
Kala cinta datang menggoda
Memanggil dan mengetuk pintu hati
Lalu singgah ke rumah jiwa
Tanpa kata permisi
Hhm... Terdengar begitu syahdu menyentuh kalbu
Namun, jika ini benar cinta
Jangan biarkan cintaku padaMu hilang di hati
Perkenankanlah tuk selalu mencintaiMu sepenuh hati dan ketulusan diri...
Hanya padaMu ya Rabb, cinta hakiki itu berada
Cinta yang mengantarkan keindahan sesungguhnya...
Ya Rabb, berikanlah cinta kepada seorang insan pilihanMu, yang di dalam dirinya selalu ada keinginan dengan tujuan meraih ridhaMu
Insan yg berhiaskan iman dan takwa
Wajah indah berseri karena air wudhu keseharian dirinya
Insan idaman semua wanita shalihah
Cerminan seorang berhati mulia yang selalu terpatri dalam dirinya
Insan berakhlakul karimah perhiasan dunianya
Ilmu yang bermanfaat sebagai jalan menuju syurgaMu
Dan dunia menjadi ladang akhirat baginya untuk mencapai cinta Allah taala...
Kini tabir misteri rasa telah terungkap,
Tapi biarlah ini jadi kepunyaanku saja,
Dalam diam kumenggagumi sosokmu, karna kutau bersamamu hanya ayal tinggiku saja...
Terimakasih ajariku banyak hal tentang hidup dan yakinkanku akan keindahan Islam Mengenalmu adalah sebuah anugrah bagiku,
Karna tanpa kusadari rasa inilah yang menuntunku menemukan jalan terangNya
Dan aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu...
Di dunia yang merana ini, dunia yang nantinya akan binasa, dunia penuh kerakusan dan keserakahan manusia, ternyata masih ada sosok sepertimu...
Aku menyebutmu "My Inspiration"...
14/05/2011
** Hanya sekedar curahan hati saja dan maaf jika kurang layak, hehehe O_*
Oleh: Trie Jojoba (Profile)
Ungkapan Mutiara
Rabu, 18 Mei 2011
Cinta Dalam Hati ( CIDAHA )
Selasa, 17 Mei 2011
Kaka Seorang Tentara

Guru adalah contoh bagi anak muridnya. Itulah pernyataan yang sering kita dengar. Namun tidak selamanya pernyataan itu berlaku. Ada kalanya justru guru lah yang harus belajar pada anak muridnya. Adalah Kaka, begitulah panggilan akrab salah satu anak didikku. Anak berusia 4 tahun ini dapat dikatakan sebagai salah seorang inspirator bagiku. Semangatnya untuk belajar sangat tinggi. Sebelum pintu sekolah terbuka, ia yang diantar neneknya telah menanti di depan sekolah, sambil menggendong tas bergambarkan Upin Ipin dan tempat minum di lehernya.
Aku selalu kalah cepat datang ke sekolah dengan dia. Di saat teman-temannya jarang masuk sekolah karena malas, ia nyaris selalu sekolah setiap hari. Datang selalu paling awal. Sakit pun selama ia masih bisa berjalan, ia tetap sekolah.Dia termasuk muridku yang manja namun sangat cerdas. Meskipun belum bisa membaca, tapi ia selalu bisa menceritakan buku-buku yang telah ia buka. Hampir setiap hari kata tanya kenapa dan apa terlontar dari bibir mungilnya, sampai-sampai terkadang aku tak mampu menjawab pertanyaannya. Ah terkadang aku malu padanya.
Semangatku masih kalah dari dia, terkadang aku datang terlambat. Dan terkadang aku juga malas mengajar. Tak hanya cerdas, ia sangat polos dan jujur. Suatu ketika pernah kutanyai ia apa cita-citanya, ia hanya berkata ingin seperti ayah atau kakek. Baginya, ayah dan kakek sumber inspirasi terbesar dalam hidupnya. Ia dengan ceplas ceplos menceritakan kehebatan ayah dan kakeknya ketika menunaikan tugas sebagai tentara dan polisi pengayom masyarakat. Bahkan ia tak segan-segan untuk menirukan aksi ayahnya saat menembak dan merangkak menghindari musuhnya. Membuatku terkekeh geli melihat aksinya. Lalu kulempar ia dengan sebuah bola dan menyuruhnya menendang bola. Ternyata, namanya saja yang sama dengan salah seorang pemain sepakbola Eropa, namun minatnya sangat berbeda. Malah ketika sedikit kupaksa menendang bola dan menirukan gaya Kaka, dia malah lebih tertarik dengan buku cerita yang kupegang sambil berkata “Kaka bukan pemain bola Ibu, tapi tentara…”
Aku hanya bisa tersenyum seraya bergumam... "Andai para pejabat negara memiliki semangat dan disiplin seperti dia tentulah tak kan kita dengar para pejabat yang kesiangan atau membolos. Dan andai juga para pejabat memiliki kejujuran seperti anak kecil, tentu tak kan ada istilah korupsi di negara kita tercinta ini. Seringkali kita tak menghiraukan apa yang ada dalam diri anak kecil, bahkan kita sering meremehkan mereka, padahal dalam diri mereka terdapat banyak pelajaran berharga yang bisa kita tiru. Anak-anak adalah tambang emas negara, mereka lah yang kelak menentukan nasib bangsa kita."
Semoga ada manfaatnya dari tulisan saya yang asal-asalan ini :D
Oleh: Yopi Megasari (Profile)
Senin, 16 Mei 2011
Bebas tapi Takwa

Lagi asyik-asyiknya membuat konsep untuk website Sumedang Design malah ada teman datang langsung mengajak shalat Jum'at. Padahal dekat masjid, seharusnya jalan kaki satu menit juga sampai. Tapi ini, temanku malah mengajak shalat Jum'at keluar. Ya sudahlah tanpa basi-basi aku juga oke-oke saja.
Kami berdua mengambil air wudhu dulu, kemudian berangkat ke Masjid UNPAD. Di jalan tau kenapa tiba-tiba ada polisi, padahal waktunya mau shalat Jum'at, dari logatnya polisi itu tidak sedang operasi razia tapi tetep saja menilang motor orang. Maklum jalan yang biasa dipakai ada porboden-nya, tapi kalo tidak ada polisi, aku biasanya lewat situ juga. Sekarang aku hendak melewati jalan yang di porboden itu, tapi tidak jadi setelah di depan ada polisi membentangkan kedua tangannya, arah motorku pun di putar balik, Kaburrrrrrr...
Berbalik arah dan mencari jalan yang lain hingga akhirnya sampai juga di UNPAD, dan motor pun kami parkir di depan masjidnya (Ya iyaalah, wong parkirannya juga di depan masjid, hahaha). Ketika masuk masjid lumayan sudah agak penuh, tapi kami pun berusaha menerobos dan mencari posisi sedepan mungkin, agar melihat sang Khatib.
Sambil berdiri menunggu adzan Dzuhur untuk shalat sunnah, terlihat di depan mimbar seseorang yang tidak asing lagi penampilannya. Mirip-mirip orang nomor satu di Jawa Barat ini. Setelah kami merenung sejenak ternyata ada benarnya juga, soalnya di depan masjid terlihat ada polisi berseragam komplit seperti pengawal. Di tambah lagi di tikungan tadi terlihat ada Polisi yang berjaga-jaga, seperti disengaja di pasang polisi di setiap sudut jalan menuju ke UNPAD. Ketika Khutbah pun, ada cahaya jepretan foto, seperti ada wartawan yang sedang memotret sesuatu, dan jepretannya pun terlihat beberapa kali. Dari situlah kemudian kami yakin kalau yang berkhutbah itu adalah bapak Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriyawan.
Sayapun mencoba menanggapi apa yang disampaikan beliau ketika Khutbahnya. Maklum pertama kali dengar Gubernur berbicara langsung, jadi ingin tau aja sejauh mana ia pandai berbicaranya.
Pertama, tentang kebebasan beragama. Kita sebagai manusia diberi kebebasan oleh Allah SWT. untuk menentukan jalan hidup kita. Kita diberi kebebasan sebebas-bebasnya di dunia ini. Tapi di samping itu, Allah juga memberikan petunjuk atau jalan untuk mencapai suatu kebenaran. Karena menurut beliau di samping manusia diberi kebebasan, Allah juga memberikan satu pilihan kepada manusia berupa kebenaran yang hakiki yaitu Islam. Silahkan manusia sekarang bebas sebebas-bebasnya di dunia ini, tapi nanti di akhirat akan menerima akibat dari perbuatannya itu. Maka dari itu, walaupun ada kebebasan dalam beragama tapi tetap di hadapan Allah Islam yang benar. Barangsiapa yang mengikuti kebenaran menurut Allah, yaitu Islam, maka dia akan selamat dunia dan selamat di akhirat.
Kedua, tentang dimensi ketakwaan. Dimensi ketakwaan juga dibagi menjadi dua bagian; Dimensi Professionalitas dan Moralitas. Keduanya tidak boleh dipisahkan jikalau bangsa ini ingin menjadi lebih baik dan bersih dari korupsi. Dimensi professionalitas mencakup pada kinerja seseorang yang sesuai dengan prosedur pelakasanaan dan dianggap benar menurut manusia itu sendiri. Sedangkan dimensi moralitas adalah cara kerja seseorang yang perilakunya benar dihadapan Allah SWT. Beliau mengambil contoh pada kisah di zaman Khalifah Ummar bin Khattab; Ada seorang pengembala muda ketika itu mempunyai ribuan kambing yang digembalanya, kemudian Ummar mendatanginya karena ingin tahu sejauh mana ketakwaan rakyatnya. Pengembala itu ditanya oleh Ummar; "Kambing punya siapa kah ini wahai fulan?", "Ini kambing punya majikan saya." Jawab si pengembala".
Untuk mengetahui kadar keimanan si pengembala itu, Ummar pun memberikan ujian terhadapnya. Ujiannya berupa pertanyaan berikut ini; "Bolehkah saya membeli satu kambing ini saja wahai fulan?", "Oh tidak boleh, ini kambing milik majikan saya dan saya hanya sebagai pegawai di sini" Jawab si pengembala. Ujian pertama telah lolos, kemudian dilanjut ke pertanyaan kedua, maklum kalau hanya satu soal kan bukan ujian namanya. Dan soal berikutnya pun tentunya pasti lebih sulit lagi. Ummar bertanya kembali; "Kalau begitu saya beli satu, dan kamu bilang ke majikan kamu kalau kambingnya hilang di makan serigala. Dengan begitu majikan kamu tidak akan tahu dan menganggap semuanya adalah sebuah kewajaran". Di dalam pertanyaan ini, si pengembali tidak lantas spontan langsung menjawabnya, maklum pertanyaannya agak berbobot dan bisa juga dianggap benar menurut professionalitas dalam pekerjaan. Begitu Ummar memberikan tawaran, ada tawannya yang menggiurkan ada pula bentuk penyelesaian yang bisa dianggap benar secara administratif. Dalam bentuk korupsi ini adalah bentuk korupsi yang bersih secara administratif kata Pak Gubernur tadi.
Kalau saya berani bilang sedikit menarik juga tuh tawaran Ummar, dan kalau diterima sah-sah saja kayanya menurut aturan manusia. Tapi apa coba jawaban si pengembala tadi; "Tapi tetap saya tidak mau menerima tawaran anda, ini kambing bukan milik saya dan saya hanya sebagai pegawai yang diberi tugas untuk mengembalakan kambing ini dan tidak untuk menjualnya". "Tapi majikan kamu tidak akan mengetahuinya?" Sahut Ummar. Si pengembala menjawab lagi; "Mungkin majikanku cuma punya dua mata dan tidak akan melihatnya, tapi kalau begitu mau di kemanakan adanya Allal itu?"
Hmm... Mantap juga jawaban si pengembala kambing tadi. Itu merupakan salah satu contoh bentuk ketakwaan yang memiliki dimensi Professinalitas dan Moralitas. Secara professional walaupun tawaran Ummar tadi dianggap benar tapi secara moralitas itu adalah bentuk kejahatan yang di pandang buruk oleh Allah SWT.. Maka dari itu jikalau bangsa ini ingin maju dan benar-benar bersih maka di dalamnya harus dihuni oleh orang-orang Takwa. Taqwa yang berarti memiliki dimensi professionalitas dan dimensi moralitas. Begitu sahut Orang Nomor satu di Jawa Barat dalam Khutbahnya tadi.
Jum'atan pun selesai dan kami keluar mesjid. Ekh ketika mau mengambil sandal ada ajudannya Gubernur tadi sambil bawa sandal, saya pikir itu sandal Pak Ahmad Heriyawan, kayanya takut di ambil orang jadi di pegang sama ajudannya. Tapi apa coba yang dilakukan ajudan Gubernur ketika ada dihadapan saya, matanya aneh sambil menaik-naikan alisnya beberapa kali, seperti menyapa saya dengan bahasa tubuh. So kenal so dekat geura uy abong ningali bengeut urang hareupeunana, wkwkwkwk. Karek apal mereun nya bengeut urang ganteng kieu, ckckckck. Surimmmmmm... Api-api teu nyaho ue akh asa haroream teuing urusan jeung nu kitu wkwkwkwkwkwkwk.
Oleh: Mamat Munandar (Profile)
Minggu, 15 Mei 2011
Rindu kepada Purnama

Helaan nafas beriring dahaga
Membuat hatiku tersayup bagaikan besi tua
Lelah kaki melangkah di jalan yang terjal
Bersimbah duduk di pelataran rumah suci Tuhan
Terluka dalam gelap gulana
Terombang-ambing oleh ombak setan
Dan terdongkrak oleh ketamakan
Aku mencari tempat persinggahan
Waktu tak main-main
Mata pun sayu dalam dekapan kesunyian
Di tempat yang asing bagi otakku
Aku berjalan tanpa arah melewati setiap lekukan malam
Rumah Tuhan yang kutuju
Mungkin di sana lah bisa kutumpahkan kelelahanku
Namun, tak satu pun rumah Tuhan terbuka
Mungkin Ia murka dengan keputusanku
Langkah kaki tak berhenti
Mencari selisik kebutuhan rohani
Di Rumah Tuhan yang ke empat itu aku berdoa
“Ya Rabb, apa yang harus kulakukan?”
Aku rindu pada purnama
Yang menggelontorkan cintanya untukku
Walaupun malam gelap seakan memakan bayanganku
Namun ia masih setia menemaniku dengan kekuatan cahayanya
Aku rindu pada purnama
Tawa dan candanya membuatku bahagia
Kadang kuberpikir untuk menyerah dalam perjalanan ini
Namun tekad bulatku memberengus semua inginku
Aku rindu pada purnama
Aku pernah berjanji menjadi sang kstaria
Namun pecundang yang sekarang sedang mengangkangi wajahku
Aku kalut dalam dekapan rindu
Wahai purnama
Izinkan sejenak kumeninggalkanmu
Untuk membina hati yang sedang carut marut
Untuk membinasakan jiwa kotor pemberengus jiwa
Wahai purnama
Tetap setialah menantiku hingga batas waktu yang kutuju
Akan kulakukan yang terbaik untukmu
Akan kuberikan kekuatan untuk memandangmu
Wahai purnama
Maafkan aku meninggalkanmu tanpa sepeser katapun
Namun aku yakin kau bijak menemani malam
Dan kau akan berdua denganku di mana pun aku melangkah
* Di tempat pengasingan diri. Puisi ini kupersembahkan untuk orang yang kucintai, dan kru website Nathiq, "Aku bersamamu Kawan!!!, sampai berhentinya nafas yang memisahkan kita"
Oleh: Adi Nurseha Saduki (Profile)
Selasa, 10 Mei 2011
Ijinkan Aku Bertanya

Selalu saja resah menjarah kenangan, setiap kali kubaca episode keresahanmu, yang sering kau samarkan di hadapanku, sadarkah kau sobat kau kini rapuh? Semua ketegaran batinmu yang dulu selalu memukauku dan yang lain, kini kau asingkan di ruang hampa, ruang di mana hanya dirimu, sekeping hasrat, dan kesedihan yang risih bercengkrama, adakah embun masih menetes pada pipi-pipi pecinta dunia, aku ingin bertanya padamu sobat, kenapa pekat seakan begitu melekat kini, tapi kerongkonganku seakan tercekat, hingga tak satupun kata terucap, dan aku hanya mampu terbungkam!!!
Di Sajadah. Aku bertemu. Aku berbincang. Aku mengadu. Aku menangis, di sajadah sejuta doa kupanjatkan, aku merindui, sosok yang selalu kubanggakan dan jadi inspirasiku untuk tegar, untuk selalu berucap, hadapi apapun aku mampu, karena pertolongan Allah selalu dekat dengan hambaNya. Achhh sesungguhnya aku membenci keluahan, kenapa? Masih jelas dalam ingatanku saat abang tertuaku ajarkan aku untuk kuat, dia pernah berucap "Keluhan dan rintihan hanya untuk perempuan, rengekan dan tangisan hanya untuk anak kecil" Kau bungsu, tapi ingatlah kelak kita akan menemui hidup masing-masing, karena esok adalah misteri,belajarlah yang bisa kau pelajari, selagi itu punya nilai guna untukmu kelak dan semoga untuk sesama juga jika bisa.
Sahabatku, kuingin kau kembali, tegar dalam sikap sempurna, biarkan kisah cintamu yang kandas, terbang bersama angin yang tak pernah letih berlari, bukankah Tuhan selalu menyiapkan ganti ganda untuk semua keikhlasan hati? Dalam satu jiwa yang ramah, adilkah jika cintamu padanya mengabaikan, cintaNya, cinta ayah bunda, cinta sahabat, cinta sesama yang menyayangimu tanpa berpikir meninggalkanmu, tanpa pernah bandingkan kau dengan yang lain, tanpa pernah ingin kau terluka dan kecewa. Lalu, di mana adilmu dulu? Seperti juga kau yang bimbang menakar hati, kenapa dirimu enggan mengukur perasaan?
Biarkan gelombang berpaut pada Laut
Nyanyian semilir dedaunan
Gesekan ranting yang sendu penuh makna jadikan sebagai tumpukan galau hati
Lelaplah dalam keheningan sepi.
Aku tahu sewaktu-waktu engkau datang ke tempat itu
Ke mana lagi, jika bukan membawakan hatimu
Mencari apa yang tidak engkau dapat
Bagimu di sana langit, pantai dan desiran ombak
Sebuah bulan kuning bertengger di atasnya
Pada malam yang di dekap rindu
Menggantung...
Jauh-jauh engkau mencari tanpa bertemu
Untuk apa? Sadarlah sobat dia bukan untukmu...
Padahal bulan itu bertengger di cela-cela hatimu
Bintang-bintang akan menemanimu sampai tiba di ujung perjalanan
Segala tanda dan kepahitan getir sebelum runtuh dan kehilangan
Tak perlu kujelaskan semua
Karena yakinku kau mengerti
Aku hanya berharap kau segera pahami potensi diri
Bukan ratapi semua yang telah berlalu pergi
Seribu maaf jika tajam kataku, dalam gunting waktu yang membabat semua tanya yang menyumbat kepalaku sobat, aku tak ingin selamanya terpendam diam, dalam gamangmu, dalam penghakimanmu seakan kutak pernah peduli atas lukamu. Jangan jadikan aku dan sahabatmu bagai pesakitan di kursi persidangan yang hanya menunggu ketuk palu keputusan, biarkan kami juga rasa saat kau kecap pahitnya kecewa, saat kau reguk manisnya bahagia. Terlalu banyak tanya yang tak bisa terjawab sendiri tanpa bisa diterka ada apa sebenarnya.
06/05/2011:1:40 AM
Inspirasi menulis, saat baca status sahabat"Ya Allah sungguh aku cemburu... :( ..." Simbolnya menandakan keresahan, tapi dia menelannya sendiri, lalu di manakah mereka yang mengaku sahabatnya? Saat sahabatnya butuh tempat berbagi, acuhkah mereka?
Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)