu. Seberapa besar rasa benci kita terhadap saudara dan kerabat yang melukai kita tak akan pernah memutus ikatan cinta itu. Saling mendoa, mengingat dan mengasihilah ketika rasa bencí itu datang.

Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 15 April 2011

Kuingin Obati Laramu


Terengah desah nafasmu
Terseok langkah kakimu
Apakah gerangan yang terjadi
Duhai kekasih hati...

Bulir-bulir lembut mulai jatuh
Berderai di antara tetesan peluh
Terbata kau coba ucapkan kata
Seraya menahan perihnya lara...

Kasih... mampukah diri ini...
Sedikit mengobati
Lara yang kini menyiksa
Lara yang membuatmu merana...

Kala tatap matamu kian sayu
Getar rapat bibirmu isyaratkan pilu
Lukiskan perihnya lara
Yang hadir menampar jiwa...

Kini... lunglai tubuhmu kian layu
Terhempas di padang perdu
Gaungmu kembali sepi
Lenyap di telan sunyi...

Kasih... tak kuasa kumenahan duka
Tak kuasa melihatmu terluka
Ijinkan aku berlari memeluk nadi
Membawamu ke negeri tersembunyi...

Kan kuracik ramuan asa
Dengan percikan rahasia cinta
Kan kutaburi benih-benih rindu
Dengan kelembutan kasih nan biru...

Kan kuhapus segala duka
Kan kutepis perihnya lara
Dengan segumpal kasih dalam jiwaku
Kuingin obati laramu...

HK, 10 April 2011
Oleh: Khasanah Roudhotul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 13 April 2011

Kau Bukan Pemenang


Lelah...
Rasa itu yang kurasa di ragaku
Jenuh itu yang hinggap di jiwa
Jiwa dan ragaku melebur dalam hujatan diri

Kau tau kawan...
Ada sosok baru menghantuiku
Aku ingin bercerita banyak padamu
Tentang siapa dia yang jadi tanya hatiku

Bukam kupilih bungkam dalam diam
Lidahku kelu dalam kunci bibirku
Bagaimana kubisa bercerita
Dia masih misteri dengan sejuta tanya dia siapa
Yang begitu ketat mengurungku dalam setiap desah nafasku

Kurayapi sekujur kesepianku
Mengundang angan dan sengat kumbang
Mata bintang yang diam dan berkelesatan
Menyuguhi harapan di semesta lenggang

Sampai kasih dan ingin terbentang
Membujuk pengembara merakah
Yang tenggelam di bawah kubang resah
Di mana dia yang datang sesaat lalu

Membujuk arah pengembara merambah
Terus mewangi aroma bunga cinta sampai ujung hari
Membangkitkan gairah sang pencinta dalam darah
Yang menentangkan kesenyapan sendiri

Dalam batas asa kumengagumi sesok diri membaui
Dan membenamkan dua serpihan bintang
Yang memancarkan pesona terang

Ia selalu memintaku melukiskan kisah yang ada
Atas cinta terperi di dinding-dinding hati
Kami hanyalah para pecinta mengharap sejati
Bersama berkelana dari waktu-kewaktu

Akhirnya kusadari
belum saatnya kuraih cinta asmara
aku belum pantas dicintai
karena kubelum bisa mencintai...

Heyyy kau sosok asing
Loe belum menang sampai detik ini
Aku takkan pernah bisa kau taklukan
Sama seperti ucapmu yang lalu
Takkan ada yang mampu runtuhkan hatimu

Angkuhmu beradu sombongku
Selamat tinggal cerita kita!!!
Sku takkan mengaku kalah dalam permainan rasa
Kau bukan pemenang...

12/04/2011
Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 12 April 2011

Legenda Bunga Bangsa di Negeri Sufi


Selaksa makna yang melegenda
Menjadi acuan para sufi muda
Mencermati gelombang kisah nyata
Di antara jerit tangis yang kian membahana...

Jiwa-jiwa ksatria kian berlomba
Di antara ribuan domba-domba
Telusuri padang rumput di hutan rimba
Berharap mendapatkan mutiara yang lama di damba...

Kabut makin tebal samarkan pandangan
Jerit tangis sehening pegunungan
Tak gentar semangat terus berkobaran
Saat keadilan menjadi santapan kemurkaan...

Binar indah mata kian terpancar
Saat bibir berucap "Allahu Akbar..."
Tumbanglah sudah gedung pencakar
Bunga di taman pun kembali mekar...

Gemuruh di belahan bumi barat telah mereda
Bunga "putri malu" kembali tersenyum manja
Burung camarpun kembali ke suraunya
Tuk menimba ilmu agama...

Langit di negeri para sufi terlihat lebih cerah
Pertanda dunia di sekitarnya penuh berkah
Kemurkaan nampaknya telah punah
Tawa bunga bangsa kembali merekah...

Di sini... di negeri bambu ini
Untaian doa akan selalu mengiringi
Tuk bunga bangsa di negeri sufi
Selalu dalam lindungan Illahi
Robbi...

(Terinspirasi evakuasi Masisir Februari 2011)
Oleh: Khasanah Roudhotul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 10 April 2011

Kelembutan Kasih Biru


Duhai kekasihku...
Selembut mungkin kan kubelai jiwamu
Kan kubawa kau tuk arungi samudera biru
Memindai syahdunya buaian rindu

Bersamamu kukan melaju
Telusuri lembah terjal berbatu
Tiada lagi gundah mendera batinku
Saat jiwamu dan jiwaku khusyuk menyatu

Kelembutan kasih biru
Kan ku hadirkan selalu
Berbahagialah duhai sayangku
Percayalah akan segala niatan suciku

Kan kuhadirkan kembali syahdu cintaku
Kan kuayunkan kembali merdunya asmara qolbu
Kan kuhapus segala keresahan di jiwamu
Hingga musnahlah gumpalan pilu

Sayang...
Seluas hamparan langit yang membentang
Salam santunku padamu kan tertuang
Terciptalah kesejukan baluti jiwa nan gersang

Kelembutan kasih biru
Selembut kasih seorang ibu
Hanya untukmu duhai kekasih hatiku
Percayalah, akan kelembutan kasih biru...

HK, 6 April 2011
Oleh: Khasanah Roudhatul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Sabtu, 09 April 2011

Senja Mengapit Usia


Dalam senja mengapit usia
Rentetan sepi menelusup ke batin tanpa pamit
Takdir Tuhan menelisik dari jarak waktu
Aku kini Tuhan, bukan yang dulu.

Lara terasa di batinku
Inginku bersenda gurau sejenak dalam kehidupanku
Ingin menari dengan burung camar
Atau bermain dengan pelangi yang ramah

Namun kuteronta-ronta dalam kebodohan dan kealpaan
Mati suri dengan kegamangan
Lelap dalam kesenangan liputan nafsu
Dasar, aku memang pecundang kelas kakap

Oh awan, bantulah aku terbang mengitari planet yang sombong ini
Atau bantulah aku mengenal pasir putih di pantai
Bercium mesra dengan lahan dan semakbelukar
Dan terbangun menjadi orang yang kaya

Tuhan, usiaku tak muda lagi
Digerogoti oleh rayap-rayap busuk lalu dimuntahkannya
Usiaku berserekan di mana-mana
Lendir, cairan, dan bau menggambarkan usiaku ini

Badanku yang kuat dulu, mencair dengan kemaksiatan
Ototku yang besar dulu, menciut disantap dedemit kotor
Mataku yang tajam, puntul terisolir gerigi
Apa dayaku saat ini? Masih kah sombong?

Senda gurau yang kubanggakan musnah
Keinginan yang meletup-letup pupus sudah
Rasa kesenangan terkekang dalam ketabuan
Yang ada, usiaku sudah mengapit ke senja

Oleh: Adi Nurseha (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 08 April 2011

Dua Tetesan Berharga


Di sepanjang jalanan menuju kota metropolitan
Debu bertebaran hingga sampah-sampah pun berserakan
Debu itu mengajarkan arti kerasnya kehidupan
Kutemukan seorang bocah kecil terdiam di pingir jalan.

Berpakaian lusuh dan kumal berselimutkan debu-debu jalanan
Matanya tampak lelah, resah, gelisah tanpa arah
Hanya satu kata yang ia dapatkan
“Pasrah” akan satu kenyataan.

Tak lama ia datang menghampiri
Menyodorkan tangannya meminta belas kasihan
Terbayang sesaat bagaimana jika itu adalah diriku
Lalu dua tetesan air mata pun jatuh di pelipis mataku
Dan menegur rasa keangkuhanku.

Tuhan, terima kasih atas tetesan yang pertama
Dan kubersyukur untuk tetesan yang ke dua

[Cairo, 310311]
Oleh: Didi Suardi (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 06 April 2011

Sadarkah Kau Kucintai


Kutasbihkan citamu dalam mimpiku
Dalam dekap doa pada kuasaNYA
Kuingin kita tertawa dan Menangis bersama

Tiba-tiba begitu ingin ku lewati waktu denganmu
Kuingin ada di sampingmu
Untuk selalu bisa berkata?
Berkata "Teruslah mencoba kau pasti bisa"

Saat kau memaksa kakimu untuk tetap berdiri tegak
Kuucapkan "Bangunlah dan jangan dulu menyerah"

Saat kau mencoba berjalan di atas kakimu sendiri
lalu terjatuh
Teriakan
"Sakit itu bukan apa apa,kamu harus tetap berusaha demi mereka yang menyayangimu"

Saat kakimu penuh memar dan biru lebam
karena berulang kali terbentur
Ketika kau berusaha berjalan
Lepaskan tongkat
Dengarkan pekikanku "Jangan pedulikan mereka, karena cintaku tak pernah pedulikan apapun,yang ada padamu,selain hati dan ketulusanmu"

Saat banyak mata memandangmu dengan tatapan tajam
Seolah dirimu mahluk aneh dengan tongkatmu
Ku ingin bilang "Jangan sedih, aku ada di sini untukmu"

Saat seluruh dunia mengacuhkan hadirmu
Kumengatakan "Hapus air matamu, kita bisa hadapi apapun bersama"

Ketika perih menyayat-nyayat hatimu
berbisik "Lepaskan rindumu, karena walau raga berjauhan hatiku dekat denganmu"

Saat hatimu kosong...

Kau pribadi yang menunjukan kedamaian
Sarat akan jutaan makna yang tak mampu kujelaskan
Jiwa yang dipenuhi oleh bias kehangatan

Takkan kujemu dengan kebersamaan denganmu
hatiku takkan letih untuk selalu ada dan terbuka
Kuingin rasakan bahagia dan luka bersama
Dalam kalbu doaku menjagamu

04/04/2011
Oleh: Muslimin (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 05 April 2011

Konstelasi Orion


Lalu gulita kembali memeluk langit
Di situ aksi para penghuni angkasa raya dimulai
Bulan menggantikan matahari terjaga
Planet menyebar kesegala penjuru katulistiwa

Kumpulan bintang siap mengambil aba-aba di peraduannya
Terjarak bertahun-tahun kecepatan cahaya
Mereka hanya tinggal membentuk formasi
Kemudian terbaca sebagai konstelasi

Hening
Angin turut andil
Dia lebih memilih memainkan melodi udara sepoi

Sepi
Manusia sebagian terlelap
Sebagiannya lagi disibukkan dunia
Sisanya bermunajat memujiMu

Sunyi
Pandangannya hanya tertuju di satu fokus
Ke arah ketujuh bintang yang familiar
Betapa formasi itu yang begitu berarti?
Jelmaan yang dirindukannya selalu
Mirip dengan karakternya sebagai pemburu
Entah cita
Entah cinta
"Orion"
Terdengar bisiknya lirih

Oleh: Ana Falasthien Tahta Alfina (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Senin, 04 April 2011

Lemah Tak Berdaya


Tuhan, di saat kami bersujud padamu dalam sebuah kamar yang sunyi
Hanya berlapisan sejadah kumal dan kain yang mulai pudar
Dengan tubuh yang mulai rentang
Entah berapa lama lagi kami akan tetap bertahan.

Kami membayangkan, bekal apa yang akan kami siapkan
Walau kami terus bersujud sampai akhir kematian
Dosa-dosa kami tak mungkin terhapuskan
Karena begitu bayaknya dosa yang telah kami lakukan.

Dulu wajah ini kencang dan berseri-seri
Banyak wanita yang tergoda dan tergila-gila padaku
Tapi sekarang mereka sudah mulai meninggalkanku.

Ya tuhan, aku yakin engkau tidak pernah membutuhkan sujudku
Engkau pula tidak pernah memerlukan shalatku
Dan zikirku tidak ada artinya bagiMu
Justru kami yang membutuhkanMu

Oh Tuhan, sampai kapan air mata ini terus mengalir
Dan sampai kapan penyesalan ini akan berakhir
Jika semuanya mampu kutebus dengan air mata ini
Lantas berapa banyak liter air mata yang akan keluarkan.

Kami lemah tak berdaya
Tapi kami sering melupakan dan melalaikan perintahMu.

Ya tuhan, Di saat orang-orang melakukan kemaksiatan
Engkau pun hanya diam
Kadang sesekali memberikan teguran.

Tapi di saat Engkau menyapanya dengan teguran
Semua orang menjerit ketakutan
Tak henti-hentinya air mata terus bercucuran
Seolah tangisan di malam hari menjadi lagu rintihan di malam yang kelam.

Tuhan, berikan kami waktu...

Oleh: Didi Suardi (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 03 April 2011

Tentang Arti Mutiara Persahabatan


Di saat dadaku sesak bergumul debu
Kuberlari terlunta-lunta mendekati sudut bumi
Aku pandangi sampai mataku bernanah
Dan dadaku kian lara

Aku tak suka sepi
Aku pun tak suka lemah
Sehingga, kubertanya kepada bibir pantai
Tentang arti mutiara persahabatan

Desiran ombak dan bergrombolnya buih-buih lucu
Menjawab semua pertentangan hatiku
Tentang arti kebersamaan sang buih-buih
Dan tentang arti keindahan sang desiran ombak

Namun, aku tak puas
Di saat buih-buih bergerombal, menghilang begitu saja dimakan waktu
Dan ombak pun begitu jahat jika membesar melebihi kapasitas
Ah, semakin kalut dan samar lah hatiku

Aku berlari terbirit-birit ke ujung langit
Di sana kumenemui mentari dan rembulan
Mereka hanya diam seribu bahasa
Hanya sinarnya yang melambaikan jawaban kecil

Malam dihiasi rembulan kelembutan
Siang dipandangi mentari yang kasar
Tahu kah Kawan! Mentari dan rembulan kerja sama
Membuat langit begitu ayu nan ramah

Lagi, lagi, dan lagi
Aku tak puas
Saat mataku terpejam, maka rembulan dan mentari menghilang
Padam dan luluh di makan kelopak mata

Akhirnya kutertunduk lemah dipelataran kosong
Tanpa hawa dan tanpa waktu
Merah padam mataku tertuju
Luka hatiku semakin membusuk tentang kegamangan

Kedua lututku pun bersetubuh dengan bumi
Sambil mata menikmati heran kenangan yang lalu
Kumencoba bertanya kepada sisi tubuhku yang terkecil
Wahai hati, jawablah pertanyaanku itu, kumohon!

Ahay, aku mendapat jawaban di sana
Bahwa sahabat adalah kebersamaan
Bukan sepi dan menyendiri
Tak hilang dimakan usia dan lara

Terimakasih wahai Hati!.

Kupersembahkan untuk sahabatku, Muslimin, Ana Falasthin TA, Rosa Rahmania, Yopi Megasari, Luluk Evi Syukur, dan Didi Suardi
Oleh: Adi Nurseha Saduki (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Sabtu, 02 April 2011

Terisolasi pada Ego


Bila ada yang menghalaumu
Benarkah itu jarak?
Bila ada yang menyakitkan
Benarkah itu nasib?
Lalu senyum atau air mata yang mengujiku?
Butuh berbelok menyibak pilihan,
Barangkali?

Aku kian terisolasi
Ah manusia, selalu bercermin pada ego
Dan mengajakku turut serta,
Tega!!!!

Lihat, April mendekat.
Saturnus juga beranjak menemui Bumi
Tidakkah semuanya ingin berevolusi?
Kaupun juga?

Sekali lagi
Aku mengambil resiko
Yang kesekian
Dan lagi
Untuk memilih pilihan
Juga menemani Saturnus menemui Bumi
Biarkan jarak menjadi kalah
Biarkan nasib itu menyerah
Sehingga aku memilih senyum untuk mengujiku

Oleh: Ana Falasthin Tahta Alfina (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......
Photobucket
 

Karya Tulis

Refleksi 02 Mei 2011

Ini hanya bagiku, entah bagi yang lainnya. Setiap hari orang-orang science mempelajari banyak simbol, dari alfabet hingga numerik atau beragam bentuk yang memang sengaja diciptakan sedemikian rupa. Aku tahu simbol-simbol tersebut sengaja diciptakan untuk

Kisah Kehidupan

Demi Sebuah Amanah

Telah lama aku berdiri di sini, di antara keramaian dan hiruk-pikuk terminal Pulo Gadung. Namun tak satupun bus antar kota yang mau berhenti dan membawaku meninggalkan kebisingan ini. Hampir satu jam lebih aku di sini, tapi semua bus antar kota nampaknya penuh semua.

Sastra

Cinta Dalam Hati ( CIDAHA )

Kala cinta datang menggoda Memanggil dan mengetuk pintu hati Lalu singgah ke rumah jiwa Tanpa kata permisi Hhm... Terdengar begitu syahdu menyentuh kalbu Namun, jika ini benar cinta Jangan biarkan cintaku padaMu hilang di hati Perkenankanlah tuk selalu mencintaiMu

© 3 Columns Newspaper Copyright by Website Nathiq | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks