
Hatiku terkoyak lara
Menghembuskan nafas bara
Dalam lamunan duka sukma
Merasuk jiwa menjadi gulita
Ah… seandainya cacing menjadi belut
Akan kumakan habis tanpa melalui mulut
Namun, apa daya takdir Tuhan kuturut
Laksana jiwa yang terombang-ambing oleh kalut
Aku sadar biru tak selamanya indah
Kadang jingga pun hinggap dipelupuk
Sehingga, wahai hati janganlah gundah
Aku akan berusaha jiwa ini kutepuk-tepuk
Tak ada usaha yang kusombongkan
Jika takdir selalu menguntit di impian
Walau aku tak seberapa kenal Tuhan
Yang pasti aku turuti nasib kehidupan
Tuhan, maafkan aku jika jalur ini yang kutempuh
Aku tahu itu amat terjal dan berliku lumpuh
Aku tak menyerah lemas dan tersungkur
Bahkan aku akan menuruti hati yang bergetar
Aku ingin Dia sumringah girang
Akan kukorbankan cita dan cinta yang gersang
Demi, Dia yang kusayang
Karena aku dan hatinya bersatu riang
Sekarang, aku berharap dalam senja shubuh
Dalam renungan doa yang riuh
Air mataku pun menetes berkeluh kesah
Disambar dengan rongrongan suara ayam yangrusuh
Moga Dia lebih kuat menghadapi kehidupan
Yang gelamor dan penuh simpanan kabut kalut
Aku tak mau gantung diri dalam kelana kesendirian
Jika misiku masih bergelanyut dalam setiap rongga kecut
Enam bulan sudah kubertapa
Sesenggukkan mata yang nestapa
Dan linangan amarah juga meluap
Keduanya membuat kehidupanku laksana atap
Maka, izinkanlah Tuhan
Kuingin menepaki takdirMu dalam sorotan harapan
Yang membuat kami merasa tentram dan nyaman
Sehingga aku bisa leluasa bergurau dengan sandi kehidupan
Sekali lagi Tuhan, Izinkan aku
Aku yakin keputusanMu pasti mempesona khusu
Membuatku berjingkrak riang menjadi hambaMu
Lalu, aku mengarungi dawai hidup yang lugu
Disisa kehidupanku
*Untuk Dia yang sedang Uzlah (Menyendiri) semoga sepi membuatnya manis dan berwibawa menyongsong guratan takdir
Oleh: Adi Nurseha (Profile)
Ungkapan Mutiara
Minggu, 01 Mei 2011
Berharap dalam Senja Shubuh
Bukan Hantu yang Aku Takutkan, Tapi Harimau

Senja mulai menyapa malam, aku tetap duduk manis pada tempatku sambil menatap aktivitas teman-teman di sekelilingku. Semua tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk bekal pendakian malam itu. Para senior mulai menanyakan persiapan masing-masing pendaki yang tergolong masih pemula. Termasuk diriku.
"Non, jaketmu mana?" tanya seorang senior padaku.
"Ini yang kupakai" Kataku sambil menarik helai kain jaketku. Sementara kakak senior sepertinya tercengang.
"Hah...!!! Lo mau kondangan apa mau naik gunung? yang bener aja, masa naik gunung pakai jaket tipis gini, lo mau mati kedinginan?" Kata si senior sambil menahan tawa disusul lirikan dan senyum hampir semua pendaki yang ada di situ.
Aduh, jadi malu aku. Tapi aku cuma tersenyum saja mendengarnya. Sementara Ibu pembina mendekatiku sambil menyerahkan jaket yang dipakainya.
"Neh, kamu pakai ini, di atas tuh dingin, nanti kamu kedinginan" Katanya sambil menahan senyum.
"Waduh Bu, gimana dengan Ibu? ibu pakai apa?" Tanyaku heran.
"Tenang nanti Ibu cuma di post satu kok, Ibu gak ikut naik kok" Katanya menyakinkanku. Akupun segera menerima jaketnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada beliau.
Sesaat kemudian rombongan pendaki mulai bergerak melangkah menyusuri jalan setapak kaki gunung Slamet. Sesuai dengan anjuran senior, semua pendaki saling bergandengan tangan. Awal pendakian semua masih penuh semangat, masih segar, langkahpun serempak mantap dan kompak. Semakin tinggi mendaki, semakin sulit medan di daki, pertahanan fisik para pendaki pun tak lagi seimbang. Tangan yang semula saling erat bergandengan, kini satu persatu mulai terlepas. Para pendaki yang semula berjalan rapi seperti barisan ular kini telah tercerai-berai membentuk beberapa kelompok. Aku termasuk dalam kelompok yang melangkah paling depan.
Aku mencoba mengatur nafasku yang sudah sejak tadi mulai tersendat-sendat. Aku meminta teman-teman tuk berhenti sejenak. Begitulah, jika ada satu pendaki dalam kelompok itu kehabisan tenaga maka kelompok itupun segera berhenti tuk istirahat sebentar. Ini berlangsung terus-menerus sepanjang pendakian malam itu. Kebersamaan terasa begitu indah. Di sinilah kita bisa tahu karakteristik asli seseorang. Ketika kita hidup di alam bebas, ketika air dan bahan makanan susah didapat, ketika lelah dan haus datang menghampiri, sementara kita harus berbagi. Kebersamaan dan kesetiakawanan sangat dibutuhkan.
Malam terus beranjak, langkah kaki mulai terseok-seok, namun semangat tuk mencapai puncak tak jua surut. Desir angin malam lembut terasa. Dalam iringan gemerisik dedauanan dan derap kaki yang menginjak ranting-ranting kering yang berserakan. Kakak-kakak senior terlihat terus memberi semangat. Tak terasa malam beranjak pergi, langit yang semula gelap perlahan-lahan sedikit terang. Ternyata waktu telah menunjukkan jam tiga lewat waktu setempat. Tiba-tiba kawan-kawan yang satu rombongan denganku berteriak girang.
"Sedikit lagi sampai puncak, ayok percepat langkah kita, kita harus sampai di puncak sebelum matahari terbit." kata salah seorang senior.
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, semua bergegas tuk mendaki jalan yang sudah tidak beraturan itu. Jalan yang d penuhi dengan akar-akar pohon yang malang melintang. Terkadang harus melompati akar-akar itu, terkadang harus merunduk lewat di bawah akar-akar itu. Semua begitu semangat. Rombongan yang rata-rata teman-teman cowok itupun terus mempercepat langkahnya. Dan apa yang terjadi? Aku tertinggal jauh di belakang. Aku mencoba teriak memanggil, namun sepertinya sia-sia, mereka tak mendengar teriakanku. Karena sudah terlalu jauh. Punggung merekapun tak kelihatan. Suara langkah kaki mereka telah lenyap.
Tinggallah aku sendiri, melangkah dengan sisa-sisa tenagaku. Aku terus melangkah sendirian menapaki jalan di depanku tanpa alat penerang sedikitpun. Namun mataku masih bisa melihat jalan yang ada di depanku dalam keremangan malam itu. Bayangan ketakutan mulai menghampiriku. Bukan hantu yang aku takutkan, tapi bagaimana kalau aku ketemu harimau? Bagaimana kalau aku dicabik-cabik harimau? Team SAR pasti tak kan menemukanku. Ya Allah, lindungilah hambaMu yang lemah ini.
Tak henti-hentinya aku berdoa memohon keselamatan, hingga akhirnya nafasku seolah berhenti saat kudengar suara langkah kaki jauh dari belakangku. Langkah itu begitu cepat makin lama makin jelas. Namun tidak terdengar suara obrolan. Hatiku semakin was-was, jantungku berdetak makin cepat. Dalam kepasrahan kutetap mencoba dan berusaha tuk mempercepat langkahku. Dan tiba-tiba.
"Mbak, sendirian aja?" Lega hatiku mendengar suara itu.
"Iya." jawabku singkat. "Yang lain dah di depan dan sebagian masih di belakang." Kataku melanjutkan. Mereka ternyata 4 orang pendaki dari Bogor, cowok semua.
"Kami jalan dulu ya Mbak" Kata salah seorang dari mereka.
"Iya, silahkan" kataku sedikit berat. Akupun sedikit minggir tuk memberi jalan pada mereka. Satu persatu mereka mulai meninggalkanku dan dengan cepat melompati tanjakan yang ada di depannya. Tanjakan itu emang cukup tinggi sebatas dadaku. Dalam keadaan normal tentu saja aku bisa melompatinya, namun saat itu tenagaku benar-benar habis.
Baru saja aku ingin teriak minta tolong, salah satu dari pendaki itu membalikkan badannya dan mengulurkan tangan kanannya. Segera kuraih tangannya, dan dengan cepat dia menarikku.
"Makasih, Mas" kataku singkat. Dia pun tersenyum.
"Sama-sama Mbak, maaf kami jalan dulu, mau lihat sunrise." Katanya sambil berlalu meninggalkanku sendirian lagi. Tapi kali ini aku sudah sedikit lega, ketakutanku agak hilang, walau dikit-dikit masih dag dig dug kalau-kalau ketemu harimau, macan atau singa. hiiii... apa jadinya.
Langit tampaknya sudah makin terang walau masih dibalut keremangan malam. Samar terdengar suara ramai temen-temen yang bersorak kegirangan karena telah sampai di puncak. Hatiku makin tenang, suara-suara itu makin jelas terdengar. Kupercepat langkah kakiku. Akhirnya, sampai juga. Aku menginjakkan kaki di puncak gunung Slamet. Kulihat ke sekeliling, ternyata hampir tidak ada pepohonan. Teman-teman terlihat memainkan kameranya tuk mengabadikan keindahan sunrise di pagi itu.
Akupun turut menikmati keindahan pagi itu. Salah satu senior berteriak. "Hey lihat, itu puncak gunung Sindoro Sumbing. Sudah pernah kesana belum?" Tanyanya kepadaku.
"Belum. Dan gak akan pernah ke sana" Kataku menahan jengkel.
"Lho kenapa...?" Tanyanya heran.
"Naik gunung apaan, aku tadi kok ditinggal sendirian? Kalau aku ketemu macan gimana?" Kataku dengan sedikit mendelik. Eh dia malah ketawa.
"Hahaha... kamu kan galak abis. Macannya pasti takutlah ama kamu. Buktinya gak ada macan yang nemuin kamu kan?" Katanya sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Sementara aku masih cemberut menahan rasa jengkelku. Saat itulah rombongan berikutnya mulai bermunculan meramaikan suasana pagi itu. Aku mulai menaiki bebatuan yang gersang tanpa tumbuhan.
"Non berhenti, jangan tinggi-tinggi, ntar kamu diterbangin angin." Kata salah seorang alumni yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Dia pun menyusulku dan duduk di sebelahku. Rambutnya yang panjang berantakan dimainkan angin yang bertiup cukup kencang.
"Kang, sini rambutnya tak rapiin" Kataku sambil melangkah dan duduk di belakangnya.
Kedua tanganku mulai membagi rambutnya menjadi dua bagian, lalu kuikat dengan menggunakan syal hijau miliknya. Teman-teman yang melihat spontan tertawa melihat pria gondrong dipita dua. Langsung saja salah satu dari mereka mengabadikan moment itu dengan kameranya.
Waktunya kembali ke basecamp di post satu. Semua beranjak meninggalkan puncak gunung Slamet. Semua bahagia, semua bernyanyi penuh ceria. Sementara aku menikmati suasana hatiku sendiri. Kini giliranku meninggalkan teman-temanku. Dengan cepat aku melangkah turun. Aku berlari di antara jalan setapak, dan aku duduk meluncur di atas rumput yang tumbuh menurun. Dua orang senior tersengal-sengal mengejarku, menyuruhku berhenti dan memperlambat langkahku. Namun aku tidak peduli aku terus meluncur layaknya anak kecil yang sedang bermain di playground.
Setelah semua sampai di basecamp kedua senior itu pun menghampiriku "Wuaduh non, kamu tuh, mentang-mentang kecil main pelorotan mulu. Kalau kamu jatuh ke jurang gimana?" Tanyanya padaku.
Dengan santai kujawab "Buktinya gak jatuh kan? suruh siapa semalam ninggalin aku sendirian?" Akhirnya semua ketawa.
"Ooo.... ngambek neh ceritanya, makanya main pelorotan?" Sambil gemes mengobrak-abrik rambutku.
*** Memory pendakian-I ke gunung Slamet ^_^
Oleh: Khasanah Roudhatul Jannah (Profile)
Sabtu, 30 April 2011
Bicaranya Hati

Bila hati yang bicara, akankah bisa terungkap dengan kata-kata? Yang ada adalah tangan dan kaki yang mewakili bicaranya hati. Kemudian, sekarang hati siapakah yang bicara itu?
Seusai dengan tak sengaja mendengarkan suatu liputan berita di televisi, barulah ini dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya tiap insan rindu akan kesucian dan tak pernah mau dengan sengaja melakukan perbuatan tercela.
Sebuah liputan, yang bercerita tentang sebuah kawasan lokalisasi di daerah Surabaya. Entah pula, kawasan yang dimaksud adalah kawasan paling terkenal se-Asia Tenggara itu atau bukan. Di situ diceritakan bahwa penduduk lokalisasi, saat ini sudah menurun sebanyak 30% daripada tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat setempat mengakui bahwa mereka kerapkali mendekati para PSK itu dengan perlahan. Walhasil, saat ini sudah berkurang sebanyak 30%, suatu peningkatan yang patut kita syukuri bahkan sekecil apapun angkanya.
Tak pernah ada wanita yang menjadikan “pelacur” sebagai cita-cita hidupnya. Kebanyakan mereka melakoni sandiwara demikian adalah karena terpaksa atau karena sebelumnya sudah dijerumuskan terlebih dahulu oleh orang yang tega berbuat jahat pada mereka. Tapi pernahkah, ketika kita punya adik kecil atau kerabat dan tetangga kita yang masih usia SD, ada yang bercita-cita menjadi penjaja cinta? Saya yakin dengan sangat pasti, tidak akan ada hati dan akal sehat yang menginginkan demikian.
Yang sekarang sedang menjalani sandiwara seperti itu, yakinlah bahwa di hatinya selalu ada secercah kerinduan untuk kembali menjalani hidup seperti manusia biasa lainnya. Nuraninya tak pernah mau dan tak pernah mengijinkannya untuk berbuat seperti itu. Ikutilah kemauan hati untuk selalu berhasrat beribadah dan semakin mendekat padaNya. Ya, itulah fitrah bagi yang namanya manusia.
Dan bukan hanya "penjaja cinta" yang memiliki fitrah demikian. Seorang penjaja cinta adalah seorang manusia, dan tengoklah kita pun sama manusianya dengan mereka. Kita pun memiliki fitrah itu kawan. :)
Ya Arhamarrahimin... Penuhilah lagi hati-hati kami ini dengan kasih sayangMu, sebagaimana Engkau yang bisa menguatkan iman di hati kami, kami pun tak akan bisa berbuat apa-apa tanpa campur tangan dariMu. Tolong temani dan beri kekuatan pada kami untuk bisa selalu ingin lebih dekat lagi denganMu, amin...
Oleh: Rosa Rahmania (Profile)
Kamis, 28 April 2011
Kesiapan itu Harus Dilatih

Rabu, 27 April 2010. 11:12 AM
“Saya tidak mengatakan ini salah, saya pun juga tidak menyalahkanmu, hanya saja ini tidak tepat. Saya hanya butuh waktu. Bersabarlah sejenak!!! Jika memang dirasa sudah tidak sanggup, ikhlaskan saja semuanya, ini bagian dari kisah kehidupan yang harus disyukuri. Namun jika dirasa sanggup 'MONGGO', sekali lagi ikatan ini bukanlah ikatan yang disyahkan jadi sewatu-waktu jika mau mundur silahkan dan ikhlaskan” Send Muslih.
Penggalan SMS yang saya layangkan untuk seseorang yang selama 5 tahun ini menunggu saya membuat saya berpikir berulang kali pagi ini untuk mengirimnya. Tepatnya semenjak 2005 silam, dia mencoba mengajak saya untuk menjalani hubungan yang menurut saya tidak jelas statusnya. Waktu itu saya hanya menawarkan dia untuk mendatangi langsung orang tua saya dan dia mengiyakan itu. Persis seperti yang dia katakan pada saya bahwa katanya dia tertarik pada saya dan kelak akan menikahi saya, begitu juga dengan apa yang dia katakan pada Bapak dan Ibu saya satu bulan setelah dia menerima tantangan saya.
“Biarkanlah berjalan apa adanya, maaf saya masih belum siap jika saat ini harus menikah” Ujar saya 3 tahun lalu saat dia mencoba untuk mengajak nikah.
“Beri aku alasan konkrit Din kenapa belum siap?” Tanyanya
“Hmmmm… entahlah hanya saja saya belum siap untuk meninggalkan orang tua saya begitu cepat sedang saya belum melakukan sesuatu yang membuat Bapak-Ibu bahagia” Saya yakin ini alasan paling jitu untuk membuatnya diam bertanya.
“Setelah menikah aku gak akan menghalangimu untuk mencapai rencana hidupmu dan aku juga gak akan menghalangimu untuk meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi”
“Mus…. Saya mohon beri saya waktu. Jika kamu sabar insya Allah saya gak akan ke mana” Saya memang selalu cerdas untuk membuatnya diam. ^_^
Terakhir kalinya dia mengajak saya menikah 3 tahun lalu, awal tahun 2009. Hampir setiap bulan setelah proses menyatakan sukanya tahun 2005 pertengah bulan, dia selalu menanyakan kesiapan saya menikah dengannya, dan kadang saya tak meresponnya karena saya yakin dia paham jawaban saya yang tidak pernah berubah. Pernah suatu saat dia mendatangi saya ke rumah kos saya yang hanya ingin melihat respon saya saat menolak diajak menikah, padahal jarak tempat tinggal kami tidak kurang dari 12 jam.
“Din... apa setelah aku ke sini kamu akan bersedia?”
“Mus... saya akan menjawabnya jika saya benar-benar siap”
“Sebenarnya apa yang kamu tunggu Din?”
“Saya hanya ingin membangun rumah tangga dengan kesiapan saya Mus, siap secara lahir dan batin. Bagi saya pernikahan adalah janji suci saya pada Allah yang disaksikan oleh banyak orang, mana mungkin separuh agama yang ingin saya sempurnakan ditaruh dengan ketidaksiapan saya?”
“Tapi Din…”
“Jika kamu masih bersabar insya Allah saya akan datang, tapi jika sudah tidak sanggup lagi apa saya berhak menghalangimu untuk pergi?”
“Hmmmm… Baiklah dengan itu kamu sebenarnya masih ingin aku tunggu Din”
Hingga 2011 datang dan studi sarjana saya selesai, dia kembali nekat mendatangi orang tua saya di rumah. Kali ini dia didampingi oleh kakak tertuanya dan adik bungsuhnya. Bapak dan Ibu saya memang sudah sejak awal menaruh hati pada pria ini bahkan sejak awal tidak pernah melarang saya jika saya menikah dengannya. Menurut Bapak dan Ibu, pria ini santun dan bertanggung jawab, entah tau dari mana padahal baru beberapa kali berinteraksi secara langsung. Bisa jadi apa yang dia tonjolkan di depan Bapak dan Ibu hanya ingin mencari perhatian saja. Atau mungkin sifatnya hanya sementara karena ingin mengambil hati Bapak dan Ibu. Saya sedikitpun tidak terpengaruh dengan itu.
“Nak, bagaimana keputusanmu?” Tanya ibu setelah itu.
“Bu, bukannya Ibu tau kalau Dina belum siap hingga saat ini”
“Din, usiamu sudah cukup untuk melangkah kejenjang berikutnya, Bapak-Ibu ridha untuk itu, dia pria baik” Bapak angkat bicara kali ini.
“Iya Din, apa yang kamu tunggu sebenarnya? Bukankah dia sudah 5 tahun menunggumu?” Tanya ibu lagi
“Dina tidak pernah menyuruhnya menunggu Bu”
“Nak, laki-laki itu jika ditolak terus menerus akan merasa penasaran. Apalagi jika alasan yang diberikan menurutnya tidak masuk akal. Sekarang alasan apa lagi yang akan kamu berikan din? Tidak siap lagi?” Bapakku mulai merayuku.
“Bagi Ibu dan Bapak gelar sarjanamu sudah cukup, bukankah dia juga menawarkanmu posisi di yayasannya setelah kamu menikah dengan dia kelak?” Kata ibu.
“Ingat lho ya Din, perempuan itu kalau sendirian lebih baik dijaga oleh Mahramnya dari pada sendirian ke mana-mana” Bapak menambahkan lagi.
Ya Allah kenapa hingga saat ini sepertinya berat jika harus menikah. Saya benar-benar tidak siap. Entah kenapa. Bukan saya tidak tertarik pada pria itu, bahkan jika dicari celanya saya nyaris tidak menemukannya. Sejak awal dia memang lelaki santun yang dikenal di Pesantren saya. Apalagi beberapa kali dia menjadi ketua Pondok yang dipercayai banyak orang, terlebih guru-guru kami. Selepas dari pesantren dia melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi Al-Quran dan langsung menjadi salah satu pengajar di sana selepas kuliah. Ukuran IQ-nya sungguh tidak ada yang meragukannya lagi.
Ya Allah apa ketidaksiapan ini hanya karena dia jauh lebih sempurna dari pria-pria yang lain? Tapi bukankah setiap manusia memiliki kekurangan? Tapi saya benar-benar jauh lebih kecil dibanding dia. Dia pintar dalam urusan al-Quran, sedang saya bisa mengaji saja al-hamdulillah. Dia pria terpandang di mata masyarakat tempat tinggalnya karena keahliannya dalam bersosialisasi, sedang saya hanya wanita rumahan yang kadang tidak kenal siapa-siapa di kampung saya. Bahkan mungkin piagam penghargaan berjejer di tembok rumahnya, sedang saya bisa melanjtkan pendidikan saja sudah sangat luar biasa.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina, dering ponsel yang dibawakan oleh Sulis berbunyi tanda pesan masuk, ah dini hari siapakah yang mengganggu konsentrasi saya.
Pesan Masuk dari Muslih. “Din, mudah-mudahan ikhtiarmu dimudahkan untuk menjawab tawaranku tempo hari”
Balas. “Amin”. Send Muslih
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Amin. Banyak-banyak istighfar Din”
Balas. “Makasih, inysa Allah. Boleh saya nanya sesuatu?”. Send Muslih
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Silahkan”
Balas. “Kenapa kamu memilih saya?”. Send Muslih.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk Muslih. “Din, setiap orang berhak memilih siapa yang kelak akan mendampingi hidupnya. Aku memilihmu karena aku ingin kamu”
Balas. “Maksudnya?”. Send Muslih.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Aku butuh kamu untuk mengarungi kehidupan selanjutnya, bukan karena aku tidak mencoba mencari selain kamu Din, sempat beberapa kali aku mencoba tapi aku butuh kamu”
Balas. “Butuh untuk apa”. Send Muslih
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Karena aku yakin kelak keturunanku akan seperti kamu. Aku butuh karena keturunanku Din. Jika kau mengiyakan menikah denganku maka kamu akan tau jawaban sebenarnya Din”
Balas. “Aku belum siap Mus”. Send Muslih.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Siap itu masalah ikhtiar Din. Aku yakin selama ini kamu belum mencoba untuk siap. Aku yakin kamu memang tidak pernah mempersiapkan untuk menyambut peluang menikah denganku Din. Aku bahkan yakin urusan tawaran menikah menjadi urusan terbelakang bagimu selama ini Din. Kesiapan itu proses yang harus dipupuk sejak awal Din. Seperti kita hendak sekolah, bahwa sebelum sekolah kita harus mempersiapkan seragam, buku, alat tulis, sepatu dan sebagainya. Jika kita tidak siap semua itu maka kita tidak bisa sekolah karena jika memaksa maka di sekolah akan terhambat menerima pelajaran guru. Sama dengan pernikahan din. Mulanya kita harus meimliki persepsi positif terhadap konsep pernikahan, setelah itu perlahan kita ikhtiar mencari calon pendamping hidup dengan membuka diri terhadap siapa saja yang ingin”
Balas. “Terimakasih Mus”. Send Muslih
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Lalu kapan aku bisa menerima jawabanmu”
Sengaja kugantungkan begitu saja pesan terakhir dari Muslih. Air yang keluar dari mata begitu deras. Benarkah saya tidak mencari kesiapan itu? Lalu apakah selama ini saya mendzalimi Muslih dengan jawaban saya yang menggantung? Ya Allah.
Satu bulan kemudian. Rabu, 27 April 2010. 11:12 AM.
Innalillahi wa inna ilaii roji’un, Ibu saya pulang selamanya menghadap yang maha agung. Tidak sempat saya memberi tau kesiapan saya untuk menikah, Ibu kecelakaan tabrak lari di depan stasiun setelah pulang dari berjualan. Tujuh hari di ICU tidak membuat Ibu stabil dan saya sangat kehilangan.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina, Pesan masuk dari Muslih. “Din, adakah kamu sudah mepersiapkan jawabannya?”
Balas. “Mus, tidak bisakah menunggu beberapa hari lagi?”. Send Muslih.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina, Pesan masuk dari Muslih. “Apa saya salah memintamu menjawab sekarang Din? Apa karena Ibu pergi kamu semakin mengulur waktu Din? Kamu sudah lama membuatku menunggu”
Balas. “Saya tidak mengatakan ini salah, sayapun juga tidak menyalahkanmu, hanya saja ini tidak tepat. Saya hanya butuh waktu. Bersabarlah sejenak !!! Jika memang dirasa sudah tidak sanggup ikhlaskan saja semuanya, ini bagian dari kisah kehidupan yang harus disyukuri. Namun jika dirasa sanggup "MONGGO", sekali lagi ikatan ini bukanlah ikatan yang disyahkan jadi sewatu-waktu jika mau mundur silahkan dan ikhlaskan. Seperti yang kamu bilang waktu itu, persiapan itu harus kita latih begitu juga dengan kesiapan menerima keputusan ini Mus, kita harus melatihnya”. Send Muslih.
*Terispirasi dari kisah seorang sahabat yang bertahun-tahun lamanya menunggu jawaban seorang wanita yang sedang menjalani studi di luar negri dan akhirnya hingga kini sahabat saya masih menunggu jawaban itu. Bagi siapa saja yang mengalami kisah serupa dengan diatas, atau agak mirip atau mungkin lagi berminat menjalani kisah itu ^_^ Satu kuncinya, bahwa KESIAPAN ITU MEMANG HARUS DILATIH, siap mencintai itu berarti siap untuk tidak dicintai, siap membenci itu sama juga harus siap disukai, siap menikah itu juga harus siap dengan rumitnya rumah tangga, siap melanjutkan studi harus siap dengan semakin mahalnya biaya studi, siap jadi koruptor berarti siap menjalani masa tua di jeruji besi dan lain sebagainya.
Satu lagi, siap menulis juga harus siap tulisannya akan diberikan masukan bahkan mungkin tulisannya tidak dibaca orang lain dan malah menjadi bungkus kacang dan kerupuk yang dijual dipasar ^_^
Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)
Rabu, 27 April 2011
Inspirasi

Menulis jangan menunggu datangnya inspirasi, tapi inspirasilah yang hendak kita ciptakan sendiri. Namun apakah kalian tahu bagaimana menciptakan inspirasi itu? Semalam habis rapat team sempat ada instilah: “Jangan menunggu-nunggu waktu, tapi buatlah waktu oleh kita.”
Mungkin artinya kita sebagai manusia biasa terkadang suka malas untuk melakukan sesuatu, suka mengulur-ngulurkan waktu dan berbuat tergantung mood kita. Itu sudah lumrah di dalam diri kita sekarang. Akan tetapi kelumrahan itu jikalau tetap saja dibiarkan mungkin saja bisa berakibat fatal bagi diri kita. Contoh seorang pe-hutang, sedikit demi sedikit dia terus menerus meminjam uang kepada orang, maka tak terasa ketika dia hendak melihat jumlah hutangnya sempat terkejut dengan besarnya jumlah hutang yang dia miliki. Begitulah kira-kira ciri seorang pemalas dan seorang yang tidak bisa memanfaatkan waktunya sampai-sampai dia diperbudak oleh waktunya sendiri.
Kita sebagai orang yang waras dan berpendidikan tentunya tidak akan menghendaki hal itu hinggap pada diri kita. Seorang pe-hutang tadi hanyalah contoh, masih banyak kejadian-kejadian yang lain yang serupa dengan hal itu. Bagi seorang pemalas dan yang suka mengundur-ngundurkan waktu akan tahu akibatnya sendiri. Satu dua kali tidak akan terasa, tapi setelah dia terus melakukannya berulang-ulang sehingga menjadi suatu kebiasaan yang sulit dia tinggalkan maka pada saat itulah rasa penyesalan yang sangat dahsyat itu akan menghampirinya. Untuk mencoba memperbaiki diri tidak akan semudah dia membalikan telapak tangan. Semuanya butuh proses sebagaimana lamanya dia melakukan kemalasannya dulu. Kebiasaan baru pun harus dilaluinya dengan rasa yang teramat berat. Bayangkan saja betapa susahnya kita merubah kebiasaan kita hingga 180 derajat dalam seketika waktu dan rasanya itu adalah hal yang mustahil untuk kita lakukan dalam jangka waktu yang relatif pendek.
Kebiasaan merupakan hal yang akan membawa ke mana arah masa depan kita. Sebenarnya jika ada orang yang bertanya “Mau jadi apa saya di masa depan?” merupakan pertanyaan yang menurut saya adalah satu pertanyaan yang bukan caranya untuk bertanya dengan pertanyaan itu. Karena yang bisa menjawabnya hanyalah dirinya sendiri. Intinya adalah kebiasaan. Kebiasaan adalah cerminan diri kita di masa depan. Ingin tahu kalian akan seperti apa di masa depan maka lihat apa yang sedang kalian lakukan di saat ini.
Terkait dengan inspirasi yang menjadi judul artikel kali ini. Coba kita jangan menunggu-nunggu datangnya inspirasi, tapi cobalah belajar untuk menciptakan inspirasi kita sendiri. Inspirasi bukanlah “Jailangkung” yang datang tak dijemput, pulang tak diantar, tapi inspirasi itu adalah suatu hal yang akan selalu ada di dalam diri kita. Inspirasi itu bukanlah milik siapa-siapa, tapi inspirasi hanyalah milik kita “Kita dan inspirasi kita”.
Hanya satu hal yang perlu kita ingat, bagaimana kita bisa menjaga selalu inspirasi kita? Apalagi kalau bukan dengan kebiasaan. Kebiasaan yang akan terus menerus mendatangkan inspirasi kepada kita. Hanya kebiasaanlah yang akan menentukan masa depan kita, entah itu kebiasaan buruk maka hasilnya akan buruk ataupun kebiasaan yang baik maka hasilnya pun akan baik pula. Lihat seorang penulis terkenal seperti “Putu Wijaya” (Sang Teroris Mental) beliau mengatakan: "Menulis setiap hari dan Menulis apa saja". Kemudian juga dengan ucapannya Pramoedya Anantatoer (Penulis Yang Menolak Hadiah Nobel Sastra), "Terus Menulis Walau Tubuh Terpenjara."
Lihat komentar-komentar mereka yang telah meraih masa depannya dengan sukses. Semua berawal dari kebiasaan. Membiasakan diri menulis untuk seorang yang ingin menjadi penulis, membiasakan diri berolahraga untuk seorang yang ingin menjadi atlet, membiasakan diri terus membaca dan mengamati ilmu-ilmu kebidanan untuk seorang yang ingin menjadi bidan, dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan yang mesti kita lakukan sesuai keinginan masa depan kita yang hendak kita raih.
Inspirasi bukanlah hal yang aneh bagi kita, tapi inspirasi merupakan konsekwensi dari kebiasaan-kebiasan yang telah kita lakukan. Inspirasi itu tidak akan datang secara tiba-tiba, tapi inspirasi yang akan kita ciptakan sendiri. Inspirasi milik kita, inspirasi hanya untuk kita dan inspirasi hanyalah ada dalam diri kita. Intinya hanya satu ; “KEBIASAAN”. Oke Friend… You Understand? Mulailah kita sekarang melakukan kebiasan-kebiasan yang akan menentukan masa depan kita. Apa bentuk kebiasaan itu? Jawabannya tergantung pada diri kalian. OK !!! Tuhan tidak akan merubah diri kita, kecuali diri kita yang akan merubahnya sendiri.
Oleh: Mamat Munandar (Profile)