
Ini hanya bagiku, entah bagi yang lainnya. Setiap hari orang-orang science mempelajari banyak simbol, dari alfabet hingga numerik atau beragam bentuk yang memang sengaja diciptakan sedemikian rupa. Aku tahu simbol-simbol tersebut sengaja diciptakan untuk mempermudah ingatan, mengakumulasikan banyak satuan dan pemahaman, hingga bisa dicapai sebuah teori, sebuah hipotesis, sebuah postulat, dan sederhananya sebuah rumus.
Sekali lagi ini hanya bagiku, seringkali rumus-rumus tersebut hanya dipahami sebagai sebuah bentuk mati tanpa aplikasi yang hidup. Rumus-rumus tersebut hanya dipakai sebagai alat pengganti angka-angka yang diketahui ketika ujian berlangsung. Ini adalah kesalahan fatal bagiku, melupakan alasan dasar kenapa simbol-simbol bernama rumus itu dibuat, membuatnya seakan-akan diciptakan tanpa alasan yang bermanfaat, tergeletak begitu saja di buku tulis tanpa sesuatu yang aplikatif.
Dan jujur, aku tidak suka mempelajari sesuatu yang mati, yang tidak bisa aku aplikasikan hingga manfaatnya terasa dalam kehidupan. Meskipun kendalanya sangat luar biasa, membayangkan beberapa gaya dari sebuah benda mati, hingga gaya-gaya tersebut bisa menyebabkan gerak, usaha, maupun energi. Apa mungkin karena mindset dalam otakku yang space-nya sangat terbatas? yang aku tahu selanjutnya adalah bahwa aku masih harus banyak belajar, mempelajari berbagai fenomena rumus hingga bisa mengkonsepnya dengan baik. Hasilnya adalah pemahaman baru tentang kehidupan.
Aku sangat ingat sekali, saat itu seorang Kakak kelas menjelaskan padaku dan teman-teman:
"Seperti yang kalian tau P=F/A, artinya tekanan yang terjadi akibat adanya hubungan antara gaya eksternal dengan luas penampang. Dalam kehidupan, gaya eksternal diibaratkan segala masalah yang datang dalam hidup manusia, lalu luas penampang diibaratkan ruas hati. Aturannya, karena P (tekanan) berbanding terbalik dengan A (Luas penampang) maka setiap gaya eksternal (F) yang datang hingga menyebabkan tekanan dapat dikurangi efeknya dengan memperbesar luas penampang dalam diri kita. Gampangnya begini, setiap masalah yang datang seperti gaya eksternal yang menyebabkan tekanan dalam hidup kita. Akibatnya semuanya terasa buram dan suram, untuk mengatasinya adalah dengan cara melapangkan hati, bersikap sabar dan ikhlas agar tekanan dalam hidup kita berkurang"
Umm... menarik, aku suka rumus yang selalu diaplikasikan dalam kehidupan. Saat itu aku hanya terpesona mendengar penjelasan dari Kakak kelasku itu, beliau menambahkan:
"Seringkali manusia merasakan tidak cukup bisa untuk melapangkan hatinya sendiri. Hey siapa bilang melapangkan hati harus dari dalam diri, menambah luas penampang bisa diatasi dengan menambah luasnya dengan benda lain. Artinya berceritalah pada orang lain, curhat tentang masalah yang kamu alami. Itu sama dengan usaha menambah luas penampang hatimu, itulah sebabnya kenapa dengan bercerita tekanan dalam hati terasa berkurang dan hidup juga lebih terasa lega" Begitu paparnya,
Salah satu pesan dari rumus Fisika yang sederhana, favoritku juga adalah ketika dosenku menyamakan rasa malas dengan gaya statis yang membekekukan, itulah alasannya F (gaya) Statis lebih besar dari pada F (gaya) Kinetis, rasa malas memang selalu membuatmu malas memulai sesuatu. Namun jiika kamu bisa mengusir rasa malasmu dengan berbuat sesuatu yang bisa kamu lakukan sekarang juga maka gaya Statis dapat kamu ubah menjadi gaya kinetis yang efisien, selanjutnya dapat diciptakan kecepatan dan percepatan seperti hukum Newton 2. Lalu bagaimana jika rasa malas itu sama sekali tidak mau bergeming dan tetap bertahan?
Itulah gunanya yang bernama motivasi, seperti hukum Newton 1, hukum kelembaman "Sesuatu akan berubah jika terdapat alasan yang membuatnya berubah". Seperti kebanyakan manusia yang tiba-tiba berubah karena memang ada suatu motivasi sebagai gaya eksternal yang memang membuatnya semangat untuk berubah, menciptakan sebuah pencapaian.
Kemudian, aku digiring terhadap sebuah pemahaman mendasar tentang Fluida, kali ini asas Bernoulli. "Pergerakan arus akan menyebabkan berkurangnya sebuah tekanan yang ada sehingga lebih memperlancar laju aliran" artinya jangan diam menunggu sesuatu tapi bergeraklah menemukan sesuatu hingga berbagai tekanan dalam hidupmu akan berkurang. Umm... menarik bukan?
Aku menyebut semuanya sebagai sesuatu aplikatif yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pernah terpikir kenapa jalur nasib tiap-tiap individu saling berbeda? ada yang begitu cepat sukses dan ada juga yang begitu sulit sukses? bagi yang cepat sukses mungkin itulah saat ketika kesempatan saling bertumbukan lenting tidak sempurna, tidak ada yang saling terpental tapi saling bertemu. Dan bersabarlah bagi yang belum menuai kesuksesan dalam hidupnya, ingat Allah itu Maha Adil. Jika Dia belum membuatmu sukses maka itu artinya Dia telah menyiapkan beragam kejutan yang harus kamu nikmati terlebih dahulu.
Dalam Impuls dan Momentum "Gaya kecil yang berkerja dalam waktu yang lama dapat menghasilkan perubahan momentum yang sama dengan gaya besar yang bekerja dalam waktu yang singkat" Artinya sederhana, jangan pernah putus asa terhadap segala usaha yang belum menuai hasil, karena jika kamu terus berusaha, sabar dan ikhlas maka ikhtiarmu akan menghasilkan sesuatu yang tidak jauh berbeda dengan orang yang lebih dulu sukses dalam hidupnya.
Dan satu hal, dulu aku berpikir bahwa seluruh benda, entah itu benda mati maupun benda hidup pasti akan mengalami gaya Gravitasi, semuanya bisa jatuh kapan saja. Tapi ternyata pemahamanku sedikit salah, yang berpengaruh terhadap sebuah gravitasi bukanlah sebuah benda tapi ruang seperti kata eyang Einstein. Ruang berudara seperti Bumi yang menyebabkan gaya gravitasi itu sangat mungkin mengenai seluruh benda mati dan hidup. Maka sederhana, jika selama hidup tidak ingin merasakan jatuh hiduplah di planet tanpa udara, di luar angkasa sana tidak ada gaya apapun selain gaya gravitasi yang membuatmu jatuh. Alhasil kamu akan melayang bahkan beratmu sendiri sama sekali tidak membantu.
Tapi tidak perlu khawatir, Gravitasi bisa dikacaukan dengan jarak. Seperti kata hukum universalnya abang Newton tentang gravitasi itu sendiri. "Semakin besar jarak maka efek gravitasi akan semakin melemah". Umumnya orang-orang jatuh karena adanya tekanan yang besar, bagaimana caranya untuk bangkit? Ciptakan semangat hingga bisa mengecoh gaya gravitasi yang menimpa, semangat secara tidak langsung akan membuatmu bangkit, membuatmu menciptakan jarak dengan banyak tekanan yang mengganggu sebelumnya. Benarkan?
Sebagai ulasan, ada sebuah kalimat favorit adegan Cinta-Rangga dalam salah satu Film bagus dalam listku "Ada Apa dengan Cinta", begini bunyinya "Bila Emosi mengalahkan logika, terbuktikan kebanyakan ruginya. Benerkan?" Singkatnya, emosi hanya membuat hatimu tumpul menyerupai benda pejal. Aturannya semakin pejal sebuah benda dia akan semakin sulit untuk bergerak, begitu juga hati yang tumpul dia tidak akan mampu berbuat apapun, jelaskan kebanyakan ruginya? hohoho...
Beginilah hidup, hidupku yang ingin aku ciptakan se-aplikatif mungkin. Dengan sederhananya hidup dan serumitnya beragam rumus yang ingin aku konsep dengan sesederhana mungkin. Pikiran manusia telah banyak mengandung komplikasi karena begitu rumitnya, maka cukup sederhanakan berbagai hal disekitarmu hingga tidak membuat hidup yang sederhana ini juga terasa lebih rumit. Fisika yang rumit-pun jangan dibuat makin rumit dengan banyaknya rumus mati tanpa konsep. Inilah tantanganku kedepannya, tantangan setiap orang yang pernah berhubungan dengan Fisika, begitu juga dengan disiplin ilmu lainnya. Hingga kedepannya pendidikan di Indonesia dapat dinikmati dengan sangat menyenangkan, demi masa depan bangsa yang lebih baik dari sekarang. Selamat hari pendidikan nasional.
**
Pendidikan itu tidak dibatasi oleh berlembar-lembar manuskrip yang berisikan tulisan
Juga terpaku pada berbagai teori tanpa eksperimen yang nyata
Tidak juga hanya berbentuk asumsi yang melahirkan perdebatan semata
Tapi jauh lebih membentang bagi mereka yang suka berpikir terbuka
Segala yang terlihat
Segala yang terdengar
Segala yang terasa
Yang menuntun hati kepada hikmah dan pembelajaran yang tak terhingga
Pendidikan itu bukan kepintaran yang menjadi alasan utama
Tapi justru lebih ditekankan kepada moral yang santun
Serta sikap yang empati dan ikhlas
Juga seberapa yang dapat digunakan untuk bermanfaat
Seperti batang padi yang kian merunduk ketika makin berisi
Atau lebah yang tak pernah lelah untuk memberi
Pendidikan itu adalah meleburnya jiwa dengan alam semesta
Penyebab lebih terbukanya mata hati terhadap kebenaran
Tidak sekedar membenarkan kebiasaan para nenek moyang
Namun bersedia untuk membiasakan hal yang baru tapi benar
Pendidikan itu sama seperti menyadari kenapa bumi berputar
Berpikir kenapa air mengalir
Serta alasan bintang yang bersinar
Lewat paradigma dengan format tiga dimensi kesegala arah yang berpendar
Pendidikan itu bukan pemecah antara agama dan pengetahuan
Namun pemersatu diantara keduanya
Bukan sekedar menuntut untuk tahu
Namun mengajarkan untuk memahami
Pendidikan itu -Ki Hajar Dewantara-
"Ing ngarso sung tulodo"
(Di depan memberikan contoh teladan yang baik)
"Ing madyo mangunkarso"
(di tengah membangkitkan semangat)
"Tut wuri handayani"
(dari belakang memberikan dorongan)
SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL
Cerdaskan nurani
Kokohkan budi pekerti
Wujudkan indonesia lebih baik :)
Oleh: Ana Falasthien Tahta Alfina (Profile)
Ungkapan Mutiara
Senin, 23 Mei 2011
Refleksi 02 Mei 2011
Senin, 09 Mei 2011
Because Love It

"Do something because you love it, not because you only want to look great doing it"
Definisinya luas, fokusnya adalah apa yang kita sukai. Semua orang pada dasarnya sama, selalu suka dipuji dan jarang memuji orang lain. Mungkin bagi yang pernah menonton film 'I'm not Stupid 2',maka akan familiar dengan kata-kata ini "Kapan terakhir kau memuji seseorang? kapan terakhir orang lain memujimu?", dan karena faktor kebutuhan terhadap sebuah pujian, tidak sedikit yang rela melakukan sesuatu demi mendapat pujian dari orang lain, demi terlihat lebih hebat. Bagus memang, tidak ada yang salah, alhasil ada sebuah pencapaian yang berhasil kita raih.
Tapi benarkah kita puas dan bahagia? benar-benar senang dengan hasil yang diperoleh? lupa bahwa cinta itu mendatangkan produktivitas yang penuh dengan kekuatan? kekuatan untuk memperjuangkan segala hal yang kita cintai. Tapi namanya juga manusia, terkadang apa yang disukai saja masih abstrak, lantas apa yang bisa diperjuangkan? Kita tengok saja Kugy, tokoh utama dalam novel Perahu Kertasnya Dewi Lestari. Kugy yang rela berputar, terus melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dia suka demi mendapatkan sesuatu yang dia suka. Mungkin ada kalanya memang begitu, hidup itu memang sederhana, implemantasinya sebenarnya juga sederhana. Tapi pikiran manusia yang rumit, sehingga hidup pun nampak rumit. Butuh berputar ke sana ke mari sebelum sampai pada tujuan yang dimaksud. Whatever!!! Tergantung manusianya, yang terpenting pada akhirnya kita sampai pada tujuan bukan?
Hey hidup itu hanya sekali, dengan Bumi yang satu-satunya menjadi tempat tinggal manusia. So, tidak ada yang lebih penting selain memperjuangkan apa yang kita inginkan, sesuatu yang kita sukai, mewujudkannya satu-persatu. Setidaknya kita bisa membuat ingatan yang indah tentang hidup yang singkat ini. Dan percayalah tidak ada yang lebih membuat kita bersemangat dan berenergi selain apa yang kita sukai, dengan mudah segala kepenatan dan kerempongan situasi dapat kita atasi dengan baik.
Lalu bagaimana jika begini situasinya, orang terdekat kita tidak menyukai apa yang kita tekuni saat ini, padahal itulah yang kita sukai. Jika orang terdekat itu saya, maka saya akan spontan berpikir "Jadilah dirimu sendiri, dengan segala yang kamu mau, dengan segala mimpi-mimpimu. Perjuangkan apa yang kamu inginkan tanpa takut dengan penilaian orang lain, bahkan termasuk saya sendiri. Itu hidupmu, perjalanan yang harusnya bisa kamu ciptakan beragam hal yang menyenangkan. Orang yang menyayangimu akan selalu mendukung mimpi-mimpi terbaikmu, bukan malah memaksamu pada duniamu yang lain, yang bukan kamu"
The closing statement:
"Do something because you love it, not becuase you only want to look great doing it or you only want to make someone love you cause it"
Oleh: Ana Falasthien Tahta Alfina (Profile)
Selasa, 03 Mei 2011
Bintang

Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah menjelma dihadapanku banyak manusiaMu juga
Aku menyebut mereka teman,
Engkau menyusupkan lebih dari itu,
"Mereka bintangku, di langitMu yang luas"
Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah berdiri disampingku beberapa manusiaMu juga
Aku menyebut mereka sahabat,
Engkau meyakinkan tidak sesederhana itu,
"Mereka bukan bintang biasa, tapi telah membentuk rasi. Di langitMu yang luas"
Allah,
Saat aku sendiri lalu merasa sepi
Terima kasih
Telah menetap dihatiku sedikit manusiaMu juga
Aku menyebut mereka saudara
Engkau mengajariku sebuah definisi
"Bintang itu telah bergeser di hatiku, membentuk rasi persaudaraan yang tulus, mengalahkan cahaya di langitMu"
Allah,
Hingga aku tidak sesendiri dan sesepi yang aku kira
Karena banyak yang siap berjalan beriringan bersamaku
Dalam pencarian ilmu dan ridhaMu yang Maha Luas
Terima kasih,
Juga kepada seluruh bintang-bintangku.
Oleh: Ana Falasthie Tahta Alfina (Profile)
Jumat, 22 April 2011
Di Bawah Kolong Langit

Dua tahun silam, ternyata ada yang lebih indah dari pada langit yang menggantungkan tiangnya pada Bumi. Langit sekretariat BEM dengan segala bintangnya, tanpa pola rasi, tanpa nama. Tergambar begitu saja seperti aliran sungai, tapi buat apa semua itu? Jika beragam ide dan persuadaraan telah beberapa kali terbentuk di bawah naungannya. Deg! Siang itu saya hanya mendongak ke atas, menghitung tanpa arah gambar putih yang berbetuk bintang. Sayang yang bernama hati itu tidak bercahaya seperti bintangnya, tapi gulita seperti warna langit malam, semua orang mengatakan pusing, sebagian larut dalam kecanggihan Mr. Comp dan Mrs. Lepi, sisanya disibukkan dengan beragam list undangan, dan selebihnya entah kabur kemana?
Seketika, semangat yang menggebu-gebu itu runtuh di hadapan perasaan yang tidak mengenakkan ini. Tapi benarkah hari itu akan berlalu dengan kesan yang menyedihkan dan tidak menyenangkan? saya sesendiri ini, masa?
Pasca gempa di bulan Ramadhan, Rabu 2 September 2009
At 3.40 PM, SMS masuk dari Kadiv PDD: "Mendesak dan memaksa, ada bubar LOPE (baca : Logstran PDD) di GWW, kumpul jam 5.00 PM" Perasaan yang belum reda setelah terjadinya gempa dan paksaan deadline yang harus dibikin, malah harus bengong dengan paksaan tersebut.
"What the? apa-apaan Theeeeeen? buka bareng puasa dadakan nyaris tanpa persiapan?"
"heh?"
**
Bila kita dapat memahami
Matahari menemani
Kita dalam kehangatan
Hingga sang rembulan bersenandung
Meninabobokan seisi dunia
Dalam lelap setia
Tanpa terpaksa
Bila kau dapat mengerti
Sahabat adalah setia
Dalam suka dan duka
Kau kan dapat berbagi rasa
Untuknya
Begitulah seharusnya
Jalani kehidupan
Setia… setia… setia
Dan tanpa terpaksa
Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya
Lebih dekat
Dan kau akan mengerti
(OST. Petualangan Sherina)
Lirik lagu sherina, pengingat sebuah kejadian istimewa. Seharusnya yang sejak lama saya lakukan, melihat segala sesuatu lebih dekat, dari hati-kehati, bagaimana untuk menjadi orang yang lebih dari sekedar bersimpati, tapi berempati, seperti malam itu.
"Niooooo, paraaaaah Gue ga dapet kabar kalo LOPE kumpul!!!" Dengan wajah geram, Thi menodong Nio.
"Seriusan, udah Gue kirim koq jarkomnya ke semua anak Logstran" yang bernama Nio membela diri.
"Bohoooooong, buktinya Gue ga dapet, jahat Lu"
"Lu dateng kan? itu berarti Lu dapet kabar kan?" Nio tetep ngeyel dan bersikeras.
"Gue dapet kabar dari Dhin, bukan dari Lu" Bales Thi, tidak mau kalah.
"Beneran!!! perasaan udah deh, pas tadi gempa Gue kirim SMS jarkom ke semua anak logstran, pas lagi berasa goyang-goyang. Masa iya ga nyampe sih?" Penjelasan Nio barusan seketika bikin kita semua CENGO!!
"Nioooooooooooooooooo"
**
Bagusnya segala pertikaian selesai sudah, tergantikan dengan suasana buka bareng bersembilan orang. Duduk manis membentuk lingkaran di taman GWW (Graha Widya Wisuda), eh? taman? hanya sepetak tanah yang berkarpet rumput dengan satu lampu bisakah dinamakan taman? bahkan tidak layak sebenarnya dijadikan tempat tongkrongan seperti ini. Mungkin ini adalah pelampiasan, efek dari gagalnya para panitia Ospek penanggung jawab tempat dan dekorasi (baca: kita para LOPE) menyewa GWW beberapa bulan lalu.
"Ga salahkan kita menikmati GWW seperti ini, sesekali. hahaha"
Entah apa yang ada dipikiran orang yang lalu lalang di depan GWW, mungkin sebagian ada yang menganggap bahwa kita adalah orang-orang yang kurang kerjaan, tapi Bodoh amat, Everything is Ok. Para anak-anak LOPE justru semakin menikmati hembusan angin malam itu, bau rumput yang mulai berembun, penerangan satu lampu di taman GWW semakin membuat malam itu terasa cocok untuk membuat sebuah pengakuan. Siapa yang memulai itu tidak penting, tiba-tiba semuanya terlontar ringan, kata demi kata, berbagai cerita yang mengalir begitu saja, saling menjadi tempat sampah satu sama lain, menimbulkan beragam inspirasi yang tak terduga. Spontan dan tanpa terencana sebelumnya,
"So, botol air mineral ini kita puter. Siapa yang kena kepalanya barati dia harus siap nyeritain siapa dirinya"
"Juga harus siap menerima pertanyaan apapun"
"Sejujur-jujurnya!!"
"Setuju?"
"Siaaaaaap!!!!"'
Lalu mengalirlah banyak cerita, tanpa paksaan dari siapapun, dan saya hanya mampu ber "O" dalam hati. Beginikah sebenarnya sosok sahabat-sahabat saya? sungguh tidak terduga, mengawali bagaimana harusnya memahami, terkadang saya hanya bisa menyimpulkan dari apa yang saya lihat, tanpa menyediakan waktu untuk mendengar apa kata hati yang sebenarnya. Andai, andai saya bisa melakukan terhadap semua sahabat-sahabat saya, andai saya bisa tau apa yang ada dalam pikiran mereka, supaya kedepannya kita bisa melangkah bersama, tidak ada yang di depan, tidak ada yang dibelakang tapi hanyalah kita yang beriringan.
Ini bukan sekedar pembelajaran tentang karakter manusia, ini tentang bagaimana cara bersikap, menyikapi banyak sifat, menghadapi sikap dari berbagai karakter. Tentang bagaimana bersikap dan menyikapi segala sesuatu dengan bijak. Tidak lantas memvonis seseorang dengan sembarangan, menjadi yang paling sok tahu. Tidak, pelajaran malam itu lebih dari sekedar tahu tapi juga memahami dan benar-benar mengerti.
Menyapu pandangan ke arah langit, mendongak sekilas sambil mendengarkah banyak kisah. Bersih dan pekat, tanpa Bintang ataupun Bulan, satu-satunya sinar paling terang hanyalah berasal dari lampu taman. Tapi bukan itu, Bintang-bintang di langit kini telah menjelma menjadi delapan orang sahabat dari pengakuan malam ini. Bersinar dari permukaan Bumi, indah. Sangat indah.
"It was amazing moment with you all, i felt it. Seriously"
Dan saya benar-benar mengingatnya dengan baik, sebaik-baiknya dalam ingatan. Inilah pelajaran itu, dari sifat dan karakter kalian, dari apa yang saya rekam dalam pikiran dan hati.
- Thi yang menamakan dirinya sebagai bunglon, berusaha menempati diri di manapun dia berada, benar-benar belajar membaur tanpa harus melebur.
"Mungkin karena dari dulu Gue dibiasain jadi sulung yang harus mandiri, so Gue harus bisa cepat beradaptasi dengan banyak hal"
- Za yang ikhlas melakukan sesuatu buat orang lain, deuhh. Tanpa keluhan ataupun perasaan jengkel karena sering direpotkan.
"Gue seneng kalo ngeliat orang lain seneng, jadi Gue sedikitpun ga ngerasa terbebani"
- Cid yang ceria dan tegar.
"Gue cuma berusaha menghadapi semuanya sebisa Gue, hingga disuatu hari nanti Gue bisa ngebuktiin banyak hal"
- Theen yang hidupnya penuh dengan perencanaan, ada jangka pendek, jangka menengah, juga jangka panjang. Lihat saja notes hijau yang selalu ada dalam tasnya.
"Gue pengen jadi pengusaha cokelat, suatu saat nama brandnya adalah "Prasada""
- Nio yang dewasa tapi juga humoris.
"Gue emang suka bercanda dari dulu, tapi tetep harus bijak kan? hahaha"
- Dhin yang menyadari, bahwa di sini kita harus belajar menerima, kurang lebihnya menahan ego.
"Pertama kalinya Aku harus jauh dari rumah, Aku beneran harus belajar untuk ngga egois dalam hal apapun"
- El yang bisa melihat segala sesuatu dengan bijak.
"Sekarang bukannya saatnya lagi dalam tahap pencarian jati diri, tapi kita harus mampu menyimpulkan sendiri bagaimana pribadi kita melalui sikap kita terhadap orang lain, right?"
- Cha yang lebih suka menjadi penggerak. Menjadi katalis di manapun dia berada.
"Karena Aku suka berteman, suka dengan keramaian dan juga kebersamaan"
**
Dan hanya satu kesan,
"Pembelajaran di kolong langit saat itu begitu berharga, terima kasih LOPEkuuu"
Oleh: Ana Falasthien Tahta Alfina (Profile)
Senin, 11 April 2011
Cinta Matahari Pada Bumi

Perkenalkan namaku Matahari, jenis bintang yang terdekat dengan Bumi, sekitar 150 Km dengan radius 112 kali dari radius Bumi serta 30 kali gaya tarik Bumi. Warnaku stabil mengikuti drajat suhu dari tubuhku sendiri, berwarna merah ketika pagi atau sore hari serta putih hingga kebiruan ketika siang. Sosokku terlahir sebagai generasi bintang kedua menurut teori Bigbang tentang pembentukan Tata Surya dengan massa Tata Surya sebesar 98 % pada tubuhku, bukankah posisiku cukup penting sebagai pusat Tata Surya?
Di sistem Tata Surya, di Galaksi Bima Sakti, terdapat kedelapan planet yang setia berevolusi mengelilingi tubuhku. Dari mulai Merkurius, Mars, Bumi, Venus, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neputnus. Mereka menempati posisi masing-masing di garis orbit dengan waktu revolusi yang berbeda tergantung karakteristik mereka. Tugas utamaku adalah mengontrol stabilitas peredaran para planet yang berarti mengontrol terjadinya siang dan malam serta tahun sebagai sumber energi panas. Dan kalian tahu? di antara para kedelapan planet yang berevolusi ke arahku, ada sebuah planet spesial yang menarik perhatianku selama ini. Mungkinkah aku menyayanginya? Jatuh cinta kepadanya? Dialah yang selama ini kalian tempati, membuatku patah hati. Karena dia ternyata lebih memilih mencintai kalian.
Perkenalkan namanya Bumi, sosok yang diam-diam aku kagumi. Si planet ketiga di sistem Tata Surya, satu-satunya planet yang memiliki kehidupan. Para penguhuninya disebut makhluk hidup, manusia adalah sosok yang paling berkuasa. Bila tubuhku hanya tersusun dari Hidrogen dan Helium, maka sebagian besar dari permukaan Bumi terdiri dari 70 % lautan dan sisanya adalah daratan, gunung, serta lembah. Bumi memiliki selimut udara yang disebut dengan atmosfer, salah satu fungsinya adalah melindungi Bumi dari paparan radiasi dan energi panasku yang berlebihan. Itulah mengapa aku sedih, padahal aku hanya ingin melindunginya dengan memberinya kehangatan, membantu udara dan air di Bumi bersikulasi, tumbuhan berfotosintesis, mentransfer energi panasku kepada batu bara dan minyak bumi.
Herannya manusia, penghuni Bumi yang tidak tau berterima kasih itu selalu mengeluhkan banyak hal tentangku. Bilang katanya kalau aku adalah penyebab panas yang menyiksa. Padahal mereka yang menjadi penyebab lapisan ozon di Atmosfer Bumi yang bernama Stratosfer. Siapa yang selama ini menggunakan zat CFC atau clorofuorocarbon, penyebab terbesar berlubangnya lapisan Ozon. Tentu bukan salahku jika Radiasi UV-ku yang ekstrem menyebabkan banyak penyakit pada Manusia. Lalu yang bernama Manusia itu selalu menyakiti Bumi, dengan sikap serakahnya, merusak hutan-hutan yang menjadi paru-paru bagi Bumi. Sungguh aku sangat melindungi Bumi dari perlakuan jahat kalian, aku benar-benar sangat menyayanginya.
Aku ingin selalu menjaganya sepanjang waktu, maka jika malam tiba aku relakan cahaya-ku dipantulkan Bulan. Aku perintahkan Bulan untuk menggantikanku menjaga Bumi dan mengawasinya, aku juga memerintahkan beragam rasi untuk membentuk beragam formasi dan senantiasa menghibur Bumi karena ulah kalian. Sungguh!! Aku ingat jawaban Bumi ketika dia menolakku dan lebih memilih kalian,
"Terima Kasih atas perasaan spesialmu Matahari, tapi bagiku memilihmu berarti merusak keseimbangan alam yang ada. Itu sama artinya aku menyakiti para penguhuni yang amat aku sayangi, dan apa artinya hidupku lagi jika Manusia yang hidup di permukaanku menderita?"
"Tapi lihat Bumi, apa yang selama ini dilakukan para Manusia itu kepadamu? Apa itu pembalasan mereka terhadap perasaanmu yang tulus?" Dan kalian perhatikan jawaban Bumi, selalu tampak membela kalian, seburuk apapun perlakuan kalian kepadanya.
"Matahari, para Manusia itu tidak semuanya bersifat buruk seperti yang kamu katakan. Seandainya kamu tahu bagaimana kelompok minoritas membelaku. Mereka rela menanam banyak Pohon sebagai amunisi paru-paruku, senantiasa menyeru kebaikan pada mahkluk hidup lainnya, berusaha melestrarikan sisa sumber dayaku sebaik-baiknya. Aku yakin mereka sebenarnya sangat menyayangiku juga, tapi terkadang khilaf dan lupa membuat mereka tidak sengaja memperlakukanku semena-mena"
Maka demi mendengar jawaban tulus dari Bumi, semakin dalamlah perasaan kagumku padanya. Dan kalian tahu? saingan terberatku dalam rangka mendapat perhatian Bumi adalah Awan, Awan selalu berdikte membanggakan dirinya, bilang kalau dirinya lebih memberi manfaat pada Bumi, mampu mempersembahkan Hujan yang sejuk pada Bumi. Dia sungguh curang, temannya banyak dan jika dia ingin menurunkan Hujan maka dia akan meminta si Nimbu Stratus untuk menghalangi pandanganku dari Bumi, Manusia menyebutnya mendung. Tapi dia jauh lebih beruntung, karena dia dan teman-temannya dapat terbentuk di lapisan Atmosfer Bumi yang bernama Troposfer, dan aku sungguh Iri.
Salah satu sikapku yang paling tidak disukai Bumi adalah ketika tubuhku mengeluarkan badai hingga mengenai Bumi dan kalian. Itu akibatnya jika emosiku telah memuncak akibat perlakuan kalian pada Bumi, tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk membuat Bumi sedih. Maaf, bahkan demi untuk menghibur Bumi aku rela bekerja sama dengan Hujan untuk membentuk pelangi dan sesekali memperlihatkan cincin Matahariku yang serupa pelangi.
Sesederhana itu aku menyukaimu
Seperti sederhanamu yang turut mengorbitku pada garismu
Kamu bukanlah bintang fajar seperti Venus,
Atau pemilik cincin Indah layaknya Saturnus
Tapi hatimu yang tulus telah sukses memikatku.
Lihatlah bagaimana Manusia telah menyakitimu,
Tapi kamu selalu membelanya di hadapanku,
Dan kalian Manusia!!!
Tidakkah kalian merasakan perlakuan Bumiku?
Lalu aku hanya mampu menyukaimu dengan sederhana
Ingin menyukaimu dengan cara yang paling sederhana
Mengikuti kesederhanaanmu,
Demi semua itu
Aku sungguh rela turut melindungi Manusia
Menemanimu
Manusia,
Masih belum sadarkah?
Oleh: Ana Falasthien Tahta Alfina (Profile)
Kamis, 07 April 2011
Dua Patah Kata

Lelapku adalah jembatanku bermimpi, seindah-indahnya tentang banyak hal yang mungkin sulit terwujud di dunia nyata. Imajinasiku adalah ruang angkasa raya, entah. Tapi dari sana aku dapat bermain dengan banyak hal. Memproyeksikan apa yang ada dalam pikiran, membuat analogi yang aneh. Kamu, siapa saja yang dimaksud hati sebagai kamu, seseorang yang telah mengenalkanku pada dunia yang berbeda. Lebih indah dari pada lelapku, juga lebih berkesan dari pada angkasaku. Selamat!!! berhasil menempati rating tertinggi sebagai pendatang asing dalam ruang kosongku.
Aku dan orang-orang yang menginspirasiku mengeja makna, siapapun itu kalian. Bagiku selama ini belajar adalah saat aku dan kalian bisa lebih arif memaknai suatu peristiwa, tidak lantas condong terhadap satu sisi, tapi juga bersedia membelokkan paradigma ke segala sisi, hingga logika dan perasaan bisa dialokasikan secara tepat, masing-masing menjadi pemenang di tampat yang seharusnya berada. Aku rasa semua orang juga mengerti hal prinsipil seperti itu, tapi sejak hidupku bersinggungan dengan sosokmu, aku semakin sadar bahwa mengerti saja tidak cukup, harus ada implementasinya yang membuatku benar-benar terlibat.
Kamu juga tahu bukan kebiasaanku yang begitu plegmatis? Aku merasa tidak pernah punya kesempatan untuk mengungkapkan beberapa hal yang aku pikirkan, sekedar berucap kata negatif yang paling susah sedunia perbendaharaan kata, yaitu kata 'tidak'. Tapi bila terlibat suasana kerja denganmu, aku merasa lebih ringan mengatakan apa yang tidak aku suka, mengemukakan pendapat tanpa takut kamu akan menentangnya habis-habisan. Dan selamat! Aku telah menikmati masa merdekaku menjadi diri sendiri.
Tentang apa yang aku suka, apa yang aku benci, apa yang ingin aku raih, apa yang ingin aku dapatkan sebagai pencapaian. Mungkin tidak terlalu tepat seperti yang aku pikirkan, tapi sedikit banyaknya kamu telah mengingatnya dengan baik. Dengan merasa bahwa ada yang bisa memahami banyak hal tentang kita, maka kita akan lebih belajar untuk bisa memahami banyak hal tentang orang lain. Perlu bukti? pejamkan matamu, lalu berdejavulah. rasakan kebaikan orang-orang di sekitarmu, maka secara otomatis kamu akan lebih ingin berbuat baik kepada mereka. Itulah prokdutivitas kasih sayang manusia.
Paragraf terakhir, jelas bukanlah ungkapanku yang terakhir. Karena aku tidak akan pernah berhenti untuk mengucapkannya sewaktu-waktu, dua patah kata dari perasaanku yang paling sederhana di antara kerumitan logikamu.
"Terima Kasih"
Really Arigatou Ne For Everything.
Oleh: Ana Falasthien Tahta Alfina (Profile)
Selasa, 05 April 2011
Konstelasi Orion

Lalu gulita kembali memeluk langit
Di situ aksi para penghuni angkasa raya dimulai
Bulan menggantikan matahari terjaga
Planet menyebar kesegala penjuru katulistiwa
Kumpulan bintang siap mengambil aba-aba di peraduannya
Terjarak bertahun-tahun kecepatan cahaya
Mereka hanya tinggal membentuk formasi
Kemudian terbaca sebagai konstelasi
Hening
Angin turut andil
Dia lebih memilih memainkan melodi udara sepoi
Sepi
Manusia sebagian terlelap
Sebagiannya lagi disibukkan dunia
Sisanya bermunajat memujiMu
Sunyi
Pandangannya hanya tertuju di satu fokus
Ke arah ketujuh bintang yang familiar
Betapa formasi itu yang begitu berarti?
Jelmaan yang dirindukannya selalu
Mirip dengan karakternya sebagai pemburu
Entah cita
Entah cinta
"Orion"
Terdengar bisiknya lirih
Oleh: Ana Falasthien Tahta Alfina (Profile)
Sabtu, 02 April 2011
Terisolasi pada Ego

Bila ada yang menghalaumu
Benarkah itu jarak?
Bila ada yang menyakitkan
Benarkah itu nasib?
Lalu senyum atau air mata yang mengujiku?
Butuh berbelok menyibak pilihan,
Barangkali?
Aku kian terisolasi
Ah manusia, selalu bercermin pada ego
Dan mengajakku turut serta,
Tega!!!!
Lihat, April mendekat.
Saturnus juga beranjak menemui Bumi
Tidakkah semuanya ingin berevolusi?
Kaupun juga?
Sekali lagi
Aku mengambil resiko
Yang kesekian
Dan lagi
Untuk memilih pilihan
Juga menemani Saturnus menemui Bumi
Biarkan jarak menjadi kalah
Biarkan nasib itu menyerah
Sehingga aku memilih senyum untuk mengujiku
Oleh: Ana Falasthin Tahta Alfina (Profile)
Rabu, 16 Maret 2011
Kita

Nanti aku akan rindu
barangkali
Nanti aku akan kembali ingat
mungkin
Maka,
aku hanya semampuku bertutur
sampai tidak ada lagi arena
tentang kita yang disebut alam
Maka,
Aku titipkan semuanya
pada langit tempatku belajar memahami
pada benderangnya sabit
pada familiarnya rasi Orion
pada gumpalan Andromeda yang serupa kabut
adalah milikku,
Aku titipkan semuanya
Pada hujan tempatku belajar kuat
pada rintiknya dengan ritme langkah kita
pada rinainya dengan cerita kita
pada kotanya di mana ada aku dan kamu
adalah milikmu,
Aku titipkan semuanya
pada kata tempatku belajar menorehkan
pada jemari yang terus menari
pada karya lewat kilasan paradigma
pada selembar media tempat kita bicara
adalah milikku,
Aku titipkan semuanya
pada Biola tempatku belajar merasakan
pada dawainya yang mengalun nada
pada metode geseknya yang peka
pada alunan musiknya yang selalu aku suka
adalah milikmu,
Hingga tersisa
hanya sketsa langit dan laut
di batas khatuliswa
peraduan tempat kita bertemu
nanti yang terakhir akan aku rindu.
Oleh: Ana Falasthin Tahta Alfina (Profile)
Senin, 28 Februari 2011
Rain (Again)

Tetes pertama hujan pertama, saat aku tengah mendongak ke arah langit yang mendung, saat semua langkah saling bergegas, saat angin berhembus lebih kencang, saat atmosfer panas mengaku kalah dan menyerah. Lalu tetes pertamanya jatuh, menjelma sebagai rintik yang menjadi musik favoritku, hingga aku lupa bagaimana rinainya mampu melepas seluruh kesalku, seluruh jenuhku, seluruh amarahku. Tanpa sadar langkahku hendak menerobos, aku ingin pulang tanpa payung yang menaungiku. Tapi, langkahku tiba-tiba menjadi sulit, seperti ada yang menahanku dari arah belakang.
"Hei, dereees loh, ngaco mau hujan-hujanan" Aarrrgh dia lagi. Menarik ranselku tanpa dosa.
"Lepasin!!!ga usah ikut campur urusan orang, hadaaaaaaaah!!!" tatapku sewot ke arahnya.
"Tunggu reda dikitlah kalo mau nge-autis, biar ga aneh juga diliat orang lain"
Haaah, aku menghela nafas panjang, selalu, selalu, selaluuu, ingin aku jual saja orang ini.
"Seneng ga?"
"Kenapa?ga suka ngeliat aku seneng?heh?" Percuma mengabaikan larangannya, percuma aku juga tidak akan bisa lari menerobos hujan. Kini aku hanya bisa menunggu hujan sedikit reda, disampingku dia berceloteh banyak hal yang tidak penting.
"Lu tau ga?"
"Ga!!"
"hahaha, makanya gue kasih tau. Ummm, kadang hujan menginsipirasi gue buat jadi orang kaya"
"heh?" pikiran anehnya mulai berfungsi.
"Yup, pernah ga ngebayangin air hujan itu kayak duit, makin banyak duit yang jatoh makin banyak yang bisa gue lakuin, ngebantu orang lain, nambahin beban berat amal gue di akhirat ntar"
"Gue pengen ngehilangin sekat-sekat yang makin banyak terbentuk di Negara ini, ga ngehilangin deh tapi minimal bisa mengurangi, gue pengen banget"
Aku menghela nafas mendengar ocehannya, memperhatikan ke arah langkah-langkah yang berlari menghindari hujan. Berbicara pelan, mengikuti jalan pikirannya,
"Aku juga pengen kaya, minimal kaya hatilah. Tapi aku juga beneran pengen kaya harta, bisa ngebantu kesulitan orang lain, nerapin sistem 'Pay Forward'"
"Eh?"
"Yup, jadi kalo orang yang aku bantu pengen ngebales bantuanku, dia cukup ngebantu orang lain dikesempatan lainnya terus nerapin sistem yang sama. Aku pengen nyiptain jaringan shadaqah..hehehe"
"Aku juga pengen bikin Ensiklopedia Zone, kayak perpus tapi lebih komplit. Di dalamnya bisa didapet informasi paling update tentang ilmu pengetahun, penemuan terbaru, perihal astronomi, sampai sejarah. Untuk politik dan ekonomi aku rasa sudah banyak yang mengekplor, aku tidak akan mengembangkannya lagi..hahaha"
"Terus, di sampingnya aku pengen punya lab bahasa sendiri. Khusus bahasa Arab, lengkap dengan Tajwid Quran, lengkap dengan pembinaan kaligrafi, lengkap dengan semua hal yang beraroma Quran"
"Dan semuanya gratis buat semua orang..hehehe"
"Gimana? Gila mana sama keinganmu itu?hahaha"
"Hahahaa, emang. Lu itu jauh lebih gila dari gue..hahaha"
"Makanya, harus beneran kaya dulu khan buat ngewujudin ide gilaku itu..hahaha"
Hujan makin mereda, tapi rintiknya masih terpatri jelas di pemandangan depanku. Seakan turut mendengarkan percakapan kita berdua, sesekali kilat menyambar dengan suara petirnya yang menggelegar. Turut mengamini keinginan kita berdua kah?
"Hei, hujan udah agak reda. Jangan narik tasku lagi, kali ini ga ada yang bisa menghalangiku lagi" Aku mulai bersiap pergi.
"Hehe, siapa juga yang mau menghalangi. Cepet pergi gih...Met kangen-kangenan ama hujan lu itu"
"Hei?"
"What?"
"Janji ya kalo udah kaya, minimal lu harus ngurangin banyak sekat itu. Bantuin gue..hahaha"
"Dan janji ya, ga lupa ama janji yang hari ini kamu buat barusan. Ingetin aku buat nepatin ntu janji. hehe" Ucapku sebelum bergegas.
"Hei, sampein ya buat hujan lu itu. Makasih buat inspirasinya hari ini, alunan musiknya gue suka"
"Yooo" Jawabku sebelum benar-benar berlari menembus hujan.
"Dear Rain, welcome at our city. Save our promise, and remember us for realize it" Bisikku lirih.
Oleh: Ana Falasthin Tahta Alfina (Profile)
Jumat, 25 Februari 2011
Pancingan

Ini sama sekali bukan tentang pelajaran pancing memancing hehehe..., jangankan bakat, pengalaman memancing pertama-pun belum ada...^^
Tapi, entah kenapa muncullah analogi perihal pancing-memancing ini di otak, aneh ya saya!. Tiba-tiba juga muncul pertanyaan "Mana yang lebih berpengaruh di dunia perpancingan? alat pancingnya, umpannya, atau ketertarikan ikannya untuk memakan umpan di pancingan?" hayo tebak yang mana? hahaha...
Semoga bukan analogi yang terdengar aneh, begini!! Saya melihat hidup kita erat sekali dengan konsep pancing-memancing ini, terlebih jika berurusan dengan diri sendiri, motivasi, semangat, keinginan untuk terus memperbaiki diri, dan proses diri lainnya. Biasanya orang-orang yang berprestasi (dalam mind set saya, prestasi ini banyak jenisnya), rata-rata terpancing atau bahasa manusianya termotivasi oleh lingkungan sekitarnya yang lebih dulu berprestasi, atau kalau ternyata lingkungan sekitarnya kurang kondusif berarti dia terpancing untuk menjadi sebuah agen perubahan yang pertama di lingkungannya itu. Itu untuk kasus yang pertama.
Sedang untuk kasus lain, tidak selalu juga sih pancingan tersebut ampuh memancing sesuai niat awal dan harapan kita terhadap sesuatu, hehehe... tentang semangat misalnya, beragam acara telah diikuti, nasehat didengarkan, buku motivasi dibaca, segala film bergenre on fire ditonton. Tapi tetep, jika dasarnya dari diri kita kurang semangat, atau tidak sepenuhnya menerima asupan semangat dari luar. Semuanya akhirnya jadi percuma, tidak membantu sama sekali bukan?
Segala jenis pengaruh dari luar itu semuanya bersifat pancingan dengan umpan yang beragam. Bisa tentang apapun, tentang kebaikan, keburukan, semangat, kemalasan, dan lain sebagainya. Tapi tetap berpengaruh tidaknya pancingan dan umpannya itu tergantung dari kita sendiri, bersedia merespon atau bahkan mangabaikannya.
So, selain harus belajar seperti ikan laut yang tidak ikut terbawa asin meski hidup di lingkungan yang asin. Belajar juga untuk tidak terlalu tergoda dengan pancingan yang umpannya terlihat menggoda dan menarik padahal tidak ada manfaat sama sekali, atau malah mengabaikan pancingan dengan umpan yang bermanfaat buat kedapannya. Pada akhirnya semuanya memang tergantung diri masing-masing individu, diri kita sendiri. :)
**Ada yang jual pancingan hidup yang bagus? hehehe
Oleh: Ana Falasthin Tahta Alfina (Profile)
Apa Kabar?

Pesan dari bintang,
Yang membawa kabarmu semakin mengabur dari aktifitasku
Sedikitpun tak menentu harus bagaimana?
Langitpun kian bisu tentang segalanya
Apa kabar?
Kabarmu?
Bulan mulai berganti rupa di pertengahan maret,
Dan apa sosokmu juga akan terganti?
Apa kabar?
Kabarku?
Hujan selalu menjatuhkan tetesnya setiap waktu,
Apa itu karena kondisi hatiku yang tengah melankolis?
Apa kabar?
Kabarmu?
Saat senja dan jingga bertemu,
Apa yang tengah kau perbuat?
Apa kabar?
Kabarku?
Mengalami kurva sinus yang tak menantu,
Mungkinkah aku mulai meragukan kepercayaan ini?
Ada yang jauh lebih terluka
Bila tau rasa sakitmu itu seperti apa?
Ada yang jauh lebih berduka
Andai bisa merasakan laramu itu sedalam apa?
Ada yang jauh lebih tak bermakna
Ketika hatimu mulai merasakan kosong
Seperti itu
Kabarku
Di antara kabarmu...
Apakah akan terjawab?
Oleh: Ana Falasthin Tahta Alfina (Profile)
Minggu, 20 Februari 2011
Simple Side

Bismillahirrahmanirrahim,
I'm coming again, with the other simple side of my space.
InsyaAllah this writing more simple than before, just enjoy it, hopefully you can feel like i felt.
Berawal dari sebuah kesempatan mendapatkan gratisan 'jalan-jalan' ke Bandung. Selama 3 hari saling belajar dengan orang-orang yang cas cis cus seputar pengetahuannya berbahasa Arab, menulis Arab, berpuisi, bernyanyi, berargumen, dan various thing. At Bogor, it's my first experience meet people like them. Made me like be at the Arabic region, so adorable, hehehe. We called our team as "Contingen of Persada"
Dengan keberagaman pengetahuan itu, kita bersama-sama berkompetisi, kedepannya mind set -together to be better- itulah yang diterapkan. Selama 3 hari itu kita bernaung di 'Dormitory' tempat tinggal Mahasiswa asing UPI, dengan kamar berdekatan satu sama lain, dan melakukan banyak aktivitas yang bermanfaat. So nothing idle time!!! All day is busy with many trip at around UPI. dari saling jadi suporter untuk setiap kompetisi sampai dengan sesi pemotretan di segala tempat yang dianggap menarik dan bersejarah. :D
Seperti pada umumnya, dalam kompetisi yang kita jalanipun tidak semuanya bisa lolos, ada yang berhenti sampai tingkat semifinal ada juga yang berlanjut hingga final. It's no big problem, at least every people can learn to process, i thought, in such condition precisely we more support each other.
Malamnya (the most favourite section for me), kita semua berkumpul, menyamakan suhu hingga mencapai kesetimbangan thermal (it's about spirit...hhe). Kita ber-21 orang ditambah dengan Ust. Asep saling berbagi tausiyah satu sama lain. Ust. Asep tidak henti-hentinya berkata "Ini bukan karena tim kita yang kurang bagus, mungkin kita saja yang belum beruntung atau mungkin jurinya yang belum tahu tentang potensi yang kita punya" Tidak ingin kita yang belum lolos sampai berkecil hati. hehehe
Setelah itu, Ust Asep menunjuk salah seorang yang bernama Afif untuk menyampaikan kultumnya. Dan apa yang disampaikan oleh Afif? Di antara kelelahan dari pagi dan sedikit ngantuk. Berikut yang bisa saya tangkap dari inti yang paling ingin diungkapkan Afif...hehe
"Seseorang yang gagal itu bukan berarti yang terburuk, karena dirinya yang buruk, atau mungkin usahanya yang kurang. Faktor kesuksesan itu banyak, di antaranya adalah keberuntungan seseorang (rezeki), niatnya dalam meraih sukses, juga mentalnya jika dia sukses. Semuanya saling mempengaruhi, jadi jangan sampai ketika kita gagal justru memvonis bahwa kita bukanlah orang hebat, tidak punya kelebihan apapun dan segala macamnya. Bisa jadi, itu memang bukanlah waktu kita untuk sukses, bisa jadi Allah ingin melihat lagi usaha kita yang lebih dari sebelumnya, bisa jadi niat ketika ingin sukses salah. Dan yang terpenting jangan pernah putus asa, terus berikhtiyar dan tawakkal..."
Ummm, his quote made me speechless. And caused bewitched the other...haha. I felt be better, without disappointed deeply for this achievement. Dalam hati aku yakin semuanya setuju sebelum kembali ke kamar masing-masing. Saat itu akhirnya terpecah jadi dua, yang masih punya kesempatan untuk terus berjuang melanjutkan kompetisi. Sedang yang belum rezekinya bertugas sebagai penyemangat dan supporter...hehehe, hingga akhirnya kita bisa membawa pulang piala tertinggi sebagai juara umum...T.T
Bener deh, rezeki ga kemana. Bahkan di tengah kegagalan beberapa orang kita masih bisa jadi juara umum, bahkan di tengah ketidakberhasilan tim saya masuk final, hari itu juga mendapatkan berita lolosnya 2 PKM sekaligus...
Subhanallah,
Alhamdulillah,
Serentak diucapkan berkali-kali... :D
Tergiang kembali 2 penggal liriK Camp Rock (my favourite song)
We're done but it's not over
We'll start it again
After the end of the day,
it keeps getting better
Don't be afraid
we'll do it together
Come on, Come on, You know
It's your time to move
It's my time to move
Come on, Come on, Let go
Leave it all behind
Your past and mine
Best Regard,
AFTA (Ana Falasthin Tahta Alfina) (Profile)
Sabtu, 19 Februari 2011
Rain

Tengadahku berpaling ke langit, menuggu ada yang jatuh dengan merentangkan kedua telapak tangan. Lumayan lama, tapi setetes-dua tetes yang ditunggu tidak pernah ada. Terganti dengan lirikan matahari yang sewot ke arahku, aku balik menatap tajam ke arahnya, kesal kenapa panasnya begitu menyiksa.
"Kenapa sih nunggu hujan mulu?" Disampingku ada yang bertanya heran.
"Sudah selayaknya bukan? Kota Hujan itu menurunkan hujan, tidak gersang seperti ini"
"Haha, segalanya sudah berubah sekarang. Mungkin ini pembalasan dari Ibukota, akibat hujan yang selalu dikirimkan Kota ini kesana"
"Lucu ya, selalu kepanasan kayak gini? aku jadi takut, jangan-jangan atmosfir di Kota ini benar-benar sudah berubah. Paraaaah" Aku meringis yang kesekian kalinya, panas banget!.
"Haha...nikmati aja, lumayan jemuran jadi cepat kering. Dan sepatu-sepatu juga tidak terlalu becek seperti biasanya"
Aku berpaling lagi ke arah langit, menerawang mengingat masa-masa kejayaan hujan. Masa ketika tanpa payung di ransel, dengan pedenya berlari di tengah hujan tanpa peduli dikatakan 'autis' oleh teman-teman. Masa ketika memilih berteduh menuggu reda, sambil mengalun ritme hujan yang khas, aromanya yang basah, serta segudang cerita diantara orang-orang yang saling terjebak menunggu reda. Aku rindu semua itu, hawa dingin nan sejuk, yang selalu mendinginkan hati dan otak ketika urusan dunia seketika berubah menjemukan.
"Udah, nangis aja kalo mau" Dia kembali mengajakku berdialog.
"heh?"
"Kebanyakan penggemar hujan selalu mewakilkan sedihnya lewat tetesan hujan, berhubung sekarang tidak ada kepastian lagi kapan hujan akan turun, cukup pake air mata aja kalo sedih. Apa susahnya sih?"
"Hei, do you forget? Air mata aku mahal tau..haha"
"Jiaaah, kamu bukan Suzu Aizawa, ga usah sok kuat gitu deh"
Mukaku jadi masam, Sok kuat katanya? aku? huh not different as usual, so annoying!!!
"Hubungan sebab-akibat barangkali yak? masih percaya?" Aku malah menodongnya dengan pertanyaan.
"Heh? what do you mean?"
"Iyah, sebagai media pembelajaran. Kemaren-kemarin dikasih hujan, manusia masih banyak ngeluh. Sekarang giliran dikasih panas, manusia masih tetap mengeluh"
"Lalu?"
Yes, aku senang membuatnya heran, dan sedikit menunggu kelanjutan penjelasannku.
"Lalu, apa yaaa?"
"Paraaah, hei??" i like this condition, when you anxious.
"Ummm, jadi manusia bisa belajar banyak hal dari dua kondisi yang berbeda itu. Sambil memanage perasaannya sendiri, cuaca kan salah satu yang mempengaruhi mood. lantas mood berlanjut ke sikap, sikap jelas akan terbawa di lingkungan sekitar. Jadi masuk akal bukan jika cuaca panas sekarang merupakan bagian dari sebab akibat..hehe"
"Bisa sih, bisa salah bisa bener...haha, kesetrum mahluk bijak yaa?"
Aku hanya tersenyum singkat, -terserah deh- Angin di sekitarku mulai terbang ke segala arah, lumayan. Terik siang hari jadi sedikit bernuansa sejuk.
"Umm, ada juga ya yang sedih tapi ga pake nangis. Kenapa sih? perempuan lebih manusiawi dengan air mata loh" lagi-lagi dia.
"Kayaknya cocok deh jadi reporter"
"Jawab ga?"
"Sebenarnya yaa, sebelumnya janji ga bakal kaget."
"Apaan?"
"Janji dulu ga bakal kaget.." Tegasku,
"Iyaiya, janji!!"
"Sebenarnya, aku punya perjanjian dengan alam semesta, khususnya tentang gravitasi. Jadi ketika aku sedih, alam semesta membantuku melawan gaya gravitasi, mengakalinya hingga tidak ada air mataku yang jatuh. Jadi buat apa juga aku menangis, terkadang menangis bukan ungkapan kesedihan yang baik. Menangis hanyalah media untuk membuat hati jauh lebih lega, tidak perlu sedih, tidak perlu menunggu masalah datang. Lalu hujan, aku lebih senang memilihnya meluruhkan seluruh sedihku..haha"
"haha, selaluuuu...koq ada mahluk melankolis macam kamu!!!"
"haha"
Untuk sang maha pemberi hujan,
Terima kasih.
Telah mengirimkan hujan sebagai arenaku tersedu sedan,
Menguatkan diri,
Menempa semangat di antara genangan masalah yang ada.
Belajar dari terpaan hujanMu untuk lebih arif lagi.
Untuk sang maha pemberi terik,
Terima kasih.
Telah mengirimkan matahari lengkap dengan teriknya.
Melatih kemampuanku,
memberikan keberanian di antara kerumitan hidup,
menguji hati untuk terus belajar memahami.
Tidak takut akan apapun.
UntukMu,
Alhamdulillah...
Segala puji yang tak terhingga..
*Diantara kekosongan inspirasi, terciptalah tulisan ini...:D semi cerpen yang serba nanggung..haha
Oleh: Ana Falasthin Tahta Alfina (Profile)