Ungkapan Mutiara

Kita seperti teko, apa yang dikeluarkan maka seperti itulah di dalamnya. Maka berjanjilah untuk selalu membahagiakan orang lain, karena dengan begitu kita membahagiakan hidup kita sendiri (Rosa Rahmania))

Memberi sebanyak yang kita mampu, lalu kita akan menerima sebanyak yang kita butuhkan! InsyaAllah(Luluk Evi Syukur)

Ide-ide gila, butuh orang gila juga untuk mewujudkan semuanya. Demi bumi dan isinyam, baiklah. (Ana Falasthien Tahta Alfina)

Selagi sabar itu ada dalam diri maka selagi itu juga Allah akan mengujinya dan hanya mereka yang benar-benar sabar dapat dengan mudah mengatasi ujianNya (Luluk Evi Syukur)

Selepas ashar nanti Kutunggu di semenanjung hati, mendawai indahnya pelita, kala pelangi berbagi warna, selepas maghrib nanti, Kutunggu di ujung nadi, lantunkan kalam Illahi, hingga Isya hadir kembali (Khasanah Roudhatul Jannah)

Kawan, ingatlah dengan hidup ini, kadang kesusahan dalam mengarungi takdir membuat hidup kita di akhirat nanti menjadi lebih berkualitas. Dan Jangan lah berlebihan di kehidupan ini, karena takut-takut terasa hambar di akhirat nanti. So, Jadikanlah apapun itu tentang kehidupan, lalu rayakanlah dengan kesyukuran.(Adi Nurseha)

Memoar kehidupan yang tak berujung hingga kematian menjemput. Lantas sudah sampai di mana kisah kehidupan ditorehkan? (Luluk Evi Syukur)

Kau yang masih setia mengulum rindu, Kudendangkan senandung lagu merdu, Sebagai pengobat rindu di dada, Sebagai pelipur segala lara, Tersenyumlah sayang, Rindu ini pun masih terus membayang Untukmu duhai kekasih hati Sambutlah syahdunya nyanyian hati (Khasanah Roudhatul Jannah)

Jaga selalu hatimu (Rosa Rahmania)

Tak semua yang diinginkan dapat terwujud sesuai rencana. Pergi saat indah. Allah pasti punya rencana terindah dibalik semua ini. Hanya itu yang bisa menguatkanku saat ini (Yopi Megasari)

Jumat, 06 Mei 2011

Diriku Bukanlah Dirinya


Aku bukanlah dia, yang nasabnya terjaga, yang masih punya keturunan Ulama
Aku bukan dia, yang ayah ibunya telaten mendidiknya dengan cara Islami
Aku juga bukan dia, yang keluarganya terasa begitu religius
Aku hanya aku, aku tak punya apa-apa dan aku juga bukan apa-apa
Sama sekali aku tak punya keistimewaan apa-apa

Aku hanya hambaNya, yang berusaha mencariNya di setiap detik nafasku, andaikan benar-benar tiap waktu aku ingat itu...

Aku juga tak punya daya apa-apa, yang ketika ada sesuatu menghampiriku, aku terlampau sering menghadapinya sendiri, bukan seperti mereka yang punya tempat sandaran atau tempat curhat pada ibunya misalnya, dan aku bukan mereka...

Di dunia ini ada suatu ke-ideal-an yang didambakan oleh tiap insan.

Tengoklah, betapa tiap insan selalu inginkan hidupnya lancar-lancar saja tanpa hambatan? Itulah ke-ideal-an yang kumaksud.

Tapi, bisakah hal itu kita dapat? Bohong jika kita katakan ya untuk pertanyaan itu.

Selalu ada yang membuat kita memeras otak dan tenaga karena selalu ada suatu urusan yang menanti untuk kita selesaikan. Tapi tak usahlah disebut “masalah”, karena itu bukan penyelesaian. Tak cukupkah nyali kita untuk hadapi semua?

Aku ya aku, aku bukan dia, aku bukan dirinya, dan aku bukan mereka, aku ya aku...

Entah siapa aku ini...

Aku tak bisa berikan apa-apa yang bisa buat kalian bahagia di tiap detik.

Aku juga hanya bisa lakukan apa yang menurutku baik, tapi itu pun mungkin tak juga bisa selalu selaras denganmu,

Aku harus lakukan apa?

Satu yang kutahu, kita harus bertanya padaNya tentang bagaimana semua ini harus kita jalani. Semua akan berjalan dengan baik jika kita selalu ikuti aturan dariNya, semoga kita semua bisa istiqamah, amin...

Oleh: Rosa Rahmania (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Kamis, 05 Mei 2011

Mengenang Perjuanganmu


Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah kejayaan
Berpikir hanya untuk sebuah keberhasilan

Hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajahmu
Semangatmu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu

Kepadamu guruku
Mencintaimu dari hati kami
Jika engkau akan melangkah pergi
Kutau langkahmu penuh pengorbanan

Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 04 Mei 2011

Jika Harus Kugadai Namaku


Suara salam dari depan pintu kamarku membuyarkan kosentrasiku yang asyik menuangkan sejuta cerita yang tak bisa kuucapkan lewat kata, bukan karena aku pemalu, bukan pula karena gagu bicaraku, tapi aku ingin menjamah dunia lebih luas, ya lewat tulisan seperti ini. Tidak mungkin mereka bisa mendengarkan suara teriakanku bercerita, jika mereka di sana aku di sini, alternatif memang ada yaitu via telepon, tapi selain mempertimbangkan biaya tarif, juga mempertimbangkan kesibukan masing masing tentunya, jika via tulisan, mereka bisa baca kapan saja jika punya waktu luang.

Bergegas bangkit kubukakan pintu, dan? "Woiiiiii kapan datang loe" Ujarku, menepuk bahunya, walau keanehan langsung bisa kulihat dari sosoknya yang kini di depan pintu. Dia langsung menerebos masuk dan melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. Sejenak kutinggalkan dia untuk membuatkan sirup dan mengambilkan sedikit cemilan untuk teman mengobrol.

"Loe kapan datang sob" Tanyaku, ia bangkit dan duduk. Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya cekung dengan sedikit garis hitam menandakan dia sering begadang atau kurang tidur, kulitnya juga kusam, dengan kumis tipis dan jenggot yang tampak tidak terurus, rambutnya juga sudah mulai agak panjang, sangat kontras dengan sosoknya yang biasa, yang selalu tampil rapi, wangi, dan bersih, serta gelak tawa canda setiap kali dia datang.

Dia menatapku sesaat, lalu mereguk minuman, "Gue udah satu bulan pulang, maafin gue sobb" Lanjutnya sambil tersenyum patah.

"What? Satu bulan? Dan baru sekarang loe muncul?" Bukankah biasanya jika dia datang paling hitungan jam di rumahnya, dia akan langsung cabut menemuiku untuk mengantarkan oleh-oleh lengkap dengan sejuta cerita tentang apa saja hal-hal terbaru yang ia temukan di ibukota Jakarta, kali ini bukan saja penampilannya yang beda, tapi kebiasaannya juga ikutan berbalik arah, biasanya seminggu sebelum kepulangannya dia selalu meneleponku untuk bertanya mau dibelikan oleh-oleh apa. Aku masih ingat semester lalu dia membelikanku simcard M2, padahal di kabupatenku belum bisa dipakai, hahaha, jadilah oleh-olehnya hanya jadi koleksi di lemariku, padahal dia mau mengurangi jajannya 150.000 hanya untukku, bisa semakin lancar online. Dia tau sekali hobiku, padahal uang segitu untuk anak kuliahan sudah cukup lumayan. Namanya sahabat tidak pernah berhitung, yang aku juga tau bahagiamu juga bahagiaku begitu juga sebaliknya.

Ada keraguan terpancar di matanya, berkali-kali dihembuskan nafas panjang, "Loe kenapa sebenarnya sob" Tanyaku, yang sedikit banyak bisa merasakan kalut jiwanya.

"Gue ke sini mohon bantuan loe sob" What? Mohon? Tentu saja aku tak bisa menahan tawa.

"Sejak kapan loe segitu pormil bicara sama gw" Tanyaku.

"Gue serius" Jawabnya cepat.

"Oke to the point aja sob, can me help you?"

"Gue butuh uang sementaran, gue belum dapat kerja, gue gak tau kapan bisa mengembalikan, tapi begitu gue udah bisa ngembalikan uang loe, gue pasti bayar, loe percaya gue kan?" Perkataannya semakin terasa aneh di telingaku, sejak kapan dia kekurangan uang? Untuk apa? Dan seribu tanya yang akhirnya aku telan kembali demi melihat keseriusnya.

"Okey gw janji, gw akan bantu loe, jikapun gw gak bisa menuhi permintaan loe sekarang, gadai nama akan gw lakuin untukmu sobat"

"Maksudnya?"

"Ya jika permintaan loe melebihi kantongku, gw akan pinjam ke kakak, abang atau teman lain, tentu dengan menggunakan namaku sendiri sebagai jaminan" Jawabku. "Dengan satu syarat loe ceritain, sebenarnya loe kenapa?" Ia menunduk sebelum gerak bibirnya lantunkan satu ayat yang bukan saja mungkin mencabik hancur rasanya, sekaligus aku yang mendengarnya.

"Ortu gue cerai, bokap kawin lagi dan adik gue ikut bokap, gue ikut mama" Jawabnya setelah sedikit menguasai diri, "Gue mutusin berhenti kuliah, satu bulan mengurung diri, karena gue belum sanggup menjawab pertanyaan teman-teman, gue malu sob"

Kilas balik, saat aku mengenalnya, sosok itu bukan saja tampan dan rupawan tapi juga darmawan, dengan prestasi di bidang olahraga terutama sepakbola, mampu membuatnya diterima tanpa test di sekolah di Ibukota. Anak seorang penguasaha lumayan sukses yang serba berkecukupan tidak membuatnya lantas sombong, dia tetap santun, dan setia kawan tak butuh waktu lama untuk kami saling akrab dan bersahabat setelah perkenalan pertama. Meski berjarak komunikasi tetap jalan via telepon. Pantas, tiap kali aku telepon, HP-nya tidak pernah aktif, SMS juga tanpa balas. HP-nya ikut dia hancurkan bersama hancurnya keluarganya. Tenangkan hatimu Sob, masih ada bapak dan ibuku, abang dan kakakku, "Loe gak pernah sendiri, tegarlah, sabar dan ikhlaslah, kami masih tetap sama, jangan ada ragu" Ujarku mencoba menghiburnya.

Hidup adalah suatu awal menuju kematian
Hidup adalah suatu pergiliran kebahagiaan dan penderitaan
Hidup adalah suatu kegelisahan dan kelegaan
Hidup adalah kebahagian dan penderitaan

Berbahagialan ketika dirimu menderita dengan bersabar
Berbahagialah dirimu ketika memang harus berbahagia dengan bersyukur
Karena hidup adalah kebahagiaan walaupun sebenarnya menderita hancur

Betapa penderitaan menjadi bahagia kala kita meresapi bahwa kita masih bernafas sementara lainnya harus mati dan fana.
Betapa bahagianya hidup jika kita bersyukur atas nikmat yang ada.
Betapa bahagianya hidup jika kita bersabar atas derita yang ada.

Pelajaran dan hikmah selalu ada di sekeling kita, kalau tak ada yang pantas kita sombongkan dan banggakan, karena jika Tuhan ingin, Dia bisa merubah semua dalam sekejap. Ketahuilah, yang akan kita hadapi akan jauh lebih berat dari yang telah kita lalui, agar kita tidak lupa dan lalai saat di puncak puja-puji. Dan kita tidak akan tau apa yang terjadi esok hari, jika di hari ini kita berhenti. Semangatlah untuk bangkit sahabatku, jangan pernah menyerah. Sepahit pahitnya sebuah kenyataan, akan tetap jauh lebih indah dari indahnya sebuah mimpi, tapi bermimpilah untuk menjaga semangatmu, karena dengan adanya mimpi, kita akan berusaha untuk mewujudkannya.

Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 03 Mei 2011

Bintang


Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah menjelma dihadapanku banyak manusiaMu juga
Aku menyebut mereka teman,
Engkau menyusupkan lebih dari itu,
"Mereka bintangku, di langitMu yang luas"

Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah berdiri disampingku beberapa manusiaMu juga
Aku menyebut mereka sahabat,
Engkau meyakinkan tidak sesederhana itu,
"Mereka bukan bintang biasa, tapi telah membentuk rasi. Di langitMu yang luas"

Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah menetap dihatiku sedikit manusiaMu juga
Aku menyebut mereka saudara
Engkau mengajariku sebuah definisi
"Bintang itu telah bergeser di hatiku, membentuk rasi persaudaraan yang tulus, mengalahkan cahaya di langitMu"

Allah,
Hingga aku tidak sesendiri dan sesepi yang aku kira
Karena banyak yang siap berjalan beriringan bersamaku
Dalam pencarian ilmu dan ridhaMu yang Maha Luas
Terima kasih,
Juga kepada seluruh bintang-bintangku.


Oleh: Ana Falasthie Tahta Alfina (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Senin, 02 Mei 2011

Hacktivis dan Aktivis Sholehah


Berawal dari chatting di Facebook kedua insan ini saling mengenal satu sama lain. Mereka di pertemukan karena hobinya yang sama. Sama-sama suka menulis, satu suka menulis artikel, satu lagi suka menulis puisi.

Seperti biasanya orang yang pertama kali berkenalan pasti menyebutkan nama masing-masing, tempat tinggal, kemudian pendidikan/pekerjaannya bagaimana. Begitu juga dengan mereka, satu hal yang bisa terus membuat mereka semakin akrab yaitu hobinya yang sama-sama suka menulis.

Komunikasipun terus berlanjut, yang awalnya cuma tanya-tanya saja, kini mereka sudah mulai membuka masalah dirinya masing-masing. Bisa dikatakan juga mereka selalu curhat satu sama lain. Akan tetapi lebih sering membuka dirinya adalah si pria. Entah kenapa, biasanya kan wanita yang selalu membuka diri (apa adanya katanya)?

Mungkin umur yang menjadi salah satu faktornya, maklum si wanita lebih tua setahun dari si pria. Akibat dari organisasi Kampus si
wanita yang diikutinya mungkin bisa dikatakan ia lebih dewasa dari pria itu. Organisasi yang mendidik si wanita supaya tidak bersikap kekanak-kanakan dan harus bisa menghadapi semua permasalahan secara professional.

Sedangkan si pria hobinya hanya bisa bermain-main menjelajahi dunia maya dengan komputer miliknya. Bahkan sangat jarang sekali pria itu berinteraksi dengan perempuan, apalagi sampai curhat-curhatan segala. Sepertinya tidak mungkin hal itu terjadi dengan sikapnya yang kasar dan tidak terlalu mengenal akan perasaan orang lain. Apalagi perasaan seorang
wanita yang sejak duduk di bangku SMK tidak bisa mengenal lebih dekat. (SMK = Cowo kabehhhhh)

Kalau dipikir-pikir sebenarnya kondisi mereka bertolak belakang. Mengingat
si wanita yang selalu lemah lembut kepada orang lain, selalu baik hati, dan tentunya “Be smart and beautifully”. Apalagi ia bisa dikatakan sebagai aktivis kampus, pandai bicaranya dan mempunyai nilai idealisme yang sangat kuat di dalam dirinya. Terutama komitmen terhadap agama yang di pegangnya. Ia mengikuti organisasi-organisasi kampus yang tidak keluar dari kata “ISLAM” sebagai pedomannya.

Dia sangat shalihah dan rajin beribadah, kerudungnya juga bukan kerudung biasa, ia mengulurkan kerudungnya sampai menutupi bagian dada dan hampir kerudung yang dikenakannya menutupi bagian perut.

Boleh dikatakan si
wanita itu adalah seorang aktivis Islam yang shalihah dan cerdik, beda jauh dengan si pria yang hobinya itu berada di dunia Underground. Bukan di dunia anak Punk maupun Metal yang digelutinya. Tapi dunia bawah tanah yang ada di jagat maya.

Bisa dikatakan tidak terlalu jelek hobinya itu, Cuma paradigma dari masyarakat saja yang membuat citra hobinya itu di pandang negative. Padahal kalau kita melihatnya dengan ilmu pengetahuan dan akal yang sehat. Apalagi dibarengi ilmu sejarah teknologinya yang kuat, maka kita dapat menemukan bahwa yang ia geluti itu sebenarnya adalah sesuatu yang istimewa yang keberadaannya itu berada di kalangan penyelamat dan bukan perusak.

Dikarenakan kebanyakan dari kejahatan dunia maya (cyber crime) yang selalu diidentikan dengan kata “HACKER”, jadilah kata itu juga ikut tercoreng. Padahal nyatanya tidak demikian kalau kita mau tahu lebih dalam lagi.

Jelas sekarang kedua insan ini memiliki karakter yang berbeda dan sangat bertolak belakang. Lantas apa yang membuat keduanya menjadi semakin akrab saja dari hari ke harinya?

1. Sama Hobi Menulis

Sejak duduk di bangku SMK kelas 2, si pria memang sudah memulai hobi menulis. Diawali dari karya ilmiyah yang ia buat untuk menutupi Absen Bahasa Indonesia yang kosong. Waktu itu ia menulis “Penanganan Masalah Virus Komputer”. Kemudian juga sempat ingin menulis Novel tentang perjalanan hidupnya, namun entah ke mana tulisannya yang sudah memenuhi satu buku tulis tiba-tiba hilang.

Pernah juga menulis tentang cinta. Dikarenakan melihat teman dekatnya yang menyalahartikan cinta di kehidupan yang sedang dijalaninya. Hingga terus berlanjut sampai sekarang ia suka menulis artikel tentang kehidupan dan juga menulis artikel-artikel komputer yang menjadi salah satu hobi pokoknya.

Sedangkan si
wanita hobinya itu suka menulis puisi. Ia sangat pandai dalam merangkai kata-kata untuk puisinya. Bahkan oleh teman-temannya dijuluki sebagai “Sang Pujangga”. Bagaimana tidak, setiap obrolannya tidak terlepas dari rangkaian kata-kata yang mangandung unsur kalimat puisi di dalamnya. Setiap SMS-an mengandung puisi dan ketika chatting pun selalu menulis kata-kata yang sangat puitis.

Bahkan si
wanita itu pernah mengajak si pria untuk menulis puisi bareng ketika chatting di facebook. Pertama si wanita yang memulai chatting menggunakan kata-kata yang puitis, kemudian dibalas juga oleh si pria menggunakan kata-kata yang puitis pula. Hingga terus berlanjut saling membalas satu sama lain sehingga terciptalah satu buah puisi yang mereka rangkai secara bersamaan dengan saling membalas chat.

Dari situlah mungkin keakraban mereka terbangun karena sama-sama hobi menulis. Kadang juga mereka suka saling menukar tulisannya untuk melengkapi satu sama lain.

2. Sama Support Terhadap Islam

Walaupun si pria hobinya di dunia underground, tapi tetap hati kecilnya ia berteriak untuk Islam. Mengingat masa lalunya ia sering disebut-sebut pak ustadz oleh teman dekatnya.

Ketika di kampung halamannya ia pernah mendirikan remaja Masjid dan ia juga menjadi ketuanya. Padahal sebelumnya belum pernah ada yang namanya remaja Masjid di daerah tempat tinggalnya itu. Bisa dikatakan ia menjadi seorang pelopor, ia rubah keadaan anak-anak yang ada di lingkungannya dengan organisasi yang di bawahnya itu. Ia selalu mangadakan acara tadabbur alam, lomba-lomba islami seperti lomba adzan, ceramah, cerdas cermat dan ia juga tentunya mengajar anak-anak yang di bawah umurnya untuk belajar mengaji. Itu semua dilakukannya untuk membawa teman-temannya supaya lebih sadar akan keislaman yang tertaman dalam dirinya.

Di sekolahpun begitu, secara tidak sengaja ia terpilih menjadi ketua Rohis (FSDU saat itu, “Forum Study Darul Ulum”). Alasannya cukup simple, guru agama yang menjadi Pembina Rohis di sekolahnya pernah menawarkan kepada ia dengan nada main-main ketika ia duduk di bangku kelas satu. Waktu itu ia dapati nilai kosong di pelajaran Agama. Guru Agamanya bilang, “Sok siapa yang hafal surat Yaasin, ibu tutup absennya dengan nilai 8?” si pria itu juga tahu kalau gurunya itu hanya bercanda, mungkin dipikirnya anak-anak SMK tidak bakalan mungkin ada yang hafal Surat Yaasiin.

Tapi kebetulan ketika di kampung halamannya si pria pernah hafalan Yaasiin dan sampai saat di tanya gurunya masih hafal dengan lancar. Dengan nada berani ia juga menerima tantangan gurunya itu ; “Oke siap, saya coba terima tawaran Ibu”.

Eh ternyata apa coba yang terjadi? “Bentar ya! Ibu ambil Al-Qur’an dulu ke ruang Guru”. Dikira ibu guru itu hafal juga Surat Yaasiin, tapi ternyata tidak hafal sepenuhnya. Sampai-sampai di wajahnya juga terpancar rasa malu, yang tadinya hanya sekedar main-main ternyata si pria itu memang benar hafal dengan lancarnya ketika ditalar oleh si ibu Guru itu. Jelaslah ini semua dapat mencengangkan si ibu Guru. Karena itulah kemudian si pria itu ditunjuk menjadi Ketua Rohis di sekolahnya.

Si wanita juga sama, ikut Rohis di sekolahnya. Sampai ke bangku kuliah pun ia mengikuti organisasi-organisasi keIslaman. Dari mulai LDK dan organisasi kampus lainnya yang ia senangi. Tidak hanya di Instansi Pendidikan ia seperti itu (mengikuti organisasi-organisasi keIslaman), di kehidupan sehari-haripun ia selalu begitu. Sampai saat ini ia suka mengaji, mengajar anak-anak dan berbagai aktivitas lain yang tentunya sangat bermanfaat bagi lingkungan yang ada di sekitarnya.

Akan tetapi si pria tidak demikian sekarang. Kebiasaan hidupnya tidak sama seperti dahulu dan tidak menyerupai kehidupan yang di jalani si
wanita sekarang. Maklum pergaulan anak muda, mau tidak mau secara perlahan pasti terbawa arus zaman dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Tentunya kita mengenal lingkungan anak-anak SMK tidak terlepas dari citranya yang negative. Siswa SMK lebih arogan dan anarkis, begitu juga dengan si pria itu.

Tapi kenapa sampai saat ini keduanya masih saja akrab di dunia maya bak seorang teman yang saling memahami satu sama lain. Walaupun hanya sekedar chat/SMSan belaka?

Alasannya cukup sederhana, pria itu ingin kembali ke kehidupannya yang dulu dengan bantuan
wanita itu. Karena pria itu merasa hanya wanita itu yang mampu memotivasi kesadaran dirinya untuk kembali ke kehidupan dahulu yang lebih baik dari sekarang. Melihat karakteristik wanita itu yang tepat dengan pola kehidupannya seperti dulu, apalagi wanita itu lebih dewasa dan lebih tua umurnya di banding si pria yang hanya beda satu tahun saja. Sampai si pria bilang ke wanita itu dengan sebutan “TETEHKU”.

Dengan kedua alasan di atas menjadikan keduanya semakin akrab dan saling mengerti satu sama lain. Walaupun kalau dilihat kenyataannya sebenarnya lebih dominan si pria yang lebih membutuhkan
wanita itu. Karena sama-sama suka menulis si pria pun memberikan perhatiannya kepada wanita itu dengan membuatkannya sebuah blog untuk menampung tulisan/puisi yang di tulis si wanita.

Komunikasipun terus berlanjut hingga berbulan-bulan. Namun tak selamanya komunikasi mereka berjalan dengan lancar. Pasti ada satu atau dua kejadian yang membuat keduanya menjadi saling menjauhi satu sama lain (miss kommunication).

Sebagai contoh, pernah dulu ketika si pria berkata, “Wanita muna" ke
wanita itu yang sampai-sampai si wanita marah dan tidak mau lagi berkomunikasi dengannya. Padahal si pria hanya bercanda, akan tetapi anggapan si wanita beda lagi. Bebarapa hari, entah seminggu mereka tidak berkomunikasi. Si pria pun berusaha untuk meminta maaf dengan berbagai macam cara. Ia banyak tanya ke teman deket si wanita yang melalui facebook juga mengenai karakteristik wanita itu bagaimana. Alasannya agar si pria bisa mengambil sikap dalam berkata-kata supaya tidak membuat si wanita tersinggung.

Ternyata
wanita itu sangat peka terhadap perasaannya, sedikit saja tergores hatinya maka akan sulit untuk terobati. Kini baru sadar kalau pria itu harus berhati-hati dalam berkata terhadap seorang perempuan dan ia pun berjanji pada dirinya sendiri supaya tidak akan lagi bersikap kasar terhadap seorang wanita. Begitu juga sikap yang diambil kepada wanita itu. Si pria meminta maaf kepada si wanita dan berjanji tidak akan pernah lagi kasar terhadapnya.

Komunikasipun terus berjalan dan kembali normal seperti biasanya. Si pria bersikap lebih hati-hati sekarang karena takut keceplosan lagi berkata-kata yang membuat hati si
wanita teriris. Hingga suata hari sudah saatnya mereka untuk saling mengenal lebih dekat lagi. Ada satu harapan di antara mereka jikalau mereka berteman tidak hanya sekedar di dunia maya, akan tetapi terealisasi di dunia nyata juga.

Di saat keduanya libur kuliah, mereka mempunyai kesepakatan untuk bisa bertemu secara langsung, cuma si
wanita meminta tidak hanya dia seorang untuk bertemu si pria. Si wanita meminta teman-temannya untuk bisa diajak ikut bertatap muka langsung. Dengan kesepakatan si wanita bawa 3 orang temannya dan si pria sendirian akhirnya mereka pun mengisi liburan kuliah di Bazar Buku Nasional yang diadakan di kota Bogor.

Mungkin disebabkan di dunia maya mereka sudah saling akrab, di dunia nyatapun demikian. Berjalan-jalan mereka mengelilingi bazar itu bersamaan, saling canda dan tawa, keceriaan menghampiri mereka sambil melihat-lihat koleksi buku-buku terbagus dan best seller. Diharapkan mereka juga bisa menulis buku layaknya seorang penulis yang sudah diterbitkan bukunya di bazar itu.

Ketika rasa lelah sudah menghampiri mereka, mereka pun sepakat untuk beristirahat sejenak sekalian menunaikan shalat Dzuhur di Masjid tidak jauh dari tempat bazar digelar. Pertama si
wanita lebih dulu mengambil air wudhu, ketika keluar dari kamar mandi dilihatnya wanita itu dengan wajah yang begitu bersinar memancarkan keceriaan dan wajah yang penuh semangat di iringi senyuman yang begitu menarik perhatian bagi siapa saja yang melihatnya bak bidadari yang turun dari khayangan.

Sejenak si pria menyaksikan pemandangan itu dengan hati sedikit bergetar. Mungkinkah ini yang dimaksud sebagai getaran cinta pada pandangan pertama? “Astagfirullah.....!” sambil mengusap mukanya pria itu lalu bergegas pergi mengambil air wudhu.


*Kelanjutannya bagaimana ya?
Apa mungkin si pria benar-benar jatuh cinta kepada si
wanita? Bagaimana dengan sikap si wanita yang memandang si pria hanya sebatas adik kelas yang butuh bimbingan belaka untuk menjadi lebih baik. Jikalau si pria menyatakan cintanya kepada si wanita apakah si wanita akan menerimanya?

Dapatkan kisah selengkapnya dalam acara Launching Novel yang belum ada judul ini di Tahun 2012. Siapa tahu keburu kiamat jadi tidak kesampaian launcingnya.....hehehe

Nb : Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tokoh atau kejadian mungkin hanya sekedar kebetulan belaka.

Oleh: Mamat Munandar (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......
Photobucket
 

Karya Tulis

Refleksi 02 Mei 2011

Ini hanya bagiku, entah bagi yang lainnya. Setiap hari orang-orang science mempelajari banyak simbol, dari alfabet hingga numerik atau beragam bentuk yang memang sengaja diciptakan sedemikian rupa. Aku tahu simbol-simbol tersebut sengaja diciptakan untuk

Kisah Kehidupan

Demi Sebuah Amanah

Telah lama aku berdiri di sini, di antara keramaian dan hiruk-pikuk terminal Pulo Gadung. Namun tak satupun bus antar kota yang mau berhenti dan membawaku meninggalkan kebisingan ini. Hampir satu jam lebih aku di sini, tapi semua bus antar kota nampaknya penuh semua.

Sastra

Cinta Dalam Hati ( CIDAHA )

Kala cinta datang menggoda Memanggil dan mengetuk pintu hati Lalu singgah ke rumah jiwa Tanpa kata permisi Hhm... Terdengar begitu syahdu menyentuh kalbu Namun, jika ini benar cinta Jangan biarkan cintaku padaMu hilang di hati Perkenankanlah tuk selalu mencintaiMu

© 3 Columns Newspaper Copyright by Website Nathiq | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks