Ungkapan Mutiara

Kita seperti teko, apa yang dikeluarkan maka seperti itulah di dalamnya. Maka berjanjilah untuk selalu membahagiakan orang lain, karena dengan begitu kita membahagiakan hidup kita sendiri (Rosa Rahmania))

Memberi sebanyak yang kita mampu, lalu kita akan menerima sebanyak yang kita butuhkan! InsyaAllah(Luluk Evi Syukur)

Ide-ide gila, butuh orang gila juga untuk mewujudkan semuanya. Demi bumi dan isinyam, baiklah. (Ana Falasthien Tahta Alfina)

Selagi sabar itu ada dalam diri maka selagi itu juga Allah akan mengujinya dan hanya mereka yang benar-benar sabar dapat dengan mudah mengatasi ujianNya (Luluk Evi Syukur)

Selepas ashar nanti Kutunggu di semenanjung hati, mendawai indahnya pelita, kala pelangi berbagi warna, selepas maghrib nanti, Kutunggu di ujung nadi, lantunkan kalam Illahi, hingga Isya hadir kembali (Khasanah Roudhatul Jannah)

Kawan, ingatlah dengan hidup ini, kadang kesusahan dalam mengarungi takdir membuat hidup kita di akhirat nanti menjadi lebih berkualitas. Dan Jangan lah berlebihan di kehidupan ini, karena takut-takut terasa hambar di akhirat nanti. So, Jadikanlah apapun itu tentang kehidupan, lalu rayakanlah dengan kesyukuran.(Adi Nurseha)

Memoar kehidupan yang tak berujung hingga kematian menjemput. Lantas sudah sampai di mana kisah kehidupan ditorehkan? (Luluk Evi Syukur)

Kau yang masih setia mengulum rindu, Kudendangkan senandung lagu merdu, Sebagai pengobat rindu di dada, Sebagai pelipur segala lara, Tersenyumlah sayang, Rindu ini pun masih terus membayang Untukmu duhai kekasih hati Sambutlah syahdunya nyanyian hati (Khasanah Roudhatul Jannah)

Jaga selalu hatimu (Rosa Rahmania)

Tak semua yang diinginkan dapat terwujud sesuai rencana. Pergi saat indah. Allah pasti punya rencana terindah dibalik semua ini. Hanya itu yang bisa menguatkanku saat ini (Yopi Megasari)
Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2011

Dua Patah Kata


Lelapku adalah jembatanku bermimpi, seindah-indahnya tentang banyak hal yang mungkin sulit terwujud di dunia nyata. Imajinasiku adalah ruang angkasa raya, entah. Tapi dari sana aku dapat bermain dengan banyak hal. Memproyeksikan apa yang ada dalam pikiran, membuat analogi yang aneh. Kamu, siapa saja yang dimaksud hati sebagai kamu, seseorang yang telah mengenalkanku pada dunia yang berbeda. Lebih indah dari pada lelapku, juga lebih berkesan dari pada angkasaku. Selamat!!! berhasil menempati rating tertinggi sebagai pendatang asing dalam ruang kosongku.

Aku dan orang-orang yang menginspirasiku mengeja makna, siapapun itu kalian. Bagiku selama ini belajar adalah saat aku dan kalian bisa lebih arif memaknai suatu peristiwa, tidak lantas condong terhadap satu sisi, tapi juga bersedia membelokkan paradigma ke segala sisi, hingga logika dan perasaan bisa dialokasikan secara tepat, masing-masing menjadi pemenang di tampat yang seharusnya berada. Aku rasa semua orang juga mengerti hal prinsipil seperti itu, tapi sejak hidupku bersinggungan dengan sosokmu, aku semakin sadar bahwa mengerti saja tidak cukup, harus ada implementasinya yang membuatku benar-benar terlibat.

Kamu juga tahu bukan kebiasaanku yang begitu plegmatis? Aku merasa tidak pernah punya kesempatan untuk mengungkapkan beberapa hal yang aku pikirkan, sekedar berucap kata negatif yang paling susah sedunia perbendaharaan kata, yaitu kata 'tidak'. Tapi bila terlibat suasana kerja denganmu, aku merasa lebih ringan mengatakan apa yang tidak aku suka, mengemukakan pendapat tanpa takut kamu akan menentangnya habis-habisan. Dan selamat! Aku telah menikmati masa merdekaku menjadi diri sendiri.

Tentang apa yang aku suka, apa yang aku benci, apa yang ingin aku raih, apa yang ingin aku dapatkan sebagai pencapaian. Mungkin tidak terlalu tepat seperti yang aku pikirkan, tapi sedikit banyaknya kamu telah mengingatnya dengan baik. Dengan merasa bahwa ada yang bisa memahami banyak hal tentang kita, maka kita akan lebih belajar untuk bisa memahami banyak hal tentang orang lain. Perlu bukti? pejamkan matamu, lalu berdejavulah. rasakan kebaikan orang-orang di sekitarmu, maka secara otomatis kamu akan lebih ingin berbuat baik kepada mereka. Itulah prokdutivitas kasih sayang manusia.

Paragraf terakhir, jelas bukanlah ungkapanku yang terakhir. Karena aku tidak akan pernah berhenti untuk mengucapkannya sewaktu-waktu, dua patah kata dari perasaanku yang paling sederhana di antara kerumitan logikamu.

"Terima Kasih"
Really Arigatou Ne For Everything.

Oleh: Ana Falasthien Tahta Alfina (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 04 Maret 2011

Cinta Lagi


Cinta, sebuah kata istimewa yang selalu nampak indah dalam lubuk hati setiap manusia. Setujukah kau dengan pernyataanku ini? Kalau kau tak setuju, coba raba hatimu, lihat dan rasakan apa yang ada di sana. Tak sadarkah kau, bahwa setiap senyum atau sapaanmu terhadap temanmu, itu adalah salah satu bentuk ungkapan cinta, bukankah itu sering kita lakukan?.

Ya, kalau sekarang kau sudah setuju, maka sudikah engkau jika cinta tak membuatmu merasakan indahnya dunia? Memang, mungkin ada pengorbanan di dalam pembuktian cinta, tapi pun, jika itu dilakukan semata-mata hanya untuk yang dicinta, semua tak kan jadi penderitaan untuk kita. Malah, kita justru akan semakin merasakan indahnya cinta itu. That’s right?.

“Berikan cintamu niscaya kamu akan dicintai. Berusahalah untuk memahami niscaya kamu akan dipahami. Dengarkanlah niscaya suaramu akan didengar. Ajarkan niscaya kamu akan mendapat pengetahuan” (Ini mengutip kata-kata temanku). Karena sesungguhnya, setiap cinta yang kita beri, maka dengan sendirinya kita telah memberikan cinta pada diri kita sendiri.

Berbentuk apakah cinta yang seperti itu? Aku telah sering merasakannya, yaitu cinta yang berupa ketenangan diri, dan kebahagiaan yang merasuk di kalbu terdalam. Sungguh indah rasa itu, pernahkah kau mencobanya? Cobalah selagi kau bisa. Dan meski, kita pun kadang khilaf terlambat untuk mencoba ketika ladang cinta itu ada di depan mata.

Kuberitahu engkau, kekhilafan itu, bisa seperti keegoisan diri dan ingin selalu merasa diperhatikan. Maka (ini mengutip kata-kata temanku), jadilah cahaya dalam kegelapan, alias “Light in the Dark”. Janganlah selalu ingin diperhatikan atau ingin dipenuhi keinginan-keinginan kita. Tapi fokuslah, pada apa yang bisa kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita, supaya kita menjadi “sebaik-baik manusia”, yaitu yang paling bermanfaat untuk menusia lainnya.

Oleh: Rosa Rahmania (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 25 Februari 2011

Pancingan


Ini sama sekali bukan tentang pelajaran pancing memancing hehehe..., jangankan bakat, pengalaman memancing pertama-pun belum ada...^^

Tapi, entah kenapa muncullah analogi perihal pancing-memancing ini di otak, aneh ya saya!. Tiba-tiba juga muncul pertanyaan "Mana yang lebih berpengaruh di dunia perpancingan? alat pancingnya, umpannya, atau ketertarikan ikannya untuk memakan umpan di pancingan?" hayo tebak yang mana? hahaha...

Semoga bukan analogi yang terdengar aneh, begini!! Saya melihat hidup kita erat sekali dengan konsep pancing-memancing ini, terlebih jika berurusan dengan diri sendiri, motivasi, semangat, keinginan untuk terus memperbaiki diri, dan proses diri lainnya. Biasanya orang-orang yang berprestasi (dalam mind set saya, prestasi ini banyak jenisnya), rata-rata terpancing atau bahasa manusianya termotivasi oleh lingkungan sekitarnya yang lebih dulu berprestasi, atau kalau ternyata lingkungan sekitarnya kurang kondusif berarti dia terpancing untuk menjadi sebuah agen perubahan yang pertama di lingkungannya itu. Itu untuk kasus yang pertama.

Sedang untuk kasus lain, tidak selalu juga sih pancingan tersebut ampuh memancing sesuai niat awal dan harapan kita terhadap sesuatu, hehehe... tentang semangat misalnya, beragam acara telah diikuti, nasehat didengarkan, buku motivasi dibaca, segala film bergenre on fire ditonton. Tapi tetep, jika dasarnya dari diri kita kurang semangat, atau tidak sepenuhnya menerima asupan semangat dari luar. Semuanya akhirnya jadi percuma, tidak membantu sama sekali bukan?

Segala jenis pengaruh dari luar itu semuanya bersifat pancingan dengan umpan yang beragam. Bisa tentang apapun, tentang kebaikan, keburukan, semangat, kemalasan, dan lain sebagainya. Tapi tetap berpengaruh tidaknya pancingan dan umpannya itu tergantung dari kita sendiri, bersedia merespon atau bahkan mangabaikannya.

So, selain harus belajar seperti ikan laut yang tidak ikut terbawa asin meski hidup di lingkungan yang asin. Belajar juga untuk tidak terlalu tergoda dengan pancingan yang umpannya terlihat menggoda dan menarik padahal tidak ada manfaat sama sekali, atau malah mengabaikan pancingan dengan umpan yang bermanfaat buat kedapannya. Pada akhirnya semuanya memang tergantung diri masing-masing individu, diri kita sendiri. :)

**Ada yang jual pancingan hidup yang bagus? hehehe

Oleh: Ana Falasthin Tahta Alfina (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Senin, 21 Februari 2011

Dia dan HambaNya


Semua adalah sunnah kehidupan. Seperti misal, yang hidup akan mati, yang muda akan tua, juga, yang menanam akan memetik hasilnya, Seperti selalu bergantinya kebahagiaan dan kesedihan mengisi rongga dada manusia. Memang hati manusia mudah terbolak-balik, karena ia berada di antara dua jari Allah. Semua adalah sunah kehidupan.

Tak akan ada keabadian, seperti misalnya, dalam sehari kita jarang merasakan senang yang terus menerus dari pagi hingga malam menjelang. Contohnya saja hari ini, hari Senin. hari yang biasanya dianggap sebagai satu hari yang paling membosankan karena kita dituntut bekerja kembali setelah hari kemarin kita bersantai. Jadilah pagi tadi mungkin kita berangkat beraktifitas dengan sedikit malas. Tapi ketika telah berada di tempat kerja, ada suasana baru, ada kesegaran wajah yang baru, ada pula keceriaan yang baru dari teman-teman kita yang punya cerita baru sementara mereka mnjalani libur pada hari sebelumnya. Tentunya hal yang seperti itu akan membuat kita bersemangat kembali memulai rutinitas kita. right? ^_^

Jadi, sekali waktu kamu merasa sedih, janganlah terlalu larut karena pasti nanti akan ada yang lebih membahagiakanmu daripada saat ini, dan jika sekali waktu kamu merasa bahagia, janganlah terlalu senang, sebab kamu tidak akan pernah tau takdir apa yang akan terjadi padamu satu menit setelah ini. :)

Kawan, selalu seperti ini ketika ujian datang. Hati deg-degan, pikiran macam-macam, apalagi yang paling fatal wajah mnjadi tak karuan. hehe...

Tapi semua itu wajar, dan ketika kau mencoba istiqamah dengan kebaikan-kebaiakan yang telah coba kalian lakukan, maka kebahagiaan dan kesedihan seolah hanya akan mampir saja dalam benak kita. Tak akan kita taruh di hati terdalam, karena kita yakin bahwa semua yang terjadi, apapun itu, seruwet apapun itu (hehe...), semua sudah yang terbaik buat kita. Semua akan jadi pelajaran berharga demi semakin dewasa dan bijaknya kita dalam menghadapi kehidupan. ^_^

Allah itu dekat, selama kamu tidak mencoba lari dariNya, Allah itu pengasih dan penyayang, selama kamu tidak mencoba menyakiti makhluk ciptaanNya, dan Allah itu Maha Segalanya, Dialah Sang Maha Pasti, semua usaha kita akan Dia nilai dan Dia juga yang memberi keputusan akhirnya, :) maka, yuk jadi manusia yang mengerti tentangNya, bahwa tidak selalu yang kita inginkan akan Dia penuhi, sebab Dia sayang kita, jadi memberi kita yang terbaik saja.

Harapan manusia hanya menjadi jalan, bahwa Allah akan memberi yang terbaik dari apa yang sebenarnya kita inginkan. Keep Allah in our heart, He always beside us, together with Rasulullah SAW, :) hanya Dia yang telah persatukan ikatan seliaturahim kita semua sampai saat ini dan seperti ini, :) berseyukurlah, karena dari semua ini kita telah belajar tentang sedikit ilmu dariNya utk kebaikan kehidupan kita. ^_^

* This note special for:
1. Yopi Megasari ^_^
2. Kru website Nathiq yang lain, "Mbak Ana, Ka Adi, Mbak Evi, Ka Moes" ^_^
3. All my lovely people, :) dan
4. Untuk yang sedang berusaha meningkatkan kualitas diri di hadapanNya, moga kita semua jadi hamba-hambaNya yang beriman, bertakwa, serta pandai bersabar dan bersyukur, ^_^ amin...

LUV U ALL, ^_^ SEMANGATAAAAAAAAATTTTTTTTTTTT..............! :)

Note ini lebih spesial lagi buat saya sendiri, hehe...

Oleh: Rosa Rahmania (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Rabu, 16 Februari 2011

Krisis Toleransi yang Membabi Buta di Indonesia


Tragedi di Pandeglang Banten dan juga di Temanggung Jawa Tengah memiriskan hati. Irisan itu terasa sekali seakan teriris dengan mata pisau yang puntul atau tidak tajam, sehingga setiap gesekan yang terjadi amat memilukan dan setiap yang tak setuju dengan itu akan menjerit sejadi-jadinya. Mungkin, kita yang sebagian besar hanya menonton di televisi terbelalak dan tercengang melihat kebrutalan manusia yang melebihi hewan dengan perusakan, pembakaran dan penghancuran.

Entah apa yang terjadi, jika manusia tidak memiliki akal pikiran, ah mungkin manusia akan menjadi makhluk yang mengerikan melebihi ikan Piranha yang hidup di Amazon sana, yang mampu memakan mangsanya dengan penuh kebrutalan dan kesadisan. Kurang lebih seperti itulah apa yang terjadi di Pandeglang dan Temanggung yang berbau SARA. Apalagi toleransi sudah didengungkan sejak lama, sejak isu kemerdekaan dihembuskan, hingga sekarang, namun apa yang terjadi sekarang ini, seakan-akan lemparan batu, amuk amarah, dan pembakaran mereka adalah hal yang wajar, padahal sudah mencacatkan toleransi beragama yang sudah dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu di Indonesia tercinta ini.

Tulisan ini tak mau mengusik sebab dan asal muasalnya terjadi kekerasan tersebut, penulis akan mengesampingkan penyebab mereka melakukan hal tersebut tetapi penulis hendak mengupas bagaimana cara mereka beramar maruf nahi munkar. Mungkin sebagian orang dari mereka akan berkata, “Lihat dahalu sebab-sebabnya donk, kami melakukan demikian karena mereka sudah melewati batas kewajaran”. Ah, itu hanya dalih dan bukan dalil. Mungkin jika dalih semacam itu sudah menjadi pegangan semua pemeluk agama, maka sudah pasti kekerasan, kerusuhan, dan kehancuran sudah menjadi hal yang lumrah di dunia ini dan bahkan kehidupan ini akan berubah menjadi mencekam.

Saya bertanya kepada sang membuat keonaran atas nama amar ma’ruf nahi munkar itu, apakah Islam mengajarkan demikian, kekerasan, kerusakan dan kerusuhan? Apakah dalam berdakwah harus melempar batu, membakar barang-barang, merusak fasilitas? Apakah tak ada cara yang lain yang lebih bijak untuk melakukan ibadah amar ma’ruf nahi munkar? Atau kalian akan menjawab, “Karena pemerintah lamban untuk bertindak!”, lalu saya akan bertanya lagi jika demikian, apakah sah kalian membabi buta seperti itu walaupun pemerintah lamban? Apakah boleh jika orang lain tersakiti dengan perbuatan ibadah anda? Saya kira, orang awam pun tau bahwa melakukan ibadah harus lah menyenangkan hati orang lain, bukan membuat orang lain miris. Rasa-rasanya, mereka melakukan demikian karena ingin melakukan kekerasan dengan kedok agama.

Ingat! Islam adalah agama yang lembut, agama yang berbudi pekerti, agama yang santun dan agama yang bijak. Islam tidak mengajarkan kekerasan walaupun ayat jihad tersebar luas di al-Quran, karena makna jihad pada zaman sekarang sudah mengalami pergeseran makna, jadi jihad sekarang tidak harus mengangkat pedang atau mengantar nyawa, namun jihad sekarang lebih luas lagi yakni segala sesuatu yang dilakukan untuk kepentingan kebaikan dan keindahan islam, itu semua adalah jihad. Islam tidak mengajarkan keonaran walaupun maksiat merajalela. Dan Islam pun tidak mengajarkan menyakiti hati orang lain walaupun orang lain tersebut berbeda keyakinan dengan kita.

Rasulullah Saw. bersabda dalam sabdanya:

"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia merubah hal itu dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaknya dia ingkari dengan hatinya dan inilah selemah-lemah iman." (HR. Muslim no. 49)

Sabda Rasul di atas, menunjukkan tingkatan beramar maruf nahi munkar. Jika kita bisa dengan tangan maka lakukanlah dengan tangan, jika kita hanya bisa dengan lidah atau kata-kata maka lakukanlah dengan lisan, bahkan jika kita hanya bisa dengan hati saja lakukanlah dengan hati. Namun ingat, amar maruf nahi munkar dengan tangan bukan untuk semua orang. Tetapi untuk orang yang mempunyai kekuasaan, mempunyai wewenang, mempunyai hukum, dan mempunyai jabatan di masyarakat. Misalnya presiden, beliau berhak menghukum dengan tangan atau penjara jika ada masyarakatnya yang melanggar hukum. Contoh yang lebih simplenya lagi dalam kehidupan rumah tangga, yang memiliki kekuasaan adalah ayah, jadi ayah berhak menghukum dengan tangannya kepada anaknya sendiri jika bersalah, jadi jangan seorang kakak yang menghukumnya bisa-bisa sang adik marah dengan kakaknya, malah bukan menyadarkan sang adik tetapi akan menjadi beringas dan timbul pertengkaran serta perkelahian.

Begitu pun yang terjadi di Pandeglang Banten maupun di Temanggung Jawa Tengah, seharusnya yang bertindak demikian itu pemerintah yang memiliki kekuatan hukum dengan dikomandai oleh polisi. Yang menyegel tempat-tempat yang meresahkan warga dan juga mengamankannya. Bukan para kelompok tertentu yang tak memiliki wewenang dan kekuasaan. Malah, jika kelompok tertentu atau masyarakat yang bertindak seakan-akan penguasa maka yang terjadi bukan memberi efek baik akan tetapi akan menjadi efek buruk yakni balas dendam dan juga krisis toleransi antar umat beragama. Yang lebih parahnya lagi jika hal itu dibiarkan maka Indonesia akan memiliki hukum baru, yakni Hukum Rimba, siapa yang lebih kuat dialah penguasanya.

Seharusnya mereka mengaca seperti zaman para sahabat, ketika masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq, pada suatu saat di zaman itu, banyak orang yang tidak memberikan zakat. Maka penguasa saat itu memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang enggan memberi zakat karena zakat adalah ibadah yang wajib tidak bisa ditawar menawar. Jadi, pada zaman itu bukan sekelompok masyarakat yang mengadili orang-orang yang tak mau membayar zakat tersebut tetapi langsung pemerintahannya yang bertindak. Lalu bagaimana jika pemerintahnya tidak mau bertindak, maka adili pemerintah dengan keritikan yang santun, pembaharuan atau pun reformasi yang bijak, karena bersikap demikian adalah penting sebab lebih baik dipimpin oleh orang non-Muslim yang adil daripada dipimpin oleh orang Muslim namun tidak adil atau lebih baik lagi jika dipimpin oleh orang yang Muslim namun ia bersikap adil dan bijaksana.

Begitu pun dengan lisan, amar maruf nahi munkar dengan lisan ini ditujukan bagi orang yang memiliki hak untuk berbicara. Hak berbicara ini penting. Ada orang yang diberikan hak untuk berbicara dan ada pula yang tidak diberikan hak untuk berbicara. Orang yang diberikan hak untuk bicara biasanya mereka orang yang berilmu atau para ulama. Mereka hanya bisa beramar maruf nahi munkar sebatas dengan lisan, bukan dengan tangan. Bahkan Nabi Muhammad Saw. pun berdakwah hanya menyampaikan bukan untuk merubah, karena yang bisa merubah hak penuh milik Allah bukan Para Nabi maupun Rasul apalagi kita sebagai seorang yang awam, dan Allah yang menghendaki siapa yang diberi petunjuk dan siapa yang tidak.

Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya (QS. Al-Qishashash: 56)

Jadi, untuk apa tangan kita dikotori dengan menyakiti orang lain dan lidah kita memaki dan menghina orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita jikalau petunjuk itu di tangan Allah. Seharusnya kita bersikap santun dan lemah lembut dalam berdakwah dan berbuat baik kepada mereka, seperti apa yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad melalui uswatun hasanahnya. Ketika itu Nabi Muhammad sering diludahi oleh orang kafir ketika Nabi hendak menuju masjid. Hampir setiap hari Nabi selalu diludahi, tetapi Nabi selalu bersabar dan bersabar, Nabi tidak pernah membalasnya. Malah, suatu ketika Nabi terheran-heran, kenapa orang yang sering meludahi Nabi kali ini tidak ada. Nabi merasa ada yang aneh. Lalu nabi pun menanyakan kepada tetangga orang yang sering meludahi itu. Tetangga itu menjawab orang yang sering meludahi Nabi ternyata sedang terbaring sakit di rumahnya. Lalu sejurus kemudian Nabi langsung menjenguknya, dan bahkan Nabi lah orang yang pertama kali yang menjenguknya ketika ia sakit. Sehingga orang yang meludahi Nabi pun berkata “Sungguh mulianya akhlak engkau”, dan seketika itu pula ia masuk islam dengan indahnya.

Pernah juga Rasul memberikan contoh bagaimana bertoleransi kepada non-Muslim, pada suatu saat di tengah-tengah perjalanan Rasul dan Sahabat-Sahabatnya berpapasan dengan keranda mayat orang Yahudi yang sedang digotong menuju pemakaman. Kemudian Nabi berhenti dan menghormati mayit orang Yahudi tersebut. Sertamerta membuat para Sahabat heran dan langsung bertanya, “Wahai Nabi, kenapa engkau menghormati mayat itu, padahal mayat itu adalah orang Yahudi”, lalu Nabi menjawab dengan santainya, “Dia juga manusia kan”. Subhanallah akhlak Nabi sebegitunya hebat dan mulianya, tetapi kenapa ada sebagian kelompok orang yang belum mengerti cara bertoleransi terhadap agama lain. Atau mungkin mereka belum tau, entahlah.

Subhanallah itulah pelajaran bagi seorang pendakwah. Seorang pendakwah haruslah memiliki sikap dan sifat yang lemah lembut dan sopan. Bukan beringas seperti yang ditunjukkan sebagian kelompok tertentu yang lebih mengandalkan fisik ketimbang kesopanan dan kenyamanan. Menurut penulis, perbuatan demikian bukan lah malah akan menyentuh orang yang sedang ia dakwahi, tetapi mereka akan semakin menjadi-jadi.

Tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama islam, sesungguhnya telah jelas jalan yan benar daripada jalan yang salah (QS. Al-Baqarah: 256)

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al An’am: 108)

Dari, dua ayat di atas sudah jelas bahwa bagaimana kita cara berdakwah, pertama tidak ada ada unsur paksaan, dan yang kedua jangan sekali-kali kita melakukan penghinaan terhadap tuhan-tuhan mereka, apalagi hingga perusakan, perusuhan, dan juga menghancurkan, perbuatan itu sudah melebih kapasitas yang seharusnya. Mencaci saja tidak boleh apalagi sampai-sampai membunuh mereka.

Kemudian, cara amar maruf nahi mungkar tingkatan terakhir adalah dengan hati. Jika kita tak memiliki kekuasaan dengan tangan dan tak memiliki hak untuk berkata, maka cukuplah dengan hati atau doa. Dengan hati kita mengingkari perbuatan tersebut dan sangat tidak setuju dengan perbuatan tersebut sambil berdoa agar mereka diberi petunjuk oleh Allah Swt.. Biasanya tingkatan ini dimiliki oleh kebanyakan orang, dan ini juga merupakan perbuatan ibadah yakni beramar maruf nahi munkar dan ketiga golongan ini (Beramar maruf nahi munkar dengan tangan, lisan, dan hati) termasuk ke dalam umat yang baik, seperti apa yang digambarkan dalam firman Allah.

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf (kebaikan), dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imron: 110)

Begitulah yang harus dilakukan. Jangan sampai kita beramar maruf nahi munkar tanpa ilmu bagaimana beramar maruf nahi mungkar yang baik dan santun. Bahkan Nabi pun sangat menghotmati pemeluk agama lain. Jadi sudah seharusnya jika kita pengikut Nabi dan para sahabatnya maka kita pun harus melakukan apa yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat-sahabatnya tersebut. Oleh karena itu jadilah orang Islam secara kaffah dan memahami Islam secara komprehensif tidak setengah-setengah apalagi jika Islam hanya menjadi kedok semata, naudzubillah tsumma naudzubillahi min dzalik.

Oleh: Adi Nurseha

Silahkan Baca Selengkapnya......
Photobucket
 

Karya Tulis

Refleksi 02 Mei 2011

Ini hanya bagiku, entah bagi yang lainnya. Setiap hari orang-orang science mempelajari banyak simbol, dari alfabet hingga numerik atau beragam bentuk yang memang sengaja diciptakan sedemikian rupa. Aku tahu simbol-simbol tersebut sengaja diciptakan untuk

Kisah Kehidupan

Demi Sebuah Amanah

Telah lama aku berdiri di sini, di antara keramaian dan hiruk-pikuk terminal Pulo Gadung. Namun tak satupun bus antar kota yang mau berhenti dan membawaku meninggalkan kebisingan ini. Hampir satu jam lebih aku di sini, tapi semua bus antar kota nampaknya penuh semua.

Sastra

Cinta Dalam Hati ( CIDAHA )

Kala cinta datang menggoda Memanggil dan mengetuk pintu hati Lalu singgah ke rumah jiwa Tanpa kata permisi Hhm... Terdengar begitu syahdu menyentuh kalbu Namun, jika ini benar cinta Jangan biarkan cintaku padaMu hilang di hati Perkenankanlah tuk selalu mencintaiMu

© 3 Columns Newspaper Copyright by Website Nathiq | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks