Ungkapan Mutiara

Kita seperti teko, apa yang dikeluarkan maka seperti itulah di dalamnya. Maka berjanjilah untuk selalu membahagiakan orang lain, karena dengan begitu kita membahagiakan hidup kita sendiri (Rosa Rahmania))

Memberi sebanyak yang kita mampu, lalu kita akan menerima sebanyak yang kita butuhkan! InsyaAllah(Luluk Evi Syukur)

Ide-ide gila, butuh orang gila juga untuk mewujudkan semuanya. Demi bumi dan isinyam, baiklah. (Ana Falasthien Tahta Alfina)

Selagi sabar itu ada dalam diri maka selagi itu juga Allah akan mengujinya dan hanya mereka yang benar-benar sabar dapat dengan mudah mengatasi ujianNya (Luluk Evi Syukur)

Selepas ashar nanti Kutunggu di semenanjung hati, mendawai indahnya pelita, kala pelangi berbagi warna, selepas maghrib nanti, Kutunggu di ujung nadi, lantunkan kalam Illahi, hingga Isya hadir kembali (Khasanah Roudhatul Jannah)

Kawan, ingatlah dengan hidup ini, kadang kesusahan dalam mengarungi takdir membuat hidup kita di akhirat nanti menjadi lebih berkualitas. Dan Jangan lah berlebihan di kehidupan ini, karena takut-takut terasa hambar di akhirat nanti. So, Jadikanlah apapun itu tentang kehidupan, lalu rayakanlah dengan kesyukuran.(Adi Nurseha)

Memoar kehidupan yang tak berujung hingga kematian menjemput. Lantas sudah sampai di mana kisah kehidupan ditorehkan? (Luluk Evi Syukur)

Kau yang masih setia mengulum rindu, Kudendangkan senandung lagu merdu, Sebagai pengobat rindu di dada, Sebagai pelipur segala lara, Tersenyumlah sayang, Rindu ini pun masih terus membayang Untukmu duhai kekasih hati Sambutlah syahdunya nyanyian hati (Khasanah Roudhatul Jannah)

Jaga selalu hatimu (Rosa Rahmania)

Tak semua yang diinginkan dapat terwujud sesuai rencana. Pergi saat indah. Allah pasti punya rencana terindah dibalik semua ini. Hanya itu yang bisa menguatkanku saat ini (Yopi Megasari)

Selasa, 15 Maret 2011

Hati Seorang Ibu


Sebut saja nama sahabatku, Roy, Ardy dan Ronald. Roy anak tertua dari empat bersaudara, kebiasaannya main melulu, dia tahan berjam-jam bermain playstation. Sedikit manja, tapi lebih banyak mengalah dan selalu ikut saja jika ada ide dari teman yang lain. Ardy, anak kedua dari tiga bresaudara, sedikit dewasa, hobinya bisnis, walau hanya berjualan ikan teri yang kami kumpulkan bersama, biasanya dia lah yang menjualnya ke kampung pamannya, dengan laba untuk makan bersama-sama, tanpa ada perhitungan modal siapa atau dari siapa. Dan satu lagi adalah Ronald, bungsu dari enam bersaudara, sedikt pendiam, bahkan terkesan angkuh jika belum mengenalnya lebih jauh. Sedikit tertutup sifatnya, tapi setia kawan dan sedikit playboy, mngkin karena fasilitas dan tampangnya yang inocent jadi dia terbiasa diburu oleh wanita, hahaha, dan aku sendiri juga anak bungsu dari empat bersaudara, tidak ada yang istimewa dari sosokku, kecuali sebagai pelengkap ketiga bersaudara di keluargaku.

"Bagaimana kalau kita ke perpustakaan aja, gratis sekaligus nyari bahan, buat tugas, kalau dapat kita pinjam semua masing-masing 1 buku, siapa cepat dia dapat, Roy loe kebagian ngetiknya, Ardy kebagian beli kertas HPS, Ronald kebagian ngeluarin modal, gw kebagian meringkas dan membaca empat buku sekaligus, yang nantinya akan di jadikan 15 makalah, dengan sedikit dibeda-bedakan, biasanya mahasiswa yang tidak mau repot ini dan itu mau membelinya" usulku, serempak senyum mengembang di bibir ketiganya.

"setujuuuuuuu" teriak ketiganya yang membuat sekeliling kami menoleh penuh tanya.

Ini adalah keempat mahluk yang selalu buat onar di kelas, tidak ada yang lain kecuali selalu memamerkan kemesraan seakan dunia milik mereka, hahaha. Masa remaja adalah masa penuh ceria. Aku memang punya banyak kenalan di kelas A sampai D. Lima kelas seangkatan kecuali kelas E yang kebagiaan sore, dikalas itu aku hanya sempat mengenal saat ospek. Aku juga rajin menyapa semua orang, jadi otomatis aku lebih banyak mengerti tentang daerah asalnya dan juga sedikit tau tingkat kemalasan dan ekonomi teman-teman, yang mana yang tidak punya kendaraan, komputer atau laptop, atau yang murni malas dan gak mau capek-capek mencari bahan alias hanya tau anggukan kata setuju. Singkatnya kami berhasil mendapatkan 40 pesanan maikalah.

"Gampang" ujarku, "Serahin gw soal ginian", kami menawarkan dengan harga terjangkau, 20.000 sampai dengan 30.000, dengan bonus tak akan ada isi yang sama, mereka tidak perlu capek ke sana dan ke mari mencari bahan. Belum ongkos transport, milih bahan cocok, mengetik dan menjilid. Singkatnya semua telah kuhitung di luar kepala, ongkos satu makalah yang terdiri 7 halaman dihargai 5.000 perak. Bayang-bayang keuntungan membuat ketiganya semangat 45. Bismillah bisa, kami pulang dan sebelum ke perpustakaan aku minta singgah sebentar ke rumah kakak sepupu yang jadi wakil menjagaku di kota ini, bunda tidak percaya jika kuharus tinggal di kost, ya... aku manut saja perintah bunda.


Di dapur saat kuingin sedikit melepas dahaga setelah kepanasan di perjalanan, sebuah suara memanggilku dari balik dinding dapur,

"Om tadi ada pesan Mama, Om disuruh nyusul ke bandara kalau udah pulang kuliah"

"Siapa yang datang tanyaku"

"Om andre kecelakaan Om" jawabnya singkat tapi bagai bom atom yang meruntuhkan langit beserta isinya menimpa seluruh tubuhku hingga hancur saat itu juga.

praaangggg

Gelas di tanganku lepas menimpa porselin sehingga menimbulkan suara gaduh (Jadi ingat AADC, pecahkn saja gelasnya biar gaduh sampai mengaduh, hehehe) keponaanku hanya melongo, tanpa berkata-kata. Aku harus segera ke bandara, berlari keluar menemui ketiganya yang menunggu di teras, tanpa membereskan pecahan dan keping kaca yang berserakan, mereka bertiga hanya bilang "iya" saat kuajak ke bandara, kuberlari menemui bunda, wajah itu terlihat tabah,

"Sabar Nak" ujarnya memeluk erat aku, ketiga sahabat ikut mendatangi bunda, menyalami dan ikut mencium tangannya, seperti yang kulakukan saat pamit ke orang tua mereka.

Rumah sakit, di situ aku liat wajah abang tertuaku berbalut perban, seluruh wajahnya tak terlihat.

"Dokter di kabupaten bilang harapan hidup atau tertolong 40%, makanya keluarga memutuskan carter pesawat" ujar abang sepupu yang ikut mengantar menemani bunda dan kakak. Aku baru sadar abang keduaku dan bapak tidak terlihat.

"Bapak tidak ada di rumah dek, Edy nyusul ngasih tau bapak, nanti mereka nyusul sekalian nyiapin biaya buat di sini" ujar kakak perempuan satu-satunya yang seperti membaca pikiranku. Ya dialah kakak yang paling dekat dengaku tentu setelah bunda, dan dia pulalah yang mengasuh dan merawatku dari kecil saat bunda sibuk ke sawah dari pagi sampai petang mengiring mereka untuk pulang.

Hari setelah itu semuanya kelabu dan mendung melukis pasti duniaku, semangat dan ceriaku terhisap rintihan sakit abang. Ketiga sahabatku seakan ikut larut dalam duka yang sama. "Maafin kami hanya doa dan menemani loe yang kami bisa lakukan" ujar ketiganya.

"Seandainya gw udah kerja mungkin bisa lebih" Ujar ardy, aku hanya tersenyum patah.

"Maafin gw sahabat-sahabat" ujarku, "Mungkin gw akan berhenti, semua telah kupertimbangkan sendiri" ketiganya serempak menoleh, mereka begitu mengenalku, terkadang ucapanku seperti titah tak terbantah.

"Cuti maksud loe" setelah sedikit tenang dari lengang, suara Ronald memecah sunyi.

"Gak tau sob, yang jelas mulai besok gw akan ikut bunda pulang" kutau hati ketiganya sama hancurnya saat itu, sampai keberangkatan bus besoknya mereka bertiga masih diam terbungkam.

Kampung bunda, hari di mulai dengan biasa, seluruh harta telah ludes yang bisa dijual`untuk biaya pengobatan,`rumah sakit tentu bukan panti sosial,`16 hari di ruang ICU, ditambah dua bulan di ruang perawaran, tanpa bunda bercerita apa-apa aku bisa menghitung sendiri, sementara selama aku beranjak dewasa yang aku tau abang tertualah yang menanggung semua biaya kuliahku dan juga membantu kelauarga, ayah dan ibu hanya petani biasa, kakak hanya guru honorer, sedang abang nomer dua asyik dengan dunianya, Tuhan kau dimana jerit batinku, sekejam inikah kau coret jalan takdirku,aku kebanyakan mengurung diri, aku bukan anak kampung yang kuat fisiknya untuk bekerja kehutan mengangkat balok, atau bakerja menjadi kuli truk pasir, jikapun aku mau, apa mereka mau terima, selain itu aku belum siap menerima beban mental mendapatkan tatapan iba warga, senyuman sinis para tetangga, kusadari berat buatku, tapi yang paling berat justru bunda, kehilangan dua jagoan yang ia banggakan dalam waktu nyaris bersamaan, dipundakku dia ingin titipkan kebanggaan sama warga, kalau anak seorang miskin sepertinya juga bisa jadi sarjana, sementara di pundak abang dia titipkan mimpi abang mampu mewujudkan mimpinya untuk membiayaiku sampai selesai. Manusia hanya punya keinginan, jalan Tuhan adalah keputusan, Dia mampu membolak-balik seluruh isi jagad raya, apalagi setitik noda seperti keluargaku terlalu mudah baginya.

Waktu seakan meminta tanggung jawab padaku, Tuhan apa yang harus aku lakukan untuk sekedar ringankan beban keluarga? aku tak tega melihat wajah bunda yang seharian di ladang, begitu juga ayah, sementara abang kedua baru saja mulai belajar bekerja, ikut orang kerja apa saja, walau fisiknya kuat, yang namanya kerja serabutan, tetap hasilnya hanya cukup untuk makannya sendiri, rasanya aku ingin mencaci Tuhan saat itu, tapi tanam tancap akidah telah terpancang sejak dini, bunda juga selalu terlihat bangun tengah malam, ali hanya bisa pasrah kemana jam takdirku akan di putar olehNYA.


Malam masih baru bertamu, siang pamit berkawan senja, ketukan pintu seakan pekikan hinaan di telingaku, tapi kakiku tetap kuseret ke arah suara, mulutku masih tetap mnjawab salam, sosok itu yang berdiri di depan pintu, sosok setengah baya, dengan senyum bijaksana, di belakangnya sesosok lain adalah anaknya, dia menatapku penuh kerinduan, mengelus kepalaku setelah aku menyalami dan mencium tangannya, aku masuk ke dalam bersama anaknya, sementara dia bersama ayah dan bunda berbincang-bincang di ruang tamu, sesaat bunda masuk, wajahnya sembab, bunda menangiskah? aku menatap wajahnya.

"Berkemas nak, besok kamu ikut mereka" aku mengalihkan pandang ke arah anak itu.

"Iya bang kami datang jemput abang" kata anak itu, sosok tadi ikut masuk.

"Berkemaslah, kau harus ikut besok, kita mulai lagi dari awal, ayah yakin kau mampu" dia adalAh ayah angkatku sejak aku masuk sekolah menengah, kutau perang batin ibu, antara ragu dan ikhlas, ia kembali memelukku.

"Pulanglah kapan saja jika kau gak sanggup" bisiknya lirih.

"iya bunda" jawabku yang diliputi sejuta pertanyaan, yang malam itu tak sedikitpun mataku mampu tertaut.

Semua kejadian ada hikmahnya, ke mana pacar-pacar abang dulu yang datang silih berganti? saat dia bertahta? ke mana teman-temannya saat dia berjaya? hanya ada dua sosok sahabatnya yang aku ingat sampai kini, yang aku anggap abang sendiri, keluarga,dan sosok-sosok yang aku hitung saat rapuh, yang mana hanya sekedar datang bertamu, niat membantu atau sekedar datang untuk bilang "Mampus loe makanya jadi orang jangan belagu" yang jelas,peristiwa abanglah yang membuka mata dan hatiku tentang arti kasih sayang seorang ibu, seharian lelah di sawah,bagitu sampai rumah dia yang selalumengecek abang sudah dikasih makan belum, sudah dimandikan belum, memasang kelambunya saat akan tidur, dan banyak lagi yang tak segunung emas akan bisa menebusnya. Derita batinnya saat mendengar ada yang berceloteh untuk apa diusahakan hidup apalagi udah tidak bisa apa apa.

07/03/2011 02:33
inspirasi saat pulang jenguk teman di rumah sakit yang trlihat kehilangan gairah hidupnya
Oleh: Muslimin (Profie)

Artikel yang berkaitan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Photobucket
 

Karya Tulis

Refleksi 02 Mei 2011

Ini hanya bagiku, entah bagi yang lainnya. Setiap hari orang-orang science mempelajari banyak simbol, dari alfabet hingga numerik atau beragam bentuk yang memang sengaja diciptakan sedemikian rupa. Aku tahu simbol-simbol tersebut sengaja diciptakan untuk

Kisah Kehidupan

Demi Sebuah Amanah

Telah lama aku berdiri di sini, di antara keramaian dan hiruk-pikuk terminal Pulo Gadung. Namun tak satupun bus antar kota yang mau berhenti dan membawaku meninggalkan kebisingan ini. Hampir satu jam lebih aku di sini, tapi semua bus antar kota nampaknya penuh semua.

Sastra

Cinta Dalam Hati ( CIDAHA )

Kala cinta datang menggoda Memanggil dan mengetuk pintu hati Lalu singgah ke rumah jiwa Tanpa kata permisi Hhm... Terdengar begitu syahdu menyentuh kalbu Namun, jika ini benar cinta Jangan biarkan cintaku padaMu hilang di hati Perkenankanlah tuk selalu mencintaiMu

© 3 Columns Newspaper Copyright by Website Nathiq | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks