
Helaan nafas beriring dahaga
Membuat hatiku tersayup bagaikan besi tua
Lelah kaki melangkah di jalan yang terjal
Bersimbah duduk di pelataran rumah suci Tuhan
Terluka dalam gelap gulana
Terombang-ambing oleh ombak setan
Dan terdongkrak oleh ketamakan
Aku mencari tempat persinggahan
Waktu tak main-main
Mata pun sayu dalam dekapan kesunyian
Di tempat yang asing bagi otakku
Aku berjalan tanpa arah melewati setiap lekukan malam
Rumah Tuhan yang kutuju
Mungkin di sana lah bisa kutumpahkan kelelahanku
Namun, tak satu pun rumah Tuhan terbuka
Mungkin Ia murka dengan keputusanku
Langkah kaki tak berhenti
Mencari selisik kebutuhan rohani
Di Rumah Tuhan yang ke empat itu aku berdoa
“Ya Rabb, apa yang harus kulakukan?”
Aku rindu pada purnama
Yang menggelontorkan cintanya untukku
Walaupun malam gelap seakan memakan bayanganku
Namun ia masih setia menemaniku dengan kekuatan cahayanya
Aku rindu pada purnama
Tawa dan candanya membuatku bahagia
Kadang kuberpikir untuk menyerah dalam perjalanan ini
Namun tekad bulatku memberengus semua inginku
Aku rindu pada purnama
Aku pernah berjanji menjadi sang kstaria
Namun pecundang yang sekarang sedang mengangkangi wajahku
Aku kalut dalam dekapan rindu
Wahai purnama
Izinkan sejenak kumeninggalkanmu
Untuk membina hati yang sedang carut marut
Untuk membinasakan jiwa kotor pemberengus jiwa
Wahai purnama
Tetap setialah menantiku hingga batas waktu yang kutuju
Akan kulakukan yang terbaik untukmu
Akan kuberikan kekuatan untuk memandangmu
Wahai purnama
Maafkan aku meninggalkanmu tanpa sepeser katapun
Namun aku yakin kau bijak menemani malam
Dan kau akan berdua denganku di mana pun aku melangkah
* Di tempat pengasingan diri. Puisi ini kupersembahkan untuk orang yang kucintai, dan kru website Nathiq, "Aku bersamamu Kawan!!!, sampai berhentinya nafas yang memisahkan kita"
Oleh: Adi Nurseha Saduki (Profile)
Ungkapan Mutiara
Minggu, 15 Mei 2011
Rindu kepada Purnama
Minggu, 01 Mei 2011
Berharap dalam Senja Shubuh

Hatiku terkoyak lara
Menghembuskan nafas bara
Dalam lamunan duka sukma
Merasuk jiwa menjadi gulita
Ah… seandainya cacing menjadi belut
Akan kumakan habis tanpa melalui mulut
Namun, apa daya takdir Tuhan kuturut
Laksana jiwa yang terombang-ambing oleh kalut
Aku sadar biru tak selamanya indah
Kadang jingga pun hinggap dipelupuk
Sehingga, wahai hati janganlah gundah
Aku akan berusaha jiwa ini kutepuk-tepuk
Tak ada usaha yang kusombongkan
Jika takdir selalu menguntit di impian
Walau aku tak seberapa kenal Tuhan
Yang pasti aku turuti nasib kehidupan
Tuhan, maafkan aku jika jalur ini yang kutempuh
Aku tahu itu amat terjal dan berliku lumpuh
Aku tak menyerah lemas dan tersungkur
Bahkan aku akan menuruti hati yang bergetar
Aku ingin Dia sumringah girang
Akan kukorbankan cita dan cinta yang gersang
Demi, Dia yang kusayang
Karena aku dan hatinya bersatu riang
Sekarang, aku berharap dalam senja shubuh
Dalam renungan doa yang riuh
Air mataku pun menetes berkeluh kesah
Disambar dengan rongrongan suara ayam yangrusuh
Moga Dia lebih kuat menghadapi kehidupan
Yang gelamor dan penuh simpanan kabut kalut
Aku tak mau gantung diri dalam kelana kesendirian
Jika misiku masih bergelanyut dalam setiap rongga kecut
Enam bulan sudah kubertapa
Sesenggukkan mata yang nestapa
Dan linangan amarah juga meluap
Keduanya membuat kehidupanku laksana atap
Maka, izinkanlah Tuhan
Kuingin menepaki takdirMu dalam sorotan harapan
Yang membuat kami merasa tentram dan nyaman
Sehingga aku bisa leluasa bergurau dengan sandi kehidupan
Sekali lagi Tuhan, Izinkan aku
Aku yakin keputusanMu pasti mempesona khusu
Membuatku berjingkrak riang menjadi hambaMu
Lalu, aku mengarungi dawai hidup yang lugu
Disisa kehidupanku
*Untuk Dia yang sedang Uzlah (Menyendiri) semoga sepi membuatnya manis dan berwibawa menyongsong guratan takdir
Oleh: Adi Nurseha (Profile)
Senin, 25 April 2011
Bom itu Membuat Ayah Tersenyum
Bum….
Bunyi yang mengerikan bagi pendengaran manusia. Bunyi yang merontokan jiwa ksatria menjadi jiwa pengecut yang kecut. Goncangannya pun menggetarkan hati yang miris. Bahkan daya ledaknya menghamburkan tubuh anak Adam berkeping-keping. Darah menjadi cat warna merah yang mengerikan, hamparan daging membuat menggidik bulu kuduk. Dan asap setan menghembus berterbangan di angkasa kosong. Aku melongo tak karuan melihat fenomena itu. Lututku seakan lunglai dan ingin bersimpuh lemah di pelataran masjidku ini. Aku melihat para jama’ah terbirit-birit lari, ada juga yang meronta-ronta kesakitan dengan kaki putus, tangan berdarah, kepala memar dan lain sebagainya. Pokoknya suasana yang kurasakan seperti kiamat kubra yang sesungguhnya.
Aku berusaha menegakkan batinku, dan mencoba melangkahkan kakiku menuju bom yang baru saja meledak. Air wudhu masih bergelantungan bebas di wajahku, namun air wudhu itu akan terpental keluar karena desakan keringat gugup dari pori-pori tubuhku. Aku tau, inilah yang harus kulakukan, aku ingin berlari, dan memeluk orang yang kusayangi sambil bersimbah peluh air mata di dekapannya. Dan, saat kuberjalan sempoyongan menuju ke lokasi ledakan bom, perang batin dimulai di dalam jiwaku. Jiwa kotorku mengatakan Ayahku yang menjadi korbannya, dan jiwa yang baik mengatakan Ayahku selamat. Namun, aku tak menghiraukan perang batinku itu aku terus melangkahkan kaki mencari Ayah.
2 jam sebelumnya
“Alif…, sholat jum’at bareng Ayah yuk Nak!” Teriak Ayah di seberang dinding kamarku. Teriakannya khas, karena selalu berteriak jika mengajakku untuk melakukan kebaikan. Pernah Ayah berteriak guna membayar zakat di bulan Ramadhan yang lalu. Jika teriakannya tak disambut, maka sorotan mata marah dari Ayahku akan membuatku bertekuk lutut mengikuti perintahnya. Ah, itulah Ayahku kawan!, selalu unik dan menyeramkan, namun yang pasti baik.
“Iya Ayah!, Alif mau mandi dulu” Kubalas dengan teriakan kembali, maklum jika tidak teriak maka tembok gagah dan pintu pelit menutupi seluruh rongga yang tak akan meloloskan suaraku, sehingga jika berkata dengan volume yang seadanya, sudah pasti Ayah tak mendengarnya, apalagi usianya sudah menginjakkan 50 tahun, kupingnya mulai swasta, sehingga perlu tarikan suara yang lebih tinggi agar ayah mendengarnya.
Air segar menyisir tubuhku, aku berusaha berjingkrak-jingkrak untuk menghapus semua penatku. Aku mandi dengan riangnya, sabun, sampho, sikat gigi, kugosokkan di bagian-bagian tubuhku tertentu, agar sempurna mandi sunnah muakaddah shalat jumatku ini, sehingga shalat jumat kali ini bisa lebih khusu dan menikmati sayyidul ayyam-nya umat Islam.
Kulihat terik mentari menyembul di bagian awan, menyubit pipiku dengan sengatan sinarnya. Mataku pun tak sanggup membalas sorotan mentari yang tepat berada di ubun-ubunku. Andai, mentari bisa kukecilkan daya panasnya, maka akan kulakukan, tetapi nyatanya tak bisa, hanya usapan tanganlah yang bisa kulakukan untuk menghindari guyuran keringat yang mulai berduyun-duyun nongol dari permukaan kulitku. Sejadah butut yang kubawa pun kupakai sebagai alat alternative untuk menangkis serangan mentari, sehingga rasa nyaman akan hadir sejenak di kepalaku.
Aku berjalan bersama Ayah dengan langkah kaki berirama sedang menuju masjid kesayanganku. Tak biasanya, hari ini Ayah tampak bersinar wajahnya, harum minyak yang dipakai Ayah membuatku bangga menjadi anaknya, sorot matanya pun tampak anggun berbinar. Tangannya yang kasar, maklum buruh pabrik, meraih tanganku, entah ada apa, yang pasti Ayah seakan menspesialkanku hari ini, sekali lagi tak biasa.
Tak ada sesuatu yang kurasa, namun yang pasti dekapan tangannya di tanganku membuatku nyaman sekali berjalan dengan Ayah yang kusayangi. Ayah adalah sosok idolaku. Banyak hal yang bisa kupetik dari kehidupannya yang penuh dengan kesabaran dan kerja keras. Menjadi seorang Ayah bukanlah tugas yang amat mudah, perlu keanggunan hati dan keteguhan jiwa agar bisa membuat keluarga harmonis dan indah. Ayahku tak mau berego, apalagi demi kesenangan, beliau sangat mengutamakan kebahagiaan istri dan anak-anaknya yang berjumlah lima orang walaupun beliau harus jungkir balik untuk memetik kebahagiaan keluarganya.
Masjid Nurul Jannah, anggun dan kokoh. Bangunan berarsitektur Turki membuat imajinasiku meluas ke negri Kamal Ataturk itu di daratan Eropa sana. Seakan kuberada di kehebatan kesultanan Utsmaniyah pada pertengahan abad ke dua, yang memiliki kekuatan superior di dunia kala itu. Kulangkahkan kakiku dipelataran masjid itu, dan kusambung dengan shalat sunnah tahiyyat masjid dengan dua rakaat. Takbir pun terlantun dimulutku, dekapan sepi menyongsong pikiranku, hanya lafal Allah yang tersimpan dalam benakku. Ayah pun sama, bergerak sesuai dengan irama penghambaan kepada Tuhan, seakan-akan ini adalah ibadah terakhirnya, khusu dan penuh kedamaian.
Kami pun berzikir bersama sambil menunggu adzan jumat berkumandang. Terlihat tetesan air mata ayah jatuh di sarung warna hijaunya yang lusuh. Isakan tangisnya pun lirih. Aku tak tau apa yang dirasa saat itu, mungkin kehalusan hatinya yang membuatnya begitu mudah untuk menangis. Aku hanya bisa terdiam dan berkata dalam sanubariku tentang kesyukuranku atas karunia Tuhan yang menjadikannya sebagai ayahku, entah apa jadinya jika aku terlahir dan memiliki Ayah yang tak sepertinya, mungkin saat ini aku tak di sini, yang pasti aku bangga dan bersyukur menjadi anaknya, sungguh Ayah idaman bagiku.
“Ayah” suaraku memecahkan semedi Ayahku. Namun itu harus kulakukan, karena aku takut Ayah mencariku.
“Iya?” suara lirihnya bergema, wajahnya melongok ke arahku dengan guratan mata yang merah pekat sambil membereskan sisa-sisa air mata yang masih bergelantungan di pipinya.
“Ayah, Alif ingin buang air kecil”
“Ya udah sana, hati-hati ya. Maaf kan Ayah ya” jawabnya dengan senyum yang mengembang dari kedua bibirnya.
10 menit kemudian.
Aku tak melihat Ayahku. Aku mencari-carinya. Tak kutemukan. Dalam reruntuhan dinding dan atap, kumelihat sejadah Ayah berserakan berkeping-keping. Lalu kumelihat wajah Ayah tergencet balok yang besar, dengan luka yang terdapat di sekujur tubuhnya yang berlumur darah segar.
“Ayaaaaaaaaaaaaaaah…” jeritku. Aku tak menyangka, ini takdir perpisahan aku dengan Ayah. Air mataku tumpah ruah di pelataran pipiku. Dengan seonggok tenaga, kudekati Ayah sambil menangis hebat. Aku tak kuasa menahan sakit dan pilu ini. Hanya buaian air mata yang mampu mengobati laraku yang tak menentu. Sekarang, di depanku, Ayah yang kubangga kan telah mengembuskan nafasnya di Masjidku ini. Terlihat senyum wajahnya masih menganga, aku tau Ayah, engkau khusnul khatimah. Kata maaf yang kau ucapkan tadi adalah kata terakhirmu. Kepeluk mayat ayah, dan kucium ta’zim tangannya. Sambil kuucapkan lirih,
“Maafkan anakmu ini Ayah jika belum menjadi anak yang berbakti kepadamu” tambah deraslah air mataku, tiba-tiba kepalaku pusing tak karuan, lalu gelaplah mataku, tubuhku pun jatuh tak berdaya digundukan reruntuhan, yang kurasa hanyalah tangan-tangan penolong membantuku keluar dari masjid itu dan membawaku ke rumah sakit terdekat, ternyata aku pingsan tak sadarkan diri.
Ayah, sekarang kau tiada. Wangi parfummu tak terasa lagi di hidungku, tubuh yang kokohmu tak terlihat lagi di mataku, suara teriakanmu tak terdengar lagi di telingaku, dan tangan kasarmu tak kurasa lagi ditelapak tanganku. Namun yang pasti, kebaikanmu dan pendidikan yang kau ajarkan kepadaku adalah yang terindah dalam kehidupanku sehingga akan kutanam di jiwa ini selamanya, terima kasih Ayah. Hanya sebuah doa dan kata selamat jalan kupersembahkan untukmu Ayah. Aku berharap kita berjumpa lagi di alam berbeda, dan kuakan memeluk tubuhnya tanda bakti dan sayangku kepadamu Ayah.
Kawan!, nikmatilah kehadiran Ayahmu saat ini. Perhatikan dan lakukanlah yang terbaik untuknya. Karena sosok Ayah adalah pembimbing keluarga yang berjiwa ksatria, tanpa lelah dan mengeluh, jangan sampai mengecewakannya. Buatlah ia tersenyum dan bahagia, walaupun sekarang ia terbaring di alam barzakh, seperti kisah Alif ini. Dan Alif pun ingin melihat senyum Ayah walaupun beda alam.
Oleh: Adi Nurseha (Profile)
Senin, 18 April 2011
Rembulan pun Ikut Takjub di Porosnya

Malam disinari rembulan di sudut langit, terlihat begitu berkesan. Lalu lalang awan hitam mewarnai sang rembulan. Desiran angin khas terasa menyisir sarung yang kupakai. Lambat laun kumulai suka dengan nyanyian alam ini. Musim kemarau mungkin akan melongok manusia yang tinggal di negri Jamrud Khatulistiwa ini, terbukti angin dengan kecepatan tinggi kadang mewarnai pelataran mushalla mungilku, sehingga debu dan sampah kadang beritikaf khusu di mushallaku itu. Namun, aku suka, karena dapat menyaksikan fenomena alam yang indah. Suara gesekan daun membahana, ranting bertabrakan dengan riangnya, sampah plastik bergoyang menjingkrak di alam semesta, membuat suasana begitu riuh rendah dan mempesona.
Malam itu terasa begitu istimewa, setelah kumengajar mengaji di mushalla mungilku itu, aku bergegas pulang, setapak demi setapak kulalui di jalan yang bergelombang dan agak becek, tiba-tiba dalam perjalanan.
Teng-teng-teng-teng
Bunyi itu sedikit mengagetkanku. Bunyi yang tepat bersumber dari belakangku. Aku tahu, bunyi itu akibat tumbukan antara mangkuk dengan sendok. Bunyi yang seakan menebas kesunyian malam yang gelap, seperti tebasan suara para kiyai yang merontokkan para durjana yang bergelimang dosa. Bunyi itu pun yang mampu mengalihkan pandanganku ke belakang. Aku melihatnya, dan ternyata seorang bapak tua yang sedang memikul harapan rezeki dipundaknya yang mulai rapuh dan lusuh itu. Ya, seorang bapak tua yang berjualan sekoteng.
Jalannya begitu semangat sekali tak ada rasa lelah yang nampak, tak menghiraukan beban yang berada dipundaknya. Dengan topi butut yang berada di kepalanya, sembari tangan kanannya mengetuk-ngetuk sendok ke mangkok sebagai alarm khas penjual sekoteng. Yang aku tahu, beliau berumur lebih dari lima puluh tahun, hal itu tampak dengan banyaknya guratan dan rambut putih yang mengeroyok seluruh tubuhnya
“De, sekoteng?” dia menawariku dengan hangat sambil matanya yang sayu menatapku sedikit tajam.
“Oh… ya pak, boleh, satu mangkuk ya pak” kubalas sorotan matanya dengan senyumanku yang ringan. Lalu ia pun tersenyum, sambil handuk yang membelenggu lehernya diusapkan ke jidatnya yang banjir dengan peluh keringat.
Dengan sergap, bapak tua itu mengambil mangkuk, dan meramu sekoteng agar enak di makan olehku. Aku sempat tersenyum dalam hati, di tengah perjalanan kumenemukan seorang yang membuatku takjub, walaupun kuharus berhenti sejenak untuk memakan sekotengnya. Entah syndrome apa yang bergelanyut dalam hatiku, semenjak aku mengenal dunia dengan segala kejadian-kejadian yang membuatku berpikir, aku sering sekali merasa takjub dengan orang-orang yang membanting tulang seperti bapak tua yang satu ini, dahulu aku sering takjub dengan tukang becak, tukang bakso, tukang kuli, sampai tukang penjual areng. Aku salut dengan sosok-sosok mereka, bahkan tak jarang pula aku malu dengan kegigihan mereka dalam mencari rezeki di dunia ini sebagai rasa bersyukur kepada Tuhan.
“Pak, dari mana aslinya?” kumulai membuka pembicaraan agar malam yang sunyi itu terhampiri dengan kalimat silaturahmi.
“Dari Ciamis de, klo ade sendiri dari mana aslinya” Persis seperti asal daerahnya, logat bahasa sunda menempel lekat dalam lidahnya, seperti biasa orang sunda selalu menghadirkan keramahan dan kesopanan dari cara bertutur bahasa.
“Saya dari Cirebon pak, tapi sudah lama di Bekasi, bapak dari jam berapa jualan pak?” kucoba melanjutkan wawancaraku dengan bapak tua ini. Aku ingin menyerap ilmu kehidupan darinya dengan pertanyaan-pertanyaanku. Kumelihat wajahnya merunduk sambil terlihat malu-malu menjawab pertanyanku yang terlihat simple.
“Dari jam 4 sore de” jawabnya singkat
“Oh… terus sudah berapa yang beli pak?” kucoba bertanya yang sedikit rahasia, maklum ingin tau dan mengerti bagaiamana perjuangan hidupnya.
“Mmm… Alhamdulillah sudah dua yang beli, ade orang yang ketiga yang membeli sekoteng saya” senyumnya kembali lepas, sambil merunduk dan memberikan semangkuk sekoteng kepadaku.
Ya Allah… dari jam 4 sore hingga kini jam 9 malam ia baru mendapatkan pelanggan tiga. Namun, bapak tua ini masih berkata “Alhamdulillah”, tanpa ada kata mengeluh sedikit pun. Raut wajahnya yang tampak terlihat bahwa bapak tua ini sangat ikhlas dengan takdir hidupnya saat ini. Sekali-kali kumelihatnya saat kumenikmati sekoteng, tampak ia membereskan peralatan yang sudah dipakai, dan kadang ia melepas keletihannya dengan menghirup udara dalam-dalam.
Kawan, lihatlah bapak tua ini yang sanggup mengarungi bukit kehidupan yang kadang tak selamanya indah. Kadang pula bukit membuat orang merasa was-was, dan tak banyak orang yang tergelincir ke dalam kawah yang mengerikan. Itu lah kehidupan Kawan, laksana berjalan di ujung bukit, indah namun sering kali rintangan menghampiri. Dan hanya orang yang gigih dan kuatlah yang sampai di stasiun keindahan yang sejati. Orang yang kuat bukanlah orang yang bisa mengangkat berton-ton besi, atau bukan juga orang yang pasrah yang mau mengangkat beban penderitaan kehidupannya, namun yang kupahami orang yang kuat adalah orang yang seperti bapak tua ini, yakni yang menjalankan kehidupannya tanpa mengeluh, bahkan bersyukur dan penuh jiwa kesabaran dan ketawakalan, inilah kesatria sejati Kawan!
Awan mulai menyingkir di pelukan rembulan, sehingga membuat rembulan pun melotot dengan cahaya yang menawannya, saat kumenatap ke langit-langit tampak rembulan tersenyum, senyuman rembulan itu kuyakin dibingkiskan kepada bapak tua itu, rembulan rupanya bangga dengan bapak penjual sekoteng ini. Jarang dan bahkan langka orang yang seperti ini, sehingga rembulan pun ikut takjub di porosnya.
Kusodorkan uang untuk membayar satu mangkuk sekoteng, ucapan terimakasih lah yang terucap dari mulutnya yang sunyi. Hanya sebuah doa yang bisa kupersembahkan kepadanya, doa yang kuungkapkan dalam relung hatiku yang terdalam, doa sebagai makhluk Allah yang penuh dengan pengharapan, dan doa dari hamba yang lemah dan penuh dosa ini, “Ya Tuhan, kutau takdirMu adalah keindahan, semua orang akan berjalan dengan takdirMu yang kadang membuat orang murka, senang, maupun bahagia, namun yang pasti Tuhan, bapak tua penjual sekoteng ini menjadi saksinya bahwa ia amat bangga dalam mengikuti takdirMu, maka kumengharapkan kepadaMu agar Engkau selalu memberi ketabahan hati dan kekuatan jiwa untuk selalu tersenyum dalam rentetan takdirMu, amin”.
Oleh: Adi Nurseha Saduki (Profile)
Sabtu, 09 April 2011
Senja Mengapit Usia

Dalam senja mengapit usia
Rentetan sepi menelusup ke batin tanpa pamit
Takdir Tuhan menelisik dari jarak waktu
Aku kini Tuhan, bukan yang dulu.
Lara terasa di batinku
Inginku bersenda gurau sejenak dalam kehidupanku
Ingin menari dengan burung camar
Atau bermain dengan pelangi yang ramah
Namun kuteronta-ronta dalam kebodohan dan kealpaan
Mati suri dengan kegamangan
Lelap dalam kesenangan liputan nafsu
Dasar, aku memang pecundang kelas kakap
Oh awan, bantulah aku terbang mengitari planet yang sombong ini
Atau bantulah aku mengenal pasir putih di pantai
Bercium mesra dengan lahan dan semakbelukar
Dan terbangun menjadi orang yang kaya
Tuhan, usiaku tak muda lagi
Digerogoti oleh rayap-rayap busuk lalu dimuntahkannya
Usiaku berserekan di mana-mana
Lendir, cairan, dan bau menggambarkan usiaku ini
Badanku yang kuat dulu, mencair dengan kemaksiatan
Ototku yang besar dulu, menciut disantap dedemit kotor
Mataku yang tajam, puntul terisolir gerigi
Apa dayaku saat ini? Masih kah sombong?
Senda gurau yang kubanggakan musnah
Keinginan yang meletup-letup pupus sudah
Rasa kesenangan terkekang dalam ketabuan
Yang ada, usiaku sudah mengapit ke senja
Oleh: Adi Nurseha (Profile)
Minggu, 03 April 2011
Tentang Arti Mutiara Persahabatan

Di saat dadaku sesak bergumul debu
Kuberlari terlunta-lunta mendekati sudut bumi
Aku pandangi sampai mataku bernanah
Dan dadaku kian lara
Aku tak suka sepi
Aku pun tak suka lemah
Sehingga, kubertanya kepada bibir pantai
Tentang arti mutiara persahabatan
Desiran ombak dan bergrombolnya buih-buih lucu
Menjawab semua pertentangan hatiku
Tentang arti kebersamaan sang buih-buih
Dan tentang arti keindahan sang desiran ombak
Namun, aku tak puas
Di saat buih-buih bergerombal, menghilang begitu saja dimakan waktu
Dan ombak pun begitu jahat jika membesar melebihi kapasitas
Ah, semakin kalut dan samar lah hatiku
Aku berlari terbirit-birit ke ujung langit
Di sana kumenemui mentari dan rembulan
Mereka hanya diam seribu bahasa
Hanya sinarnya yang melambaikan jawaban kecil
Malam dihiasi rembulan kelembutan
Siang dipandangi mentari yang kasar
Tahu kah Kawan! Mentari dan rembulan kerja sama
Membuat langit begitu ayu nan ramah
Lagi, lagi, dan lagi
Aku tak puas
Saat mataku terpejam, maka rembulan dan mentari menghilang
Padam dan luluh di makan kelopak mata
Akhirnya kutertunduk lemah dipelataran kosong
Tanpa hawa dan tanpa waktu
Merah padam mataku tertuju
Luka hatiku semakin membusuk tentang kegamangan
Kedua lututku pun bersetubuh dengan bumi
Sambil mata menikmati heran kenangan yang lalu
Kumencoba bertanya kepada sisi tubuhku yang terkecil
Wahai hati, jawablah pertanyaanku itu, kumohon!
Ahay, aku mendapat jawaban di sana
Bahwa sahabat adalah kebersamaan
Bukan sepi dan menyendiri
Tak hilang dimakan usia dan lara
Terimakasih wahai Hati!.
Kupersembahkan untuk sahabatku, Muslimin, Ana Falasthin TA, Rosa Rahmania, Yopi Megasari, Luluk Evi Syukur, dan Didi Suardi
Oleh: Adi Nurseha Saduki (Profile)
Kamis, 31 Maret 2011
Pak RW adalah Ayat KauniyahMu Tuhan

Ini adalah sebuah aksi, revolusi harga mati, demontrasi membabi buta, perang urat syaraf, adu jotos, dan bahkan perang militer. Dan ini pula sebuah rasa, teriakan, histeris, mencekam, naik pitam, murka, kalut, dan ketidakpercayaan. Itulah Kawan fenomena terkini tentang bumi tercinta kita, bumi yang katanya penduduknya selalu mengusung perdamaian dan ketenangan. Namun gonjang-ganjing kerusuhan semakin menguap bagaikan para predator yang kelaparan mencari mangsanya. Coba kita mengintip sejenak tentang revolusi di Timur Tengah, Sudan, Mesir, Tunisia, Yaman, dan yang paling menghebohkan serta menegangkan layaknya melihat perang dunia ke II yakni apa yang terjadi di Libya.
Sudah tau kah kawan!, berapa juta manusia yang terpaksa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ayah, ibu, anak, dan pelajar demi meruntuhkan sang penguasa yang zalim. Berapa ribu orang yang terkapar mati dan tertunduk luka demi menggoyangkan sang pemimpin yang tidak adil. Dan berapa ratus orang yang baik, yang terpaksa bingung harus bersikap apa melihat fenomena lucu tersebut. Ah, jika dikalkulasi sudah banyak yang dirugikan dengan kehadiran satu manusia, yakni Pamimpin Zalim.
Apa yang terjadi? Apakah krisis kepercayaan kepada pemimpin yang melanda di bumi manusia ini? Bukan hanya terjadi di pemerintahan sebuah Negara, bahkan sebuah organisasi yang di bawah pemerintahan pun sampai-sampai terjadi demikian. Contohnya saja baru-baru ini revolusi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Aku sebagai pecinta sepakbola nasional merasa heran dengan kejadian tersebut, dan merasa khawatir akan imbas terburuk bagi perkembangan sepakbola Indonesia ke depannya. Lihatlah Nurdin Halid dan para kroninya sepertinya ingin menguasai tahtanya dan enggan meletakan jabatannya, padahal hanya seorang ketua PSSI, bukan Presiden, heran!.
Coba bayangkan, pada zaman dahulu pemimpin adalah jabatan yang ditakuti oleh semua orang, mereka takut akan ketidakamanahannya sebagai pemimpin, bahkan mereka takut bila ada rakyatnya yang kelaparan di ujung desa yang luput dari penglihatannya, sehingga menjadi pemimpin adalah pekerjaan yang sangat sulit, apalagi jika musim berperang tiba, maka pemimpin lah yang terdepan dibarisan pasukan. Namun, tahta pemimpin sekarang sudah menjadi bidadari cantik yang semua orang ingin meminangnya, diperebutkan, bahkan dengan segala cara ia akan dilakukan demi mendapatkan sang bidadari. Bahkan, jika sudah meminang bidadari cantik tersebut maka ia enggan mentalaqnya untuk diserahkan kepada orang lain, padahal sang pemimpin tersebut hanyalah nikah mut’ah, yang terbatas waktunya, maka jangan heran bila adu jotos, kecurangan, money politic, saling hasud, saling menjatuhkan, bahkan genjatan senjata terjadi di mana-mana. Wahai pemimpin yang adil, seharusnya berikan kesempatan kepada orang lain, kepada generasi muda yang memiliki potensi diri untuk mengembangbiakkan bidadari cantik sehingga menjadi kedamaian bagi semua makhluk.
Aku jadi teringat kisah dalam perjalanan kehidupanku. Aku pernah bertemu dengan pemimpin-pemimpin yang hebat di kampungku ini. Salah satunya sebut saja namanya bapak H. Nurossin NH. tapi sering dipanggil Pak Ade atau pak RW, beda-beda tipis dengan namaku (hehehe). Beliau adalah ketua Rukun Warga (RW) di kampungku. Sebelumnya aku tak mengenalnya sama sekali, maklum sudah hampir lebih dari 7 tahun aku meninggalkan kampung halamanku demi memulung ilmu di negri para sihir itu. Aku mulai mengenalnya ketika aku hendak mengadakan sebuah acara Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. yang diisi dengan perlombaan tingkat kelurahan dengan judul PRIMA Competition 2011.
Seperti acara-acara keagamaan lainnya, acara Maulid yang akan kuagendakan dengan remaja mushalla ini juga butuh biaya yang tidak sedikit. Sehingga aku dan para remaja lainnya berusaha memeras keringat untuk memohon sumbangan dana ke warga sekitar. Alhamdulillah, dari anggaran yang kita tentukan sekitar 7 juta, bisa terkumpul kurang lebih 4 juta. Walaupun baru terkumpul setengahnya, namun kami optimis mampu mengadakan dua agenda besar itu (Maulid dan perlombaan).
“Assalamualaikum” suara halus membelenggu telingaku, sopan dan penuh dengan ketawadhu’an.
“Waalaikum salam” sahutku, kuingin mengimbangi salam yang penuh keseponan itu dengan jawaban yang lembut pula walaupun tidak sesempurna kelembutan salamnya
Asing wajahnya bagiku. Berpakaian rapih ala orang kantoran, namun tanpa dasi. Warna kuning kemejanya cocok dengan paras wajahnya yang rupawan. Peci yang dikenakan pun tampak seimbang. Tak ada kekurangan yang kulihat. Malah ada kelebihan-kelebihan terutama tentang akhlaknya. Beliau datang secara tiba-tiba ketika aku sedang berbincang-bincang dengan remaja yang lainnya di mushalla mungilku.
“Ust, kenalin, ini adalah ketua RW kita, yang sering saya certain ke ustadz” ujar Ustadz Edi Hamdi, ketua panitia peringatan Maulid dengan sambil memandang ke arahku.
“Oh…iya Pak RW” jawabku seadanya dengan seutas senyum yang menganga di kedua bibirku, jujur ketika itu aku grogi. Bukan apa-apa, memandang wajahnya seperti air yang bersih dan tenang. Tanpa ada raut wajah seorang yang penuh ambisi dan rakus. Yang ada hanyalah aku merasa adem dan nyaman berada di sampingnya. Tatapan matanya pun sungguh membuatku ta’zim kepadanya. Walaupun aku belum menganalnya secara mendalam, namun ketika kumelihatnya seakan aku sudah mengenalnya puluhan tahun yang lalu.
Kami pun mengobrol dengan cantik di mushala mungilku itu. Berbincang-bincang yang cukup lama. Menganai siapa ketua RW sesungguhnya dan juga mengenai persiapan maulid Nabi yang akan kami adakan.
“Saya amat bangga dengan para remaja di mushalla ini yang sangat bersemangat dalam membuat acara semacam ini” ujarnya diplomatis dihadapan para remaja yang kebanyakan masih sekolah SMP dan SMA. Tampak teman-teman remaja menyimak orasi pak RW dengan kerutan dahi dan tatapan mata yang tajam tanda mereka sangat memperhatikan. Entah apa yang membuat mereka terhipnotis dengan ucapannya. Padahal menurutku kata-katanya biasa saja dan sering didengar. Namun ada kewibawaan yang timbul dari setiap petikan katanya, suara yang terlontar lembut seperti sutra yang cantik, tak terlihat kesombongan yang menganga di parasnya, malah yang ada hanyalah sebuah kerendahhatian yang menari-nari di pelupuk matanya.
“Nanti, kalau ada kekurangan dan kebutuhan yang belum terpenuhi, bilang saja ya sama saya, insya Allah saya akan membantu semampunya” lanjutnya, perhatiannya membuat kami tenang. Didukung oleh pemerintahan bukanlah hal yang mudah. Contohnya saja ketika kumengirim proposal ke Pak Kepala Desa dan bertemu dengan kepala desa. Aku ingin meminta bantuan soal piala perlombaan, namun aku sudah disekakmat dengan kata-katanya yang serasa diplomatis.
“Sudah kalian sebar dulu undangan perlombaannya, nanti klo memang responnya banyak, insya Allah akan saya bantu” janjinya ketika itu. Namun apa yang terjadi, ketika undangan sudah disebar, dan respon pun begitu positif, aku pun menagih janjinya. Dan ketika aku datang di kantornya, tanpa basa-basi ia menyodorkan sebuah amplop putih yang berisi lembaran uang kertas yang tak bisa kumenerowong ada berapa isinya. Aku pun tanpa diberi kesempatan untuk berbicara dengannya, semua perbincangan dikuasai olehnya. Aku yang hanya rakyat biasa ingin menagih janjinya, namun mungkin pak kepala desa sibuk sehingga tak memberi kesempatan kepadaku untuk berdialog secara intensif. Alhamdulillah, walaupun tak sesuai dengan janjinya, namun sumbangan itu patut aku syukuri.
Tanggal 20 maret menghiasi kalender laptopku. Acara maulid pun di mulai, diiringi dengan suara kembang api yang menggema di langit-langit membuat terkaget-kaget sekawanan semut dan kumbang. Alhamdulillah, acara maulid pun berjalan, dan pak RW lah yang membantu semua kekurangan dana yang kami butuhkan. Ketika pak RW memberi sambutan di acara maulid, kata-kata yang paling kukenang selamanya adalah:
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, maafkan saya jika selama saya menjabat sebagai ketua RW masih banyak kekurangan di sana-sini. Belum maksimal dalam memperhatikan ibu-ibu dan bapak-bapak. Saya takut dengan jabatan ini pak, saya merasa belum bisa amanah dalam menjalankan roda ketua RW ini. Apalagi kesibukan saya sebagai pedagang cabai membuat perhatian saya kepada ibu-ibu dan bapak-bapak sedikit tersita, sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya”
Subhanallah, tiap helaan kata-katanya membuatku tersentak. Adakah pemimpin yang sepertia beliau sekarang ini? Padahal yang kuketahui saat berinteraksi dengannya, beliau adalah pemimpin yang amanah dan perhatian. Bahkan ia menyumbang dana terbesar acaraku dan dananya bersumber dari hasil penjualan cabainya. Ia tak mengambil untung dari kepemimpinannya, namun malah ia berusaha keras untuk mensejahterakan rakyatnya dengan dana pribadi dari usahanya sendiri sebagai penjual cabai.
Kawan, sosok pemimpin adalah idaman bagi semua laki-laki. Lalu, apakah kita sudah siap menjadi pemimpin yang amanah dan adil? Apakah siap kita berkorban demi rakyat? Apakah siap memperhatikan rakyat dengan segala kemampuan yang ada? Alangkah sulitnya bukan? Namun, sebagai laki-laki yang punya selera, sesulit apapun cobaan dan rintangan maka ia akan lalui, oleh karena itu yuk mari kita berbondong-bondong menjadi pemipin yang amanah dan adil, amin.
Malam menghiasi pelupuk mataku. Rasa kantuk yang terasa seakan terhapus dan terbang ke angkasa dengan kesuksesan acara maulid dan perlombaan di mushalla mungilku. Wahai Sang Penggerak jiwa manusia, ayat-ayatMu sungguh indah, membuat hatiku terbirit-birit ketakutan jika mengingkari ayatMu, dan membuatku bahagia ketika kujatuh indah dipelukan ayat-ayatMu. Ya Rabb, Ayat KauniyahMu menakjubkanku, Pak RW lah ayat KauniyahMu, yang menyadarkan diriku untuk bertekuk lutut di mimbarMu sambil melelehkan air mata syahdu karena belum mampu menjadi hamba yang terbaik bagiMu. I love you Tuhan.
Oleh: Adi Nurseha (Profile)
Minggu, 27 Maret 2011
Nanda dan Manda sebagai Peringatan Untukku

Suara adzan maghrib menggema, menelusuri setiap pelosok bumi, dengan nada suara yang berbeda-beda, ada nada suaranya seperti terpelintir lelah, ada pula nada suaranya seperti keroncong khas Sunda, dan ada pula nada suaranya seperti adzan Mekkah. Namun satu hal yang pasti yaitu lafaz yang diucapkan sama, mentauhidkan Tuhan, mencintai Rasul, mengajak kebaikan dan bersama-sama meraih kemenangan. Ya Tuhan sungguh indahnya Islam, ah seandainya Islam adalah sosok wanita, mungkin aku hanya bisa terbelalak dengan mata yang hampir lepas dan mulut menganga lebar tanpa henti, kemudian dalam hatiku bergema, subhanallah indahnya wanita ini. Khayalan yang basi menurutku, namun sebagai seorang pemuda, khayalan seperti itu sangat cocok bagiku.
Sorban hijau yang dihiasi dengan corak emas kutautkan di antara leherku, minyak maskulin jelly kuusapkan keseluruh bagian baju, peci yang tergeletak di meja belajar ingin segera digendong di atas kepalaku. Adzan maghrib itu sungguh aduhai mampu menarik hatiku untuk menghampiri mushalla. Ajakan yang tak bisa kuganggu gugat, dan ajakan yang sulit untuk ditolak, apalagi untuk bertemu Sang Maha Cinta, Allah. Kuhempaskan kakiku pelan-pelan, dengan diiringi perasaan yang bahagia. Bismillahi tawakaltu ala Allah, ya Rabb terima kasih masih memberiku kesempatan untuk bisa shalat berjamaah di mushalla mungilku itu dengan dua pasang kaki yang masih kuat tegar, padahal banyak saudara-saudaraku yang seiman harus menggugurkan niatnya untuk memakan jamuan shalat berjamaah dikarenakan kedua kakinya lumpuh dan lepra tak berdaya. Lalu untuk apalagi hidupku ini selain untuk bersyukur kepadaMu.
Langkah demi langkah ketelusuri, kumelihat anak-anak kecil berpakain rapih disertai peci yang lucu berlari-lari menuju mushalla, para ibu-ibu sedang sibuk merapihkan sejadahnya di pelataran mushalla dan memakai meukena yang putih indah, dan pelantun shalawat bershalawat sambil menunggu waktu iqamah datang. Indahnya suasana ini, ini Indonesia Kawan. Dua tahun kutinggalkan Indonesia, dan sekarang kubisa menghirup bau wangi lantai mushalla mungilku lagi di Indonesia dengan tersenyum. Aku benar-benar rindu, dan amat rindu bahkan.
Sesampainya di mushalla dengan suasana yang terang bersinar karena lampu yang menghiasinya, walaupun di luar sana senja mulai memudar berganti dengan kegelapan malam. Aku teringat pepatah orang tua dulu untuk anak-anaknya yang masih kecil, “Nak, jangan keluyuran ketika senja memudar, nanti di makan gandaruwo loh!”. Pepatah yang menakut-nakuti, namun menurutku pepatah itu serat makna, apalagi jika kita maknai agar si anak mau mengaji dan belajar, bahkan jika sampai-sampai mengaji bersama di mushalla atau masjid terdekat.
Benar saja dugaanku, di barisan terdepan tepatnya pojok kanan mushalla kumelihat seorang anak kecil berumur dua tahun sedang duduk khusu. Aku tak melihat jelas siapa dia, maklum aku baru menginjakkan kakiku di mushalla ini lagi. Kumelihat cara duduknya bukan seperti anak kecil seusianya, lebih persisnya seperti orang dewasa yang mengerti betul tentang adab sopan santun di mushalla. Dengan duduk bersila, matanya menerawang ke tembok, jari telunjuknya sedang digigit ke mulutnya, apalagi peci warna birunya miring berat ke sebelah kiri. Namun semua itu tidak membuatku kehilangan rasa takjub, malah aku menyalutkan ini terjadi, bahkan aku merasa heran dengannya, bayangkan anak sekecil itu sudah berlaku seperti orang dewasa yang siap untuk berjamaah shalat maghrib di mushalla mungilku.
Nanda namanya, kuberkenalan dengannya seusai shalat. Ia tampak lugu dan pendiam. Apalagi mungkin aku masih asing di matanya. Kulihat wajahnya syahdu, mata yang bulat, dan bentuk tubuh yang mungil membuatku terkesima dan ingin menciumnya tanda banggaku padanya.
“Nanda ke sini sama siapa sayang?” kubertanya seperti wartawan yang sedang mewawancarai seorang pahlawan yang besar.
“Sama kakak” jawabnya singkat dengan tangan kanannya menunjuk ke arah seorang wanita yang berusia sekitar enam tahun. Wanita itu sedang merapihkan meukenanya yang berwarna kuning dengan hiasan bunga-bunga cantik. Lalu tiba-tiba wanita itu menengok ke arah kami berdua dengan setangkai senyuman khas wanita kecil.
“Nanda!!! Sini deh” wanita kecil itu memanggil adiknya dengan lambaian tangan. Serta merta Nanda langsung berlari-lari kecil ke arah kakak wanitanya itu.
“Nanda salaman dong sama Aa Adi sana, masa diem aja, ga sopan tau” kakaknya berusaha menasehati sang adik. Nanda pun hanya manggut-manggut dengan jari telunjuk yang masih digigitnya. Rupanya kakaknya sudah tau namaku. Lalu kumendekati mereka berdua. Dan Nanda pun dengan sigap mengulurkan tangannya kepadaku, dan mencium tanganku sebagai rasa hormatnya kepadaku sesuai dengan perintah sang kakak. Dan reflek tangan kiriku mengelus kepalanya sebagai tanda bahwa kuamat sayang padanya.
Manda. Ya itulah nama kakaknya. Terpaut empat tahun membuat mereka berbeda kedewasaan. Nanda berumur 2 tahun yang masih menggigit jari telunjuknya. Dan Manda yang selalu berusaha menasehati adiknya itu walaupun menurutku agak sedikit cerewet untuk anak seusianya. Mungkin ini adalah hasil buah karya orang tuanya yang mendidik anak dengan penuh perhatian sehingga memiliki anak yang luar biasa ini.
Seminggu, sebulan, dua bulan dan seterusnya, kuselalu memperhatikan mereka berdua, Nanda dan Manda. Di kala adzan maghrib menggema, maka kedua anak ini dengan langkah kaki yang semangat menderapkan kakinya menuju mushalla. Nanda dengan peci biru yang miring ke kiri khasnya, dan Manda membawa meukena di tangan kanannya serta tangan kirinya menuntun adiknya yang masih imut dan kecil itu.
Bukan hanya itu, kesalutanku bertambah kepada mereka berdua, di saat air liur udara mulai menetes, udara sejuk kedingin-dinginan merasuk pori-pori tubuh, di ufuk timur terlihat guratan mentari siap menongol, sedangkan atapku sekarang masih gelap gulita, hanya ada suara jangkrik dan kodok di sungai samping rumahku yang membahana. Ya di saat shubuh buta, mereka pun sama seperti waktu maghrib, Nanda dan Manda berduyun-duyun ke mushalla untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Padahal, sebagian besar anak seumurnya masih menghembuskan nafasnya di ranjang empuk, dengan kipas angin yang masih menyiulkan anginnya, dan lebih parahnya lagi jika orang tuanya pun mendukungnya dengan mengorok seenak mulut. Namun, mereka berdua tidak, membuka matanya lebar-lebar, membasuh wajahnya dengan air wudhu, dan menderapkan kakinya untuk menuju mushalla yang kurang lebih berjarak 50 meter dari rumah kontrakkannya.
Dan hari ini, mentari sedang menyengat, mencubit para kuli yang membanting tulang untuk menafkahi anak-istrinya. Para pelajar pulang sekolah nampak kehausan ingin minum seteguk air atau berendam di hamparan batu es yang sejuk. Setelah kumengimami shalat dzuhur, nampak Nanda hadir, namun kali ini ia tidak bersama kakaknya, Manda. Kudekati dia.
“Nanda, loh ko sendiri? Mana ka manda?” tanyaku sambil tersenyum simpul kepadanya.
“Ka Manda lagi disuruh ibu ngambil air” jawabnya lugu.
“Lah emang Nanda di suruh ke Mushalla ya ama orang tua?”
“Iya, ummi ama abi yang nyuruh”
Subhanallah, di balik anak yang shalih terdapat ibu dan ayah yang hebat pula. Inilah kawan, sebuah kisah nyata yang membuat kita akan tersentuh. Aku pun ingin menangis bangga melihatnya. Atau aku ingin menangis karena malu kepada diriku ini. Ia berumur 2 tahun, sedangkan aku 22 tahun, namun kebaktian dan kecintaannya kepada Tuhan melebihiku. Terima kasih Tuhanku, kau telah mengirim Nanda dan Manda sebagai peringatan untukku agar aku semakin bersyukur dengan menjalankan ibadah-ibadah sunnahMu terutama ibadah-ibadah wajibMu.
Oleh: Adi Nurseha (Profile)
Kamis, 24 Maret 2011
Di Kala Emosi Meledak Hebat

Emosiku meledak hebat
Diiringi oleh hembusan yang menganga
Letupan hati berjingkrak-jingkrak
Dadaku sesak tak karuan
Ingin rasanya kuteriak setengah mati
Agar lepas semua belenggu yang menyiksa
Apakah itu obat yang mujarab
Atau kubiarkan saja hatiku bermain seperti ini
Andai saja kubisa meramal
Pastilah semua ini tak akan terjadi
Nyatanya ledakan emosiku tak terjaga
Merah, api, dan bergejolak
Aku tau, tak pantas kuberlaku demikian
Aku pun tau, tak sewajarnya kudemikian
Namun, hatiku menyuruh demikian
Dan mulut pun menyetujuinya
Air mata kering nampak dipelipis alis
Berusaha menjebol kejantananku
Aku tak layak menangis
Masih ada seribu otakku yang bekerja
Ya Rabb… apakah betul tindakanku
Ya Rabb… ampuni aku bila salah
Ya Rabb… aku hanya mencoba berusaha
Ya Rabb… kuatkan hatiku yang telah lunglai ini
Kubiarkan sang waktu menuntunku
Dan kucoba pejamkan hati untuk merasa
Agar tak ada lagi yang bergejolak
Sehingga rasa tenang sedikit menyapa
Oleh: Adi Nurseha (Profile)
Senin, 21 Maret 2011
Panggung Kecilku Menggemparkan Dunia

Indah menghiasi pelupuk langit, diiringi dengan siulan angin genit. Embun mencoba untuk bertahan di temperatur yang mulai memanas. Sejuknya pagi ini, kuhirup dalam-dalam tanda syukurku pada Tuhan Semesta Alam. Ya Rabb, terima kasih banyak telah memberikan kenikmatan begitu hebat di dalam kehidupan ini. Ayunan mata tertuju dengan lalu-lalang para pejalan kaki. Ibu-ibu tampak asyik dan khusu di gerobak Bapak Karsem yang menyediakan sayur mayur berkelas ekonomis, tampak mulut mereka bergoyang-goyang tanda bernegosiasi tentang harga sayuran yang semakin hari semakin melambung seperti balon udara yang terbang ke atap langit.
Oh iya, terlupa, sang mentari mulai menengok dan mengumbar senyuman kepada seluruh makhluk bumi di balik awan yang mirip sutra. Lihatlah, bunga-bunga kegirangan, semut mulai berteduh kepanasan, dan ikan mulai melongok ke ujung air untuk melihat sang mentari yang anggun. Kuhirup udara pagi dalam-dalam, sambil kugerakan kedua tanganku untuk merenggangkan otot yang semalam hanya beristirahat 3 jam saja dipembaringan. Rasanya segar dan nyaman. Semoga manusia bisa pandai-pandai menjaga lingkungan yang sejuk ini.
Kulangkahkan kakiku menuju mushalla yang mungil, tempat favoritku selain kamar tidur. Di sana sudah siap sebuah panggung kecil yang kuberi nama “Panggung Gembira”. Kuteringat tadi malam, aku dan para remaja mushalla lainnya bahu-membahu membuat panggung ala kadarnya. Panggung itu berdiri dengan tanpa modal, maklum bawahnya kami meminjam sebuah kayu falet buatan orang Madura. Kami meminjam sejenak untuk acara perlombaan yang diadakan di mushalla kami.
Background berwarna biru tua terpampang hebat di atas panggung tersebut, dihiasi dengan tulisan berwarna pink dan hijau “Panggung Gembira PRIMA Competition 2011”. Kulihat background tersebut dengan kasih sayang, sambil kuperhatikan tiap sudutnya. Bismillah, semoga hari ini acara besarku sukses. Ya, acara perlombaan setingkat lurah bukan lah acara yang gampang untuk mempersiapkannya, apalagi aku dan panitia yang lain baru sekali ini mengadakannya. Sehingga agak sedikit canggung dan ruet mengelolanya. Namun, dengan tekad bulat Alhamdulillah sekarang di hadapanku telah berdiri dengan gagahnya sebuah panggung mungil yang dihiasi dengan bunga-bunga yang baru saja kupinjam dari halaman depan rumahku, dan sebuah background berkelas teri yang menawan dengan warna biru tuanya.
Kulihat panitia sibuk mengurusi tugasnya masing-masing. Mas Batuk sibuk mengelola sound system menjadi bergema, Hafiz dan Agus sibuk mempersiapkan tempat untuk daftar ulang dan singgasana juri. Bayu, Yola, dan Iqbal sedang pusing memikirkan Bazar baju Impornya yang dijual dengan harga miring 5.000 rupiah perpotong. Surur dan Aris sedang termengu menanti motor dan sepeda yang akan diparkirkan di halaman Mushalla. Sedangkan aku, sedang asyik mengamati para hamba Allah tersebut yang mendedikasi tenaga dan pikirannya untuk syiar agama Allah di muka bumi ini sambil mencari-cari celah mungkin ada sesuatu yang terlupa.
Akhirnya, acara pun di mulai, dibuka dengan penampilan Marching Band serta kembang api yang diluncurkan ke dinding-dinding udara. Para makhluk Allah tersentak dengan bunyi petasan dan marching band tersebut. Tikus, semut, lintah, lalat, nyamuk, burung, cacing dan lain sebagainya tampak melongo syahdu, begitu pun makhluk Allah yang berakal, segera menyerbu tempat yang di lewati oleh marching band dan kembang api tersebut untuk melihat keunikan acara tersebut.
Setelah acara pembukaan selesai. Sekarang giliran aku sebagai MC yang akan memandu acara perlombaan dari pagi hingga sore ini. Lomba adzan, Musabaqah Hifzil Quran (MHQ), lomba tari islami, dan cerdas cermat akan menghiasi panggung gembiraku. Tampak para peserta lomba yang hadir sumringah, tak ada rasa gentar di hatinya, yang ada hanyalah rasa penasaran ingin menjejakkan kakinya ke panggung gembiraku, padahal mereka baru saja menginjakkan kakinya di Sekolah Dasar (SD). Para peserta pun sedang mempersiapkan penampilannya. Sungguh benar-benar pemandangan yang menakjubkan bagiku, apalagi saat itu aku melihat secara langsung bagaimana keindahan acara tersebut.
“Allahuakbar Allahuakbar…..” adzan menggema hingga 33 kali, karena peserta yang mengikuti lomba adzan tersebut 33 kali. Ada peristiwa yang menarik ketika MHQ, ketika itu salah satu peserta disuruh oleh juri membaca surat At-Takatsur, tapi entah kenapa, lupa atau tidak bisa, maka dengan lantang peserta tersebut membacanya, “At-Takasur, wa ma adrokama takasur…”, sontok para penonton terpingkal-pingkal mendengarnya, rupanya yang dibaca adalah surat baru yang belum pernah ada yang mengarangnya. Seharusnya ia membaca, “Alhakumut takasur, hata jur tumul maqabir….”. Ada-ada saja fenomena tersebut, namun lucu dan menggemaskan para pesertanya. Belum lagi lomba tari islami, wah lomba ini paling seru. Mata yang mengantuk dan terlelap-lelap, ketika lomba ini diadakan langsung segar, bagaikan kucing yang diiming-imingi daging ayam yang lezat.
Satu lagi, lomba yang tidak kalah menariknya adalah lomba cerdas cermat. Lomba ini diperuntukkan untuk santri-santri yang duduk di bangku SMP. Aku yang melihatnya sempat tegang dengan lomba tersebut. Coba bayangkan dari tiga wakil mushalla kami hanya satu yang dapat menembus grand final padahal soal-soal cerdas cermat itu kubuat sendiri namun tidak pernah kubocorkan satu pun kepada orang lain. Ketika grand final berlangsung jantungku pun seperti mau copot, pelupuk mataku menipis, jidatku mengkerut, dan mulutku bergetar melantunkan doa. Aku tau, peserta grand final ini adalah peserta yang terpilih dan tentunya hebat-hebat, apalagi peserta yang berasal dari SMP Rengas Bandung, mereka membuat merinding, di babak penyisihan mereka melahap hampir semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh juri, bayangkan mereka di babak penyisihan mendapatkan nilai 1750 point. Sedangkan perwakilan dari mushallaku di babak penyisihan hanya mendapatkan nilai 1000 point. Jauh bukan?.
Grand final cerdas cermat pun di mulai. Pertanyan demi pertanyaan di lontarkan. Hasilnya, perwakilan dari mushalla ku sang juaranya. Dengan skor yang lumayan baik, 900 point untuk perwakilan dari mushallaku. 650 point untuk darul muttaqien, dan 450 point untuk SMP Karya Bakti. Panas dingin yang tadi menjalar sekarang berubah menjadi senyuman bahagia. Kulihat Fara, Dahlia dan Lia yang menjadi sang juara perwakilan dari mushallaku tampak sumringah dan saling berpelukkan. Terlihat amat bahagia dan penuh dengan kelegaan. Selamat kawan, kalian sang juara.
Akhirnya, acara demi acara telah selesai. Aku salut atas kerja keras para panitia. Tanpa lelah dan tanpa gaji mereka berusaha keras untuk menjadikan acara ini sehebat mungkin. Raut wajah mereka keletihan, tapi hati mereka bahagia karena telah menyukseskan acara besar ini. Perut yang kosong pun dilupakan. Sampai-sampai ketika acara selesai kami melahap kue-kue yang tersisa dengan begitu antusias. Terima kasihku kawan, sungguh ini perjuangan syiar islam. Jangan patah semangat. Kita masih banyak acara-acara besar lainnya selain PRIMA Competition 2011 ini.
Senja menghiasi langit, kawalan burung bangau mulai berduyun-duyun pulang ke tempat asalnya yang sedari pagi tadi pergi untuk mencari sesuap ikan. Para domba mulai memasuki apartementnya yang mewah. Langkah kakiku gontai untuk beristirahat. Kumenyalami satu persatu kawanku sembari menepuk pundaknya. Aku bangga dengan kerja kerasnya. Selamat istirahat kawan, besok kita akan menggemparkan dunia dengan acara-acara besar kita yang lainnya.
Kupersembahkan untuk anak-anak Persatuan Remaja Islam Mushalla Ash-Shidiqiyyah (PRIMA) atas kerja kerasnya.
Oleh: Adi Nurseha. (Profile)
Sabtu, 05 Maret 2011
Maafkan Aku dan Terima Kasih

Kumerangkak di pelipis bumi
Gersang dan takut
Manik-manik yang menghiasi tubuhku
Tak sanggup lagi menjadi penghias
Tetapi hanya kebusukan
Tertatih-tatih kuberjalan
Tanpa batasan
Hanya isapan jempol kebaikan
Namun, tak kuat lagi menjadi pengindah
Tetapi hanya kebobrokan
Terluka lemah kumerintih
Sakit dan kalut
Senja pun meringis tertawa
Ah… seandainya menjadi kenyamanan
Tetapi Hanya kerusakan
Allah…
HambaMu yang busuk ini
Datang kepadaMu dengan segenggam hati
Hati yang hanya sedikit tertaut iman
Dan hati yang belum terketuk takwa
Allah…
HambaMu yang bobrok ini
Meminta kepadaMu dengan rangkaian doa
Lemah diriku
Dan tak ada daya upaya
Allah…
HambaMu yang rusak ini
Berusaha untuk bersyukur dengan sebaik kesyukuran
Kuingin buktikan kepadaMu
Bahwa aku menerima pemberianMu
Allah…
Maafkan aku dan terima kasih Ya Allah.
Oleh: Adi Nurseha (Profile)
Sabtu, 26 Februari 2011
Sabar Kawan, Kita Punya Allah

“Semoga tidak ada yang menghina keluarga Deva lagi, tidak ada yang mencaci keluarga Deva lagi, dan Keluarga Deva bisa hidup bersama lebih baik lagi di sini” Buaian air mata menetes di mata Deva satu persatu. Air itu menggelinding bagaikan ban mobil yang sedang berjalan secepat kilat di pipinya yang mulai diisi oleh lemak. Air mata itu tak memperdulikan Deva, betapa Deva butuh kekuatan batin yang kuat untuk dapat mengeluarkannya. Tangan deva pun ikut bergetar tak karuan, seperti tersengat listrik tegangan rendah. Wajahnya tertunduk beku sambil terisak-isak. Sesekali ia mengibaskan tangannya di pipi yang gemuk itu untuk melabrak aliran air mata yang kian deras dengan diikuti cairan yang keluar dari hidungnya.
Deva, seorang teman, atau bahkan sahabatku sejak kecil. Ia sudah kuanggap bukan sebagai orang lain, tapi bagian dari keluargaku. Banyak kisah indah dan pahit yang kujalani bersama dengan dirinya. Dengan saling memahami dan saling membantu, kami bersahabat dengan rukun serta damai. Perkenalanku dengan Deva pertama kali di saat kami bertemu di sebuah pengajian Quran. Di pengajian Quran itulah perjalanan dan cerita kami dimulai. Ah… jika kuceritakan perjalanan menarik bersama Deva satu persatu tak cukup waktu untuk membuatnya, namun satu hal yang pasti, aku sangat kagum padanya.
Aku teringat ketika aku dan deva saling bahu membahu mencari dana untuk penyelenggaraan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. di pengajian Quran kami. Dengan peluh keringat yang bercucuran kami berjalan bersama teman-teman yang lain. Dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Dan deva lah yang paling vokal untuk urusan yang satu ini. Dia selalu berada yang terdepan di antara kami, dengan secarcik map berwarna biru tua yang berisikan proposal permohonan dana berada di tangannya. Keahlian bahasa yang digunakan serta senyuman lembut membuat orang yang diajak berbicara tak bisa mengelak, dan pasti langsung merogoh kantongnya untuk memberikan sumbangan seikhlasnya. Oleh karena itu meriahnya acara Maulid di pengajian Quran kami tak lepas dari jerih payahnya. Makasih sahabatku.
Belum lagi sebuah peristiwa yang menohok hatiku sehingga sedih. Peristiwa itu amat kukenang. Sebuah peristiwa yang membuatku hanya bisa berkata “Sabar dan Sabar”. Kala itu, mendung mengintip dari balik awan, angin sepoi-sepoi bagaikan AC yang menawan, mobil lalu lalang dengan suara klakson yang tak pernah lelah. Aku yang baru saja keluar dari Masjid setelah selesai shalat Jum’at terheran-heran dengan kumpulan orang-orang di depan rumah Deva, aku yang melihatnya langsung berjalan dengan tergesa-gesa. Sandal jepit merek swalow pun setia membentengi telapak kakiku dari tajamnya jalan, terseret-seret aku membawanya, dengan berjuta pikiran yang menyelimuti otak sebenarnya apa yang terjadi di depan rumah Deva. Sekali-kali kupercepat dengan lari dengan rasa penasaran yang semakin menggila.
Ketika kuberhasil menerobos kerumunan warga, dan kuberdiri paling depan, kukaget setengah mati ketika Deva duduk sambil terisak-isak, tangannya menutupi wajahnya yang penuh dengan air mata. Lalu kududuk di sampingnya,
“Dev, kenapa kau menangis?” dengan suara lirih setengah berbisik di kuping kanannya, sambil tangan kiriku merangkul pundaknya. Namun, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya, ia hanya menangis dan menangis saja. Lalu kuangkat wajahku, dan melihat di sekitarku, aku tertegun ketika melihat kondisi rumah Deva yang hangus legam. Barang dagangan ibunya pun ludes. Api yang menjadi penyebabnya, yang mengakibatkan Deva menangis. Dan aku pun hanya bisa menepuk pundaknya sambil berkata “Sabar Kawan, kita punya Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang”
Dan sekarang Deva yang sudah memiliki istri dan satu anak ia menangis tersedu-sedan lagi. Nampak sekali beban kehidupan berjuta-juta ton dipundaknya. Dengan tangisannya seakan menggambarkan betapa berat kehidupannya sekarang ini yang berliku dan berduri. Aku hanya terdiam membisu ketika ia memberi sambutan pindahan rumah sambil terisak tangis. Aku menatapnya tanpa bosan. Seluruh sanak keluarga yang hadir dalam pindahan rumahnya pun terperangah ketika melihat ia menangis penuh beban.
“Deva dan keluarga deva ga mau ngerepotin saudara-saudara deva lagi, deva ga mau jadi beban buat semuanya, deva ingin hidup mandiri sekarang” Kembali pekikan kata sambutan itu disertai dengan mata yang berkaca-kaca.
“Doain Deva ya” kata itulah yang keluar dari mulut Deva yang terakhir. Sekarang ia memiliki rumah yang baru, bersama istri, anak, ibu dan adiknya, ia akan tinggal di sebuah perumahan di kawasan Sukatani. Ia akan menjalani kehidupan dan suasana baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bayangkan mungkin sudah hampir 24 tahun ia tinggal di Cikarang, jadi butuh waktu untuk bisa berinteraksi dengan kehidupan barunya di sana saat ini.
Aku yang berada di sampingnya hanya bisa menepuk pundaknya tiga kali. “Sabar Kawan, kita punya Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang”. Hanya kata itulah yang bisa kuucapkan dengannya berkali-kali ketika sahabatku sedih dan menangis. Kata yang mungkin kedengarannya sederhana, namun kuberharap kata itu bisa menenangkan batinnya yang penuh gundah dan gulana seperti perkataanku ketika rumahnya dilalap api 14 tahun yang lalu.
“Selamat menempuh kehidupan baru di rumah yang baru Kawan, aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaanmu dan semua keluargamu.”
Setelah semua selesai, memindahkan barang-barang, berdoa bersama dan juga perasmanan, aku pun pamit pulang.
27 Februari 2011
Oleh Adi Nurseha (Profile)
Rabu, 16 Februari 2011
Krisis Toleransi yang Membabi Buta di Indonesia

Tragedi di Pandeglang Banten dan juga di Temanggung Jawa Tengah memiriskan hati. Irisan itu terasa sekali seakan teriris dengan mata pisau yang puntul atau tidak tajam, sehingga setiap gesekan yang terjadi amat memilukan dan setiap yang tak setuju dengan itu akan menjerit sejadi-jadinya. Mungkin, kita yang sebagian besar hanya menonton di televisi terbelalak dan tercengang melihat kebrutalan manusia yang melebihi hewan dengan perusakan, pembakaran dan penghancuran.
Entah apa yang terjadi, jika manusia tidak memiliki akal pikiran, ah mungkin manusia akan menjadi makhluk yang mengerikan melebihi ikan Piranha yang hidup di Amazon sana, yang mampu memakan mangsanya dengan penuh kebrutalan dan kesadisan. Kurang lebih seperti itulah apa yang terjadi di Pandeglang dan Temanggung yang berbau SARA. Apalagi toleransi sudah didengungkan sejak lama, sejak isu kemerdekaan dihembuskan, hingga sekarang, namun apa yang terjadi sekarang ini, seakan-akan lemparan batu, amuk amarah, dan pembakaran mereka adalah hal yang wajar, padahal sudah mencacatkan toleransi beragama yang sudah dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu di Indonesia tercinta ini.
Tulisan ini tak mau mengusik sebab dan asal muasalnya terjadi kekerasan tersebut, penulis akan mengesampingkan penyebab mereka melakukan hal tersebut tetapi penulis hendak mengupas bagaimana cara mereka beramar maruf nahi munkar. Mungkin sebagian orang dari mereka akan berkata, “Lihat dahalu sebab-sebabnya donk, kami melakukan demikian karena mereka sudah melewati batas kewajaran”. Ah, itu hanya dalih dan bukan dalil. Mungkin jika dalih semacam itu sudah menjadi pegangan semua pemeluk agama, maka sudah pasti kekerasan, kerusuhan, dan kehancuran sudah menjadi hal yang lumrah di dunia ini dan bahkan kehidupan ini akan berubah menjadi mencekam.
Saya bertanya kepada sang membuat keonaran atas nama amar ma’ruf nahi munkar itu, apakah Islam mengajarkan demikian, kekerasan, kerusakan dan kerusuhan? Apakah dalam berdakwah harus melempar batu, membakar barang-barang, merusak fasilitas? Apakah tak ada cara yang lain yang lebih bijak untuk melakukan ibadah amar ma’ruf nahi munkar? Atau kalian akan menjawab, “Karena pemerintah lamban untuk bertindak!”, lalu saya akan bertanya lagi jika demikian, apakah sah kalian membabi buta seperti itu walaupun pemerintah lamban? Apakah boleh jika orang lain tersakiti dengan perbuatan ibadah anda? Saya kira, orang awam pun tau bahwa melakukan ibadah harus lah menyenangkan hati orang lain, bukan membuat orang lain miris. Rasa-rasanya, mereka melakukan demikian karena ingin melakukan kekerasan dengan kedok agama.
Ingat! Islam adalah agama yang lembut, agama yang berbudi pekerti, agama yang santun dan agama yang bijak. Islam tidak mengajarkan kekerasan walaupun ayat jihad tersebar luas di al-Quran, karena makna jihad pada zaman sekarang sudah mengalami pergeseran makna, jadi jihad sekarang tidak harus mengangkat pedang atau mengantar nyawa, namun jihad sekarang lebih luas lagi yakni segala sesuatu yang dilakukan untuk kepentingan kebaikan dan keindahan islam, itu semua adalah jihad. Islam tidak mengajarkan keonaran walaupun maksiat merajalela. Dan Islam pun tidak mengajarkan menyakiti hati orang lain walaupun orang lain tersebut berbeda keyakinan dengan kita.
Rasulullah Saw. bersabda dalam sabdanya:
"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia merubah hal itu dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaknya dia ingkari dengan hatinya dan inilah selemah-lemah iman." (HR. Muslim no. 49)
Sabda Rasul di atas, menunjukkan tingkatan beramar maruf nahi munkar. Jika kita bisa dengan tangan maka lakukanlah dengan tangan, jika kita hanya bisa dengan lidah atau kata-kata maka lakukanlah dengan lisan, bahkan jika kita hanya bisa dengan hati saja lakukanlah dengan hati. Namun ingat, amar maruf nahi munkar dengan tangan bukan untuk semua orang. Tetapi untuk orang yang mempunyai kekuasaan, mempunyai wewenang, mempunyai hukum, dan mempunyai jabatan di masyarakat. Misalnya presiden, beliau berhak menghukum dengan tangan atau penjara jika ada masyarakatnya yang melanggar hukum. Contoh yang lebih simplenya lagi dalam kehidupan rumah tangga, yang memiliki kekuasaan adalah ayah, jadi ayah berhak menghukum dengan tangannya kepada anaknya sendiri jika bersalah, jadi jangan seorang kakak yang menghukumnya bisa-bisa sang adik marah dengan kakaknya, malah bukan menyadarkan sang adik tetapi akan menjadi beringas dan timbul pertengkaran serta perkelahian.
Begitu pun yang terjadi di Pandeglang Banten maupun di Temanggung Jawa Tengah, seharusnya yang bertindak demikian itu pemerintah yang memiliki kekuatan hukum dengan dikomandai oleh polisi. Yang menyegel tempat-tempat yang meresahkan warga dan juga mengamankannya. Bukan para kelompok tertentu yang tak memiliki wewenang dan kekuasaan. Malah, jika kelompok tertentu atau masyarakat yang bertindak seakan-akan penguasa maka yang terjadi bukan memberi efek baik akan tetapi akan menjadi efek buruk yakni balas dendam dan juga krisis toleransi antar umat beragama. Yang lebih parahnya lagi jika hal itu dibiarkan maka Indonesia akan memiliki hukum baru, yakni Hukum Rimba, siapa yang lebih kuat dialah penguasanya.
Seharusnya mereka mengaca seperti zaman para sahabat, ketika masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq, pada suatu saat di zaman itu, banyak orang yang tidak memberikan zakat. Maka penguasa saat itu memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang enggan memberi zakat karena zakat adalah ibadah yang wajib tidak bisa ditawar menawar. Jadi, pada zaman itu bukan sekelompok masyarakat yang mengadili orang-orang yang tak mau membayar zakat tersebut tetapi langsung pemerintahannya yang bertindak. Lalu bagaimana jika pemerintahnya tidak mau bertindak, maka adili pemerintah dengan keritikan yang santun, pembaharuan atau pun reformasi yang bijak, karena bersikap demikian adalah penting sebab lebih baik dipimpin oleh orang non-Muslim yang adil daripada dipimpin oleh orang Muslim namun tidak adil atau lebih baik lagi jika dipimpin oleh orang yang Muslim namun ia bersikap adil dan bijaksana.
Begitu pun dengan lisan, amar maruf nahi munkar dengan lisan ini ditujukan bagi orang yang memiliki hak untuk berbicara. Hak berbicara ini penting. Ada orang yang diberikan hak untuk berbicara dan ada pula yang tidak diberikan hak untuk berbicara. Orang yang diberikan hak untuk bicara biasanya mereka orang yang berilmu atau para ulama. Mereka hanya bisa beramar maruf nahi munkar sebatas dengan lisan, bukan dengan tangan. Bahkan Nabi Muhammad Saw. pun berdakwah hanya menyampaikan bukan untuk merubah, karena yang bisa merubah hak penuh milik Allah bukan Para Nabi maupun Rasul apalagi kita sebagai seorang yang awam, dan Allah yang menghendaki siapa yang diberi petunjuk dan siapa yang tidak.
“Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya (QS. Al-Qishashash: 56)
Jadi, untuk apa tangan kita dikotori dengan menyakiti orang lain dan lidah kita memaki dan menghina orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita jikalau petunjuk itu di tangan Allah. Seharusnya kita bersikap santun dan lemah lembut dalam berdakwah dan berbuat baik kepada mereka, seperti apa yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad melalui uswatun hasanahnya. Ketika itu Nabi Muhammad sering diludahi oleh orang kafir ketika Nabi hendak menuju masjid. Hampir setiap hari Nabi selalu diludahi, tetapi Nabi selalu bersabar dan bersabar, Nabi tidak pernah membalasnya. Malah, suatu ketika Nabi terheran-heran, kenapa orang yang sering meludahi Nabi kali ini tidak ada. Nabi merasa ada yang aneh. Lalu nabi pun menanyakan kepada tetangga orang yang sering meludahi itu. Tetangga itu menjawab orang yang sering meludahi Nabi ternyata sedang terbaring sakit di rumahnya. Lalu sejurus kemudian Nabi langsung menjenguknya, dan bahkan Nabi lah orang yang pertama kali yang menjenguknya ketika ia sakit. Sehingga orang yang meludahi Nabi pun berkata “Sungguh mulianya akhlak engkau”, dan seketika itu pula ia masuk islam dengan indahnya.
Pernah juga Rasul memberikan contoh bagaimana bertoleransi kepada non-Muslim, pada suatu saat di tengah-tengah perjalanan Rasul dan Sahabat-Sahabatnya berpapasan dengan keranda mayat orang Yahudi yang sedang digotong menuju pemakaman. Kemudian Nabi berhenti dan menghormati mayit orang Yahudi tersebut. Sertamerta membuat para Sahabat heran dan langsung bertanya, “Wahai Nabi, kenapa engkau menghormati mayat itu, padahal mayat itu adalah orang Yahudi”, lalu Nabi menjawab dengan santainya, “Dia juga manusia kan”. Subhanallah akhlak Nabi sebegitunya hebat dan mulianya, tetapi kenapa ada sebagian kelompok orang yang belum mengerti cara bertoleransi terhadap agama lain. Atau mungkin mereka belum tau, entahlah.
Subhanallah itulah pelajaran bagi seorang pendakwah. Seorang pendakwah haruslah memiliki sikap dan sifat yang lemah lembut dan sopan. Bukan beringas seperti yang ditunjukkan sebagian kelompok tertentu yang lebih mengandalkan fisik ketimbang kesopanan dan kenyamanan. Menurut penulis, perbuatan demikian bukan lah malah akan menyentuh orang yang sedang ia dakwahi, tetapi mereka akan semakin menjadi-jadi.
“Tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama islam, sesungguhnya telah jelas jalan yan benar daripada jalan yang salah (QS. Al-Baqarah: 256)
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al An’am: 108)
Dari, dua ayat di atas sudah jelas bahwa bagaimana kita cara berdakwah, pertama tidak ada ada unsur paksaan, dan yang kedua jangan sekali-kali kita melakukan penghinaan terhadap tuhan-tuhan mereka, apalagi hingga perusakan, perusuhan, dan juga menghancurkan, perbuatan itu sudah melebih kapasitas yang seharusnya. Mencaci saja tidak boleh apalagi sampai-sampai membunuh mereka.
Kemudian, cara amar maruf nahi mungkar tingkatan terakhir adalah dengan hati. Jika kita tak memiliki kekuasaan dengan tangan dan tak memiliki hak untuk berkata, maka cukuplah dengan hati atau doa. Dengan hati kita mengingkari perbuatan tersebut dan sangat tidak setuju dengan perbuatan tersebut sambil berdoa agar mereka diberi petunjuk oleh Allah Swt.. Biasanya tingkatan ini dimiliki oleh kebanyakan orang, dan ini juga merupakan perbuatan ibadah yakni beramar maruf nahi munkar dan ketiga golongan ini (Beramar maruf nahi munkar dengan tangan, lisan, dan hati) termasuk ke dalam umat yang baik, seperti apa yang digambarkan dalam firman Allah.
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf (kebaikan), dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imron: 110)
Begitulah yang harus dilakukan. Jangan sampai kita beramar maruf nahi munkar tanpa ilmu bagaimana beramar maruf nahi mungkar yang baik dan santun. Bahkan Nabi pun sangat menghotmati pemeluk agama lain. Jadi sudah seharusnya jika kita pengikut Nabi dan para sahabatnya maka kita pun harus melakukan apa yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat-sahabatnya tersebut. Oleh karena itu jadilah orang Islam secara kaffah dan memahami Islam secara komprehensif tidak setengah-setengah apalagi jika Islam hanya menjadi kedok semata, naudzubillah tsumma naudzubillahi min dzalik.
Oleh: Adi Nurseha
Senin, 14 Februari 2011
Pemuda Mesir yang Baik itu!

Sore itu aku bersemangat sekali untuk setoran hafalan al-Qur’an kepada syeikh Samir, beliau adalah sang pemilik flat yang sekarang aku dan teman-teman tinggal di dalamnya, beliau sangat baik sekali kepada teman-teman dan aku tentunya, beliau sangat perhatian dan bahkan selalu memberi nasihat kepada aku dan teman-teman. Aku semangat, karena hari ini hafalanku rada bagusanlah dari pada yang kemarin, karena sebelumnya yaitu ba’da dzuhur, aku menghafalnya penuh dengan konsentrasi, sehingga waktu satu setengah jam untuk menghafal tidak terasa sama sekali.
Ashar aku harus sholat di masjid Nurul Huda, tempat syeikh itu berjama’ah, ba’da sholat, aku harus setoran kepada beliau. Selesai lah sudah sholat ashar, kemudian setelah jama’ah mulai sepi karena sudah kembali ke aktivitasnya masing-masing, tiba-tiba syiekh berdiri, dan menatapku, kemudian tangan beliau melambai-lambai ke arah ku, “ta’al ta’al” (kemari, kemari), akhirnya aku pun menuju syeikh, kemudian syiekh itu mengenalkan aku kepada pemuda mesir yang bernama barokat, beliau sangat baik dan juga murah senyum.
Aku baru ingat, bahwa kemarin syiekh sempat bilang, bahwa akan ada seoarang pemuda yang akan memperbaiki keran di kamar mandi flatku yang sedang bocor, memang akhir-akhir ini syeikh sering mengunjungi ke flatku, hanya sekedar melihat-lihat, dan ternyata ada keran air yang bocor, bukan hanya satu keran air saja yang bocor, tetapi tiga sekaligus. Bukannya aku dan teman-teman enggan untuk memperbaikinya, tetapi kami sudah memanggil muhandis (orang yang ahli) dalam masalah kamar mandi, tetapi hasilnya nol persen, padahal kami sudah membayarnya 20 pound, memang sih pertama tidak bocor, tetapi setelah seminggu berjalan, apa yang terjadi, malah bocor lagi, sehingga kami pun membiarkannya. Sehingga pada akhirnya syeikh pun turun tangan dengan memanggil pemuda itu untuk memperbaiki kamar mandi di flatku.
Akhirnya kami berdua menuju ke flat ku yang tidak begitu jauh dari masjid Nurul Huda, sesampainya di flat, beliau (barokat) langsung dengan sigapnya membetulkan keran ku yang bocor, beliau nampaknya sangat bekerja keras sekali, maklum keran yang sedang di perbaikinya termasuk besi yang sudah karatan dan lawas kelihatannya, sehingga membutuhkan tenaga yang ekstra untuk memperbaiki keran yang bocor itu.
Beliau sangat berusaha, tetapi setelah aku perhatikan beliau kebingungan mencari kunci inggris yang cocok, lalu tiba-tiba beliau berkata kepada ku, “Ya akhi, muftah laisa jayyid” (wahai saudaraku, kunci inggris sudah tidak baik kondisinya), aku tertegun mendengarnya, karena sudah tidak ada kunci inggris lagi di rumahku, itu saja pinjaman dari syiekh, “ya akhi, hadza muftah min syiekh, ana misy ‘indi al-ukhra” (wahai saudaraku, kunci inggris ini dari syiekh, saya tidak mempunyai selainnya).
Akhirnya ia pun izin denganku untuk mengambil kunci inggris di flatnya, yang cukup jauh dari lokasi flatku, akhirnya aku pun memutuskan untuk menemaninya, setelah sesampainya di flat Barokat, ternyata kunci inggrisnya dipinjam oleh salah satu temannya, di sebuah toko yang bernama Tawhid wa an-Nour, salah satu toko baru di kawasan Hayy ‘Ashir, toko itu merupakan cabang dari toko pusatnya yang terkenal, yaitu terletak di daerah Maqrom ‘Abid, akhirnya kami dengan sigapnya pun pergi bersama menuju toko Tauhid wa an-Nour itu.
Setelah mengambilnya, sejurus kemudian, kami melangkah ke flatku dan ia pun langsung memperbaiki keran kamar mandi flatku yang bocor, dengan sigap dan tangkasnya, ia pun dengan cepat langsung memperbaikinya, setelah itu ia bertanya kepadaku, “Haga taniyah?” (Ada lagi yang perlu diperbaiki?), langsung ku jawab dengan jawaban yang singkat, “Kholas ba’ah, dih bas” (Sudah dulu, ini saja). Akhirnya beliau pun tersenyum kepadaku, dan aku pun demikian tersenyum kepadanya, karena sudah sangat baik kepadaku bahkan ia rela berkorban demi orang yang baru dikenal olehnya.
Ia adalah seoarang mahasiswa al-Azhar jurusan perdagangan, ia ahli dalam memperbaiki kamar mandi, karena pada waktu kecilnya sering memperbaiki kamar mandi di rumahnya yang terletak di Muhafadzoh, sehingga ia pun bisa dan ahli dalam memperbaiki keran yang bocor.
Kemudian ia izin pulang, karena ia pun harus ada acara di lain tempat, aku pun sangat berterima kasih kepadanya, bahkan ketika aku tawarkan untuk makan dan minum-minum teh, ia menolaknya, ia buru-buru katanya, akhirnya hanya ucapan terima kasihlah yang mampu aku ungkapkan kepadanya, “Syukron awi ya barokat”
Minggu, 13 Februari 2011
Cinta yang Buta vs Cinta yang Melihat

Rasa cinta di dalam hati kadang kala membuat kita lupa akan segala hal yang ada dikenyataan kita, kadang pula kita memaknai cinta sebagai hal yang lumrah dan wajar bagi kita. Tetapi pada hakikatnya cinta adalah rahmat dari Allah SWT. dan merupakan salah satu nikmat-Nya yang paling besar bagi diri kita sebagai seorang hamba Allah SWT. oleh karena itu jagalah cinta, jangan sekali-kali engkau nodai cinta yang suci ini wahai Bani Adam. Dan jagalah ia jangan sampai hilang di telan oleh lumpur hidup yang siap menelan kapan saja
Rasa cinta ada pada hati setiap manusia, hewan, bahkan tumbuhan sekali pun. Seandainya makhluk Allah SWT. selain Bani Adam bisa berbicara mungkin ia akan berkata “Aku mencintaimu”, kata cinta ini sungguh sangat fenomenal dan luar biasa efeknya. Dengan kata cinta orang bisa menangis, dengan kata cinta orang bisa bahagia, bahkan karena cinta nyawa pun hilang.
Ketika rasa cinta meresap ke dalam hati yang masuk melalui pori-pori tubuh sehingga buluk kuduk pun berdiri tegak, dikarenakan hebatnya perkataan cinta maka kita pun akan terperana dengan kehebatan kata cinta itu. Itulah fenomena yang terjadi ketike seoarang jatuh cinta.
Orang yang sedang bercinta akan merasakan indahnya dunia ini, sehingga ada jargon “dunia hanya milik berdua”, kata-kata ini mungkin bisa dikatakan lucu bagi sebagian orang, karena kata ini mustahil terjadi, tetapi bagi orang yang sedang jatuh cinta maka semuanya bisa terjadi walaupun pada hakikatnya tidak akan terjadi. Hal ini berkaitan langsung dengan jargon “cinta itu buta” kata ini di satu sisi mendukung adanya kata “dunia hanya milik berdua” tapi di sisi yang lain perkataan “cinta itu buta” sebuah ungkapan yang mengarah negatif, artinya kenapa dia mengatakan dunia milik kita berdua? karena dia buta, tetapi buta di sini dalam tanda kutip yaitu buta karena cinta yang semu.
Lalu cinta apakah yang dapat melihat tetapi dunia milik kita bersama? Jawabannya mahabbah fillah (cinta karena Allah).
Inilah konsep cinta yang sesungguhnya, inilah konsep cinta yang kekal, inilah konsep cinta yang abadi, dan inilah konsep yang akan menolong kita dari kengerian hari kiamat. Karena mahabbah fillah adalah salah satu tanda orang yang mendapatkan naungan pada hari kiamat ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah.
Oleh karena itu, kita mencintai sesuatu apapun baik kekasih, guru, sahabat, teman, orang tua, hewan peliharaan dan lain sebagainya hendaknya dikarenakan Allah SWT, agar cinta kita itu di nilai ibadah. Bukan kah niat itu sangat berpengaruh dalam perbuatan kita apalagi kita sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah SWT. untuk beribadah oleh karena itu agar semuanya ibadah diniatkan kerena Allah SWT. inilah yang di sebut dengan mahabbah fillah (cinta karena Allah)
Jikalau cinta sudah di rasuki oleh kata “karena Allah” maka sungguh nikmat dan begitu syahdunya. Apalagi cinta ini dimaksudkan mencintai makhluk Allah SWT. yang sudah barang tentu fana yang tidak kekal, maka kita pun akan berpisah dengan sesuatu yang kita cintai itu karena ada sebuah perkataan “ada pertemuan dan pasti ada perpisahan”, tetapi bagi orang yang sudah di rasuki oleh kata “karena Allah” maka ia tidak akan kecewa dan tidak akan menyesal yang berlarut. Cinta yang dikarenakan Allah SWT. akan memegang prinsip “cintailah kekasihmu jangan berlebihan” karena cinta yang hakiki dan yang sebenarnya adalah cinta kepada penciptanya.
Apalagi di tambah dengan kata-kata “dunia milik bersama” , sungguh indahnya muslim, kita di perintahkan untuk saling menasihati dan saling mengingatkan, karena dunia ini milik kita bersama yang menjadi sarana mengumpulkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang jauh, lebih jauh lagi dari pada perjalanan dari bumi ke planet pluto. Bersyukurlah wahai Muslim dan Muslimah.
Marilah untuk merubah konsepsi kita dari cinta buta yang milik berdua kepada cinta yang melihat yang milik bersama, karena alangkah indahnya saat hati ini melihat dan mengajak bersama-sama untuk menuju surga-Nya Allah SWT. yang kekal dan Abadi.